Featured post

Duka Suka Start-up dan Atasannya

Kayaknya saya ini orangnya suka kerja. Iya, kerja dalam arti bekerja di kantor, punya bos, punya teman sesama pegawai, terima gaji, makan-makan, kerja biar gajian lagi. Karena kesenangan ini, saya bisa berkompromi dengan mudah terhadap bidang pekerjaan yang saya jalani.

Misal: jaman kerja di media, saya bisa menikmati naik motor membelah Jakarta kepanasan dan kehujanan, nongkrong di kantor polisi berjam-jam demi menunggu kabar ada maling tertangkap atau ada arahan meliput berita penangkapan gembong narkoba. Pekerjaan yang menurut banyak orang keluarga saya bahaya luar biasa, saya lakoni dengan bahagia. Walaupun belakangan baru saya sadari, di luar dari kenikmatan saya bekerja di media, pekerjaan itu sebenarnya cukup berbahaya dan membuat saya positif dekil dan butek pada masa itu. Apa yang saya kompromikan? Bahaya.

Kompromi terbesar saya alami pada pekerjaan terakhir saya. Mari kita mulai (cerita yang panjang ini…)

Kerja di Startup

Bekerja di perusahaan rintisan atau “startup” atau “start-up” sepertinya sedang jadi tren di kalangan anak muda, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Pakaian casual dan gahul, masuk siang-pulang cepat, kantor cakep, ada tempat main plus kantin, temennya muda-muda, weekend mabu-mabuan. Jika ini mewakili tempat kerja kalian saat ini, sama. Ini situasi tempat kerja saya terakhir (terkecuali bagian masuk dan pulang). Seru!

Namun, di luar ena-enanya, kalau kamu punya teman yang bekerja di perusahaan berjenis ini, mungkin kamu akan mendengar juga sisi lain perusahaan pemula. Mulai dari betapa cepatnya pergerakan di sebuah startup, betapa bedanya budaya kerja di tempat ini (apalagi jika sebelumnya kamu sudah punya pengalaman bekerja di perusahaan konvensional atau “normal’), betapa tidak ada birokrasi ribet untuk berdiskusi atau meminta approval atasan, apalagi kalau atasan kamu adalah orang asing. Banyak hal-hal baru dan berbeda yang pekerja startup dapatkan selama bertempat di kantor ini. Kamu merasa sama? Iya, saya juga, di tempat saya terakhir.

Atasan sekaligus pemilik perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah orang asing. Gaya kepemimpinannya beda dengan bos kebanyakan – paling tidak dengan bos di perusahaan saya sebelum-sebelumnya. Namun, saya akui, kepintaran akademiknya juga melampaui atasan di perusahaan saya sebelumnya. Ia punya cara memimpin perusahaan yang sangat berbeda dari cerita-cerita teman saya yang bekerja di tempat lain. Visi, misi, dan ambisinya tak terbendung. Menurut saya, karakternya ini yang membuat perusahaan itu bisa maju dengan cukup pesat di tengah persaingan di industri serupa.

Dua tahun bekerja di perusahaan ini meninggalkan banyak kesan untuk saya. Ilmu excel saya yang terbatas pada SUM, IF, dan COUNT, berkembang 2-3 lipat karena kewajiban mengolah dan menganalisa data yang perlu dikerjakan setiap hari. Kemampuan mengarahkan dan memimpin tim kecil juga saya banyak pelajari dari tempat ini karena dalam hitungan bulan saya mendapatkan tanggung jawab yang besar dan bertambah besar. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk urusan bisnis juga sedikit banyak terasah berkat keharusan berkoordinasi dengan atasan maupun rekan kerja di negara lain setiap hari. Yang terakhir, referensi mengenai jenis emosi baru dan kemampuan mengendalikan emosi yang betul-betul sangat terasah.

Dulu, saya orang yang lemah, mudah terharu, mudah tersinggung, mudah menangis. Hati saya mungkin serapuh kerupuk putih yang kalo dibiarin di ruang terbuka dalam 6 jam, langsung ‘masuk angin’. Berbeda dengan atasan saya yang bersifat keras, cepat, dan keras. Haha. Saya tiba-tiba blank mendiskripsikan karakternya.

Keras secara harafiah, karena ia bisa berbicara dengan suara keras dan punya pendapat dan pemikiran yang keras. Cepat, karena ia punya tenggat waktu yang sangat pendek untuk setiap hal atau proyek yang ia ingin wujudkan. Kalau perusahaan normal memberikan waktu riset selama 1 bulan, mereka yang pengen cepat mewajibkan maksimal 2 minggu, nah atasan saya ini hanya memberi waktu 4 hari. Keras satu lagi adalah yang metafora. Kata-katanya keras, sekeras bisa membuat orang yang mendengarnya retak secara mata, hati, dan telinga.

Tanda-tanda

Saya masih ingat hari pertama masuk kerja. Saya diikutkan manajer saya dalam meeting yang membahas laporan mingguan dengan berbagai frase dan istilah yang tak saya pahami sama sekali. Atasan saya menganalisa laporan tersebut dalam hitungan menit. Cepat. Saya pun terpana dengan staf yang sedang memberikan laporan karena mampu menjawab pertanyaannya dengan cepat. Sampai kemudian, kata F ia lontarkan di sela-sela kalimatnya seraya tersenyum dan tertawa. “Biasa, bule,” pikir saya waktu itu.

1 bulan berjalan, 3 bulan berjalan, 9 bulan, berjalan, terjadi dengan ritme kerja yang serupa dan sifat atasan yang serupa. Keras, cepat, dan keras. Saya lihat dan amati bagaimana manajer saya menghadapi atasan saya ini. Sesekali saya kasihan pada manajer, tapi tidak bisa juga berbuat apa-apa. Sebagai pekerja yang taat, saya hanya mengupayakan pekerjaan saya berjalan dan selesai dengan baik.

Memasuki awal tahun kedua, saya diberikan tanggung jawab baru. Manajer saya pindah dari perusahaan ini. Oleh karena jumlah tim yang memang tidak banyak, saya pun secara tidak langsung didudukkan pada tanggung jawab manajer. Berita bagus pada masa itu, yang sekaligus menghantarkan saya ke posisi langsung di bawah atasan saya ini.

Bulan demi bulan berjalan. Di sela-sela ABCDEF yang terlontar setiap hari kepada saya, saya tetap berusaha untuk menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari atasan saya. Saya jadikan semuanya sebagai pacuan supaya saya terus maju bak kuda di medan pertandingan. Hasilnya, ada. Tanggung jawab semakin besar kemudian disodorkan lagi kepada saya. Tentu saja saya terima dengan senang hati. Tantangan, kesempatan, reward, untuk apa yang saya kerjakan selama ini. Termasuk pula kepindahan saya ke Bangkok pertengahan tahun lalu.

Selesai

Sampai pada satu titik, saya merasa cukup. Hati saya merasa cukup dengan kompromi. Pikiran saya pun sepakat untuk berhenti berkompromi. Persatuan keduanya membuat saya memutuskan untuk menghakhiri perjalanan saya dengan perusahaan ini, dengan lapang dada dan rasa lega.

Lapang dada untuk meninggalkan kemegahan dunia startup dengan kantor cantik, kantin penuh makanan, weekend penuh minuman, dan kawan berkeluh kesah (yang kemudian menjadi kawan baik).

Lapang dada juga untuk menanggalkan kekerenan berkomunikasi dalam bahasa asing setiap hari, wara-wiri memanfaatkan teknologi Google tanpa batas untuk koordinasi lintas kota dan lintas negara setiap hari, lapang dada juga untuk melepaskan posisi tinggi yang mungkin berpotensi mengantar saya ke tempat yang lebih tinggi dan lebih jauh lagi.

Setelahnya, saya alami rasa lega yang luar biasa bak memandangi laut lepas tanpa kapal yang sedang diam, pun burung yang terbang, kecuali angin yang berhembus dengan dingin dan pelan.

Lega karena bisa kembali pada kehidupan layaknya kelas pekerja pada umumnya yang bisa berangkat sesaat setelah matahari mulai panas, dan pulang bersama mereka yang terkena macet parah karena semua orang pulang. Lega karena bisa menikmati Jumat malam dengan bahagia karena Sabtu dan Minggu libur. Bukannya terbebani setiap setiap Sabtu dan Minggu karena teringat bahwa 2 hari ini akan segera tergantikan dengan 5 hari panjang dan begitu seterusnya. Lega karena lebih sering membuka Twitter dan Instagram daripada Email, bukan sebaliknya, khususnya di akhir pekan. Lega karena bisa mendengar dan berbicara dengan bahasa layak dan memanusiakan manusia.

Lega karena bisa kembali menjadi manusia dan individu yang dihargai. Bukan aset seseorang. Bukan investasi seseorang. Bukan alat seseorang.

Penutup

Singkat cerita, perjalanan saya dengan perusahaan yang saya sempat anggap “rumah” ini tidak berakhir bahagia seperti novel remaja. Banyak kejadian yang membuat hati kerupuk saya betul-betul masuk angin bahkan jamuran. Toples kompromi saya selama 2 tahun penuh rupanya terisi sangat penuh dan langsung mbludak di hari-hari terakhir saya di kantor itu.

Pasca berhenti, beberapa efek kurang baik terjadi pada diri saya untuk beberapa waktu. Saya menjadi sangat skeptis dengan orang asing. Saya skeptis dengan orang pintar. Saya skeptis dengan orang yang menunjukkan tindak-tanduk suka mengintimidasi. Bahkan, mendengar dan mengingat cerita selama 2 tahun bekerja pun bisa dengan mudah menyentil memori masa kerja.

Namun, saya sadar apa yang saya alami sebelumnya adalah pilihan, bukan paksaan. Pilihan yang tidak saya boleh sesali. Ilmu yang saya serap masih sangat bermanfaat untuk pekerjaan saya saat ini. Saya tidak menyesal pernah mengemban beragam tanggung jawab selama bekerja, termasuk bekerja dengan mantan atasan dan segala ke-tidakmasukakal-annya. Bahkan dengan toples yang sudah pecah itu pun, saya tidak menyesal. Paling tidak, 2 tahun saya belajar mengendalikan emosi, atas nama tanggung jawab. Hati kerupuk putih saya pun kayaknya udah jadi kerupuk udang yang nggak lagi loyo semudah itu..

Penutup beneran

Tulisan ini saya buat untuk menggenapkan keinginan saya untuk berlapang dada. Sekaligus berbagi cerita untuk kamu, yang saat ini bekerja di lingkungan kerja yang menurut kamu, menyimpan sesuatu yang mengganjal. Untuk cerita saya, tentunya dalam korelasi dengan atasan.

Kompromi dengan situasi pekerjaan yang pastinya tidak serba enak itu perlu. Saya percaya, kesetiaan dan waktu kamu bekerja di satu perusahaan menunjukkan kamu adalah tipe individu seperti apa. Apakah: setia, bosenan, atau sosok yang ready to die for (the company). Yang pertama dan terakhir tentunya yang paling diincar.

Tapi, jika ganjalan yang kamu alami adalah sesuatu yang betul-betul secara objektif sangat mengganggu (ceritakan kondisi kerjamu pada orang yang betul=betul bisa objektif memandang sebuah situasi), ada baiknya menimbang ulang kelanjutan kamu di tempat tersebut. Jangan sampai, pilihan kamu untuk bertahan malah menjadikan kamu sangat terbebani. Iya, itu cluenya. Kalau kamu sudah sangat terbebani tiap hari Minggu karena Senin bekerja lagi (bukan karena males bangun pagi ya), timbang ulang keputusan kamu untuk bertahan.

Saat ini, hati saya belum sepenuhnya beres dengan pengalaman tersebut. Tapi saya sedang mencari cara. Mulai dari bertemu kembali dengan kawan-kawan di perusahaan lama, mendengarkan cerita mereka, memberikan mereka semangat agar mengambil keputusan terbaik. Termasuk juga dengan menuliskannya. Mudah-mudahan yang terakhir ini berhasil.

Ingat, bekerja itu penting. Kompromi dalam pekerjaan juga penting. Tapi, keberadaan kamu sebagai manusia juga penting. Kalaulah bekerja membuat kita menjadi kurang manusia, apakah pilihan bijak untuk terus bertahan?

Testimoni

“Alhamdulilah. Bangun tidur nggak baca email aneh-aneh lagi. ~”

“Ga pernah tau kalo duduk lama di Dunkin stasiun bisa se-tenang itu. I’m happy!”

“Di kantor dulu makanannya pake prasmanan, dari cevbrulee, lasagna, salad ala fremante bregete, atau bahkan spaghetti ala dionetremeregesehe, tapi semangkuk opor ayam buatan ibuk tiada dua rasanya ya Rabbana”

“Akhirnya bisa hidup normal, bangun normal, olahraga normal.”

Menghargai Perbedaan, Sudah?

Dari dulu, sikap ini didengung-dengungkan ke kita yang tinggal di Indonesia. Pesannya, ini wajib diamalkan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Tapi, udah dijalanin belum? Sejauh mana sudah kita jalankan, 20 tahun setelah kalimat ini pertama kali kita dengar? Iya, kalau kita seumuran. 

Waktu SD, guru PPKN saya yang mengenalkan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, “berbeda-beda tapi tetap satu juga”. Ribuan suku bangsa Indonesia hanya bisa bersatu dengan filsafat ini, kata beliau.

Memasuki tingkat SMP dan SMA, kita mulai didorong untuk mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika. Pergaulan semakin luas. Bentuk manusia yang ditemui semakin beragam. Bhinneka Tunggal Ika sangat penting, sebab ia adalah landasan agar bangsa yang terdiri dari ribuan suku ini, dapat tetap kokoh dan kuat. Demikian kata Pak Guru, dan ahli-ahli di televisi.

Di masa kuliah dan bekerja, kepiawaian menghargai perbedaan diuji ke ranah yang lebih luas. Senior harus menghormati junior yang beda, bawahan harus menghormati atasan yang beda. Intinya, semua orang punya hak dan kewajiban yang wajib dihargai dan dikerjakan, apapun kemasannya. Memasuki level ini, bagi beberapa dari mereka yang betul-betul menjalankan, “Ika” menjelma menjadi “Cinta” (mencintai yang berbeda?).

Untuk orang kayak saya yang lahir, tumbuh dan besar di lingkungan yang banyak orang sebut sebagai kaum ‘minoritas’ (yang mana nggak saya sukai sebutannya), sikap bersatu dalam perbedaan masih jadi sesuatu yang (kadang) mengganjal. Merasa bahwa orang yang berbeda secara warna kulit, rambut, bahasa, adalah sama dengan kami, bukan hal yang mudah dilaksanakan. Entah itu karena cerita masa lalu yang dialami sendiri oleh mereka yang lebih tua, atau mungkin dari ajaran yang didengar dari orang-orang dekat sedari kecil, ada saja hal yang membuat rasa satu dalam kebhinneka-an, susah dijalankan.

Untuk orang kayak saya yang entah gimana ceritanya dari kecil malah justru sangat sering nyemplung dengan orang beda ras, suku, dan agama, saya sering menghadapi keadaan penuh dilema. Perbedaan yang saya rasa tidak perlu dipermasalahkan, kemudian dimasalahkan. Kesamaan yang bisa saja melahirkan perbedaan, kemudian dikatakan “yang penting sama”. Siapa yang benar? Abu-abu.

Lingkungan terkecil saya punya hubungan hitam putih dengan kebhinneka-an. Putih karena banyak dari bagian kami yang menyatu dalam perbedaan. Hitam karena sebagian lainnya juga menolak perbedaan, bahkan mereka yang sebenarnya juga telah menyatu dalam perbedaan.

Ingin rasanya mengubah, tapi tidak mudah.

Akhirnya, saya memilih untuk mencoba memahami.

Beberapa bulan ini, tinggal di kota baru yang punya tradisi dan budaya sangat berat pada salah satu kepercayaan di tanah air, membuat saya sedikit memahami keengganan dari mereka yang “sama” dengan saya, terhadap janji Bhinneka Tunggal Ika yang ditanamkan guru SD saya. Keinginan untuk menjadi “satu” sering terusik karena kenyataan kurang menyenangkan, yang membuat pikiran dan hati kembali merasa “Mereka memang beda. Kita memang beda“.

Lagi-lagi, ingin rasanya mengubah dan membuat perubahan. Dari mana? Saya belum tahu. Kalau kamu ada ide, saya ingin ikut serta mewujudkan mimpi ini.

Yang jelas, sepertinya kunci untuk bisa menjalankan Bhinneka Tunggal Ika dengan seutuhnya adalah dengan merasa bahwa saya adalah satu dengan bangsa ini. Bukan minoritas, bukan mayoritas. Gampang? Enggak. Susah.

Dalam satu bincang sore dengan kawan, ia bergumam “How beautiful this world must be, if all just respect each other”. Ungkapan yang terucap saat harapan kami mulai redup membahas apakah perubahan akan terjadi.

Kalaupun mimpi itu belum bisa saya wujudkan, mudah-mudahan mereka yang umurnya 20-30 tahun lebih muda dari saya, kelak bisa hidup dengan lega dari pagi menjelang ganti hari, karena lapisan perbedaan semakin menipis, konflik karena perbedaan semakin berkurang, dan menjadi berbeda itu tidak apa-apa.

Berita disampaikan sebagai berita. Orang jahat disiarkan sebagai orang dengan perilaku jahat. Bukan karena bentuk rambut, warna kulit, gaya berpakaian, pilihan orientasi seksual, dan lain-lain. Demikian juga kabar baik tentang orang baik.

Sebab urusan benar dan salah, tidak ada urusannya dengan “kamu kaum apa?”.

First Day Being a Student in China

About a year and a half ago, I saw Maudy Ayunda’s story in her Youtube about her life in Oxford back in 2016. I loved it very much. (It’s long before she’ll know and announced her dilemma over Harvard and Stanford just today). I’m not a fans, but her kind of story of her life, the college library, the time she visited the market, riding the bicycle, were kind of stories that made me dreamt of going abroad for study also, back when I was in high school (beside working).

I had applied for a master scholarship (all deadly went for universities in America) for more than 5 times since I was in the year end of my college. Unlike how Maudy ended up with her submissions, I didn’t pass any. Some applications, my brother noticed. Yet many, they didn’t. Until one day, my brother offered me something. “You could go to China to pursue your dream to study abroad,” he said. “And to learn Chinese”, for sure.

Though it wasn’t a country I dreamt of for living, I, of course, took his offer gratefully. After many asking, researching, and surveying, I made my choice for when and where to go.

Long story short, I landed in Guangzhou, China, right few days before today, 4 years ago.

The day I arrived was closed to the end of winter in the southern part of China. Although we’d been told and prepared for a jacket, the cold still bite me a bit. About 15 of us were led by one teacher from Indonesia who was previously student in the university we were going to attend. So, he guided us all the way once we landed in the airport to the dorm.

First Day Being Student in China

Sun Yat Sen University was the place I chose. After getting many offers from the agency, Sun Yat Sen University (SYSU), is located in Guangzhou, won my heart.

First reason was that many said it has less Indonesians students (sometimes this is a thing you will and need to consider when studying abroad – although some preferred the other way). Second, I was bought with the university brochure where the campus looked very nice and green. Last but not least, SYSU is on the top rank of top 3 universities in southern China. So, I had no doubt. Guangzhou, I chose, for I didn’t want to stay in too metropolitan city like Shanghai (because it’s expensive). Just like my previous reason to choose Surabaya over Jakarta, that’s how I ended up with Guangzhou instead. 🙂

With my intention to study Chinese, I attended The School of Chinese as a Second Language (SCSL) for one semester. This was an intensive program attended by foreign students who want to learn specifically for Chinese. Not only that China population was 1,37 billion alone that year, portion of foreigners who study in this university were also big. From Monday to Friday, almost 6 hours a day, we learned speaking, writing, and listening to Chinese so reading sometime like this wasn’t a problem 4 years back, until tonight. Any of you could read? I believe there was no secret written here.

First Day Being Student in China

Sun Yat Sen University isn’t located in the suburb area (as I thought of most universities were located). Instead, it’s located in one crowded area not far from the central city. Just accros the campus, lies a trade market where many people from Africa, India, and even Indonesia bought wholesale stuffs especially clothes, and did the delivery just at the same location. One stop shopping, I called. Just like a common campus area, it has also many restaurants nearby and of course McD.

The campus itself, was in one big area. Every building looked so pretty and reminded me of the French building style with a lot of bricks. Trees were everywhere. Many students were walking on the pedestrian because car wasn’t allowed to pass the university area, except for a bicycle. Were you reminded of University of Indonesia? Because it’s pretty much alike.

First Day Being Student in China

My dorm was about 5 minutes walk form the main entrance. While dragging my big orange luggage, I’d imagined how my life would be when the school started (that I couldn’t wait!).

Once we got the dorm and spoke to the receptionist, the teacher led us to the room we’d booked in advance. I got a room with Sherly, a very active girl from Jakarta who was 6-7 years younger than me. For you to know, I was the oldest among the group. That’s why, weeks after, everyone in my Indonesian group called me “jie-jie (姐姐)” or older sister in Chinese. What a title! 🙂

Our room was in the second floor, only two rooms before the corner room. The building was quite old room and so did the dorm, but for me, it came with a sensible price we paid. This building had total of 4 floors with perhaps 70 rooms. I remembered settling my luggage to my bed after picking up my side, on the left, and Sherly on the right.

First Day Being Student in China

There was a small alley In front of my room where I could stand and saw a small garden lied in the middle of this square building. There were two public kitchen, on the first and third floor. That afternoon, sitting in one of the table, a couple who were reading to a book, perhaps for studying. Next to a security post in front of the building, there’s a small shop where we ended up buying coffee after the class or ice cream on the lunch break in the following days.

Few days later, our teacher told me that there was a traditional market about 15 minutes away from our place. The place was then become our favorite place to go almost every day and night for a good food, cheap bedroom and bathroom stuffs, and of course delicious desserts.

I still can feel the cold on the first day I had when I first stepped down the airport, and so did the happiness on my first week in this country. While digging up the old photos in my desktop to put in the blog, I can’t stop smiling remembering how the picture was taken back then. I have many memorable stories of my living in the most populous country on earth.

First day just started and I knew the moment that this ride would be fun!

First Day Being Student in China

***

March 2, 2015

First Day in Bangkok

It was one fine morning. After few hours of sleep, I finally got through my first night in Bangkok in peace. Though the flight arrived Bangkok past midnight the night before, I was glad that the room arranged for me was a nice one (clean and white). At least I could save some energy to just put all my luggages aside before unpacking them tomorrow.  

This would be my first day working as an ‘expat’, or that I prefer to call “an overseas worker”. Yes, the kind of life I dreamed of since I watched Sex and The City eleven years ago. Ever since, I’d been wanting to work a ‘proper’ job overseas. It wasn’t like I didn’t appreciate people choice to go abroad and try working at the restaurant or Starbucks. For my wild dream that time, I just thought of working in an office once I finished university, holding a cup of Starbucks on my way to the office every morning, stepped into the elevator where everyone dressed up nicely, and walked in confidence as Ally McBeal’s moment where the Barry White song was playing. So, it had to start from the work in the office.

Now, here I was. Starting that life, today. The day I would remember. The day that started my new life all the way through to this day. 

First Day in Bangkok

The room I got was a 7 floors building. It wasn’t an apartment. People here called it “residence”. In Indonesia, it’s like a premium boarding house you could find in Kuningan area 5 times more expensive than normal rooom. My room was on the second floor just a few rooms after the elevator. This, I’d planned to to just take the stair rather than elevator.

First Day in Bangkok

I woke up early that day. Dressed up as how I usually was in Jakarta; in long pants, shirt, flats, and my tote bag. Only this time, I chose to walk. My friend has told me before that the office was only 1.3 km away form my place, so it was under my walking distance. 

8.45am, I stepped out from the house, greet the security by bowing my back a bit. I wish I could say “good morning” in Thai, but too bad I couldn’t. So, I just smiled. He smiled back at me. “He looked nice,” I thought. Which opinion turned out right, after my last day in this house. 

First Day in Bangkok

The environment around my building was also nice. There were one old apartment next to my building, a small cafe, and 2 (turns out to be a famous) Japanese dining restaurant. Trees were planted along the way. I took about 200 meters to reach the front of the small alley. Next to my alley, there was Starbucks (where I ended up buying 1 cup of coffee only for my whole staying in that house), and Big C – a big supermarket chain in Thailand (that became my first and only stop after late night office hour).

First Day in Bangkok
First Day in Bangkok

I kept on walking. Perhaps it’s because that was a Monday morning, so the traffic was quite jam. Motor, car, taxi (not a taxi like ours, I’ll show you later), were all over the street. Even it was only 1+ km distance, I’ve met 3-4 traffic lights along the street. There were also 3 Seven Eleven shops and small restaurants on the left and right side of the street. This was indeed a crowded area (again, my friend has told me this). A first thing I noticed that made this place was different than Jakarta, people were driving in silence. No horn, no people shouting, only the motorbike who tried to rule the world but cutting left and right – this one made them the same as Jakarta or other cities in our country. 

First Day in Bangkok

After 15 minutes walk, here I was. Arrived at my office located in one tall building, with over 30-sh floors.

First Day in Bangkok

I smiled again. I was so ready to start my first day in Bangkok. Living my dream from real, as an overseas worker. 

19 March 2018

Pindah ke Kota Baru

Udah 3 bulan terakhir saya pindah ke tempat baru. Kali ini, kembali ke Kalimantan. Tapi bukan Kalimantan Barat, kota asal saya. Melainkan Kalimantan Selatan.

Kepindahan ini saya jalani dengan satu pengertian, pemahaman, dan semangat bahwa : saya pindah untuk kerja. Jadi, apapun situasinya, saya harus menikmati semuanya. Toh saya sudah menghabiskan 8 tahun terakhir bekerja di luar kota, sendiri. Dengan segala susah-susahnya, saya bertahan. Karena kali ini saya pindah ke kota yang membuat saya (sangat) dekat dengan keluarga saya, maka saya tidak boleh mengeluh. Camkan baik-baik, Vinny! Haha.

Atas pemikiran itu, saya mencari cara untuk semangat dong. Ibaratnya, kalau di Jakarta yang macet itu saya bisa senang, masa’ di kota yang macet paling lamanya cuma 3 menit, kamu nggak bisa senang?

Nah, hari ini saya senang banget. Mungkin salah satunya karena pagi tadi ada acara di rumah, yang bikin saya semangat sampai malam ini. Lalu di sela-selanya, saya ke sekolahan ponakan juga ngeliat mereka nari-nari. Sebelum ke sekolah, saya ke 2 kawinan. Yang pertama, kawinan anak kantor. Yang kedua, kawinan temennya temen abang, yang… bikin saya senang!

Ceritanya, dua kawinan ini dilaksanakan di rumah. Saya nggak bilang di perkampungan sih, karena posisi rumahnya di kota. Hanya saja, di gang kecil. Jadi, satu gang diblok untuk acara kawinan. Kawinan pertama, normal saja. Tidak ada yang spesial (kecuali buat yang kawin :D). Yang kedua, ini…

Motif perginya pun agak kurang jelas sih. Abang saya, yang memang kadang suka random, tiba-tiba ngajakin ke kawinan temennya temennya. Begitu nyampe di lokasi acara yang di dalam gang itu, kita disambut 2 penyanyi yang asik dangdutan. PLUS, tamu-tamunya yang ikut joget dong. Seru! Lalu, kita berdiri sebentar sambil ngeliatin orang nyanyi, plus nungguin abang ngeliatin apa ada temennya.

Tetiba, DHUAR!

Bhok, kita berdiri persis di samping speaker. Bisa dibayangkan lah soundsystemnya acara dangdutan. Saya dan abang ketawa ngakak. :D. Lalu, jalan lagi ke dalam, celingak celinguk. Bentar-bentar, berhenti. Nyariin temennya. Sambil moto dan vidio-in suasana orang joget-joget.

Setengah jam berlalu, nggak ada satupun orang yang abang kenali. Bahahaha. Alhasil, kita pun pulang dengan kenalan hampa, karena nggak ada yang dikenal. Saya pulang mengantongi video dan foto dangdutan sambil senyum dalam hati.

Intinya sih, saya cuma mau bilang hari ini saya senang. Dari hari pertama tiba di kota ini, hari ini baru saya betul-betul ngerasa senang satu hari penuh. Senangnya, tulus gitu loh. Gimana ya jelasinnya. Haha. Mudah-mudahan kamu juga pernah ngerasain.

Sambilan itu, saya share ya foto-foto dangdutan tadi! Agak kurang bagus nih fotonya sebab jauh dan padat. Coba liat deh, baru kali ini ngeliat sampan dijadiin tempat buah – ada di foto. Kreatif!

Plus, ketemu mobil ini di sekolahan anak-anak!

Pink ride

My happiness score today = 9,5/10!