All Vinny  

Nikah

Bagi saya, mereka (baik laki-laki maupun perempuan) yang akhirnya memutuskan untuk menikah, adalah seseorang yang betul-betul sudah dewasa. Kalau main game, ibaratnya keputusan menikah itu bernilai combo atau jackpot yang scorenya berkali-kali lipat dari tahap biasa. Apapun alasannya; terpaksa, dipaksa, cinta, takut tua, dan sebagainya; bagi orang kategori ini orang-orang yang… hebat.

Pikiran ini muncul beberapa tahun terakhir setelah melihat satu demi satu teman jauh maupun dekat, menikah. Ada yang jauh lebih tua daripada saya, seumuran saya, atau jauh di bawah saya. Begitu tahu mereka menikah, saya langsung merasa mereka lebih dewasa dari saya. Mungkin tidak secara usia, tapi jelas secara mental.

Selama ini saya merasa bahwa nikah itu bukan sebuah keputusan mudah, apalagi setelah membayangkan kehidupan setelah pernikahan, dan segala macam cerita yang mungkin terjadi setelah orang nikah. Saya semakin yakin, orang yang akhirnya nikah itu nggak mutusin nikah dengan seenak jidat. Jadi, ketika akhirnya mereka siap menikah, mereka punya kedewasaan yang jauh melebihi kita-kita yang belum menikah. Memang betul ada yang bilang bahwa ketakutan itu nggak usah terlalu dipikirin karena semua akan jadi lebih mudah setelah dijalani. Tapi, buat saya, untuk urusan nikah peribahasa ini jelas tidak berlaku. Kalau belum dijalani aja udah susah, gimana setelah dijalani.

Belum lagi kalau ngomongin pasangan yang dinikahi. Waduh. Melihat orang yang akhirnya menikah dengan pacar yang sudah dikencani bertahun-tahun saja buat saya masih jadi keputusan besar. Apalagi, melihat orang yang menikah bukan dengan orang yang betul-betul disuka, alias karena dijodohkan. Wah.

Kesalutan saya ini mungkin karena pikiran yang melihat bahwa banyak hal yang akan berubah setelah pernikahan. Status jelas berubah. Tanggung jawab apa lagi. Batasan hidup pun berubah. Tuntutan ย semakin banyak. Memang betul, dengan menikahi orang yang tepat, semua akan terasa lebih ringan. Tapi… Tetap saja.

Menikah adalah keputusan besar dalam hidup. Salut untuk semua yang akhirnya meletakkan tangan, hati, dan pikirannya, untuk mengatakan ‘ya saya siap‘ untuk meneruskan hidup dalam bahtera pernikahan yang resmi bersama pasangannya. Jangan heran, setiap lihat orang nikah, saya bener-bener bawaannya pengen manggil dia kakak, atau tante, karena merasa mereka ini layak ‘dihormati’ karena keberaniannya.

Termasuk juga untuk sepupu dan kawan baik saya ini yang tanggal 18 Juni lalu melangsungkan pernikahannya di kampung halaman saya. Saya tahu betul kisah mereka yang naik turun pontang panting mendekati kisah-kisah yang kesinetron-sinetronan. Melihat mereka akhirnya SAH sebagai suami istri (ihiy!) masih bikin saya campur aduk antara terharu, senang, deg-degan, penasaran abis ini jadinya gimana.

Saya paling senang datang ke pernikahan yang pengantinnya tegang tapi happy tapi kelihatan senang. Meskipun saya cuma melihat penampakan kedua orang ini dari foto saja, saya yakin mereka berdua senang dengan perayaan penuh kesan hari itu.

Singkat kata, selamat Daniel dan Lina untuk pernikahannya!

Saya panggil kalian “kakak” ya mulai sekarang! ๐Ÿ™‚

Daniel & Lina.jpg
Fotonya AdiAdi

Dicari, yang nggak bikin takut nikah.

0 thoughts on “Nikah

  1. Lauren

    #ngagpengenapah?
    #menggelitik
    #sudahbolehkatanya

    Hug hug

    1. vinnydubidu

      Yaya gimana gimana ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

  2. nyonyasepatu

    Karena maunya hanya sekali seumur hidup jadi emang harus dipikir baik2 ya menikah ini

    1. vinnydubidu

      Betul banget Mba. Biar lambat asal selamat (tapi jangan telat2 banget kalo bisa ๐Ÿ˜‚)

  3. […] ini, 3 September 2020, waktu setempat, saudara saya punya anak! Saya pernah nulis cerita tentang pernikahannya di sini. Yang ternyata, udah 3 tahun lalu […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: