19 Maret 2018

Starting a new path in life at the edge of 29 can be good and bad things. This depends on who you are and what goals you’d like to achieve in life.

29 sudah terlalu tua… 

I’m living in a society where people take 29 as a VERY mature age (alias tua bingits!). Lingkungan ini melihat dua sembilan bukan sebuah angka yang harus dilalui dengan penuh ‘hura-hura’ (baca: mengejar karir, menjalani hobi, mengambil kuliah S2, dan sejenisnya). Apa yang patut dilakukan mereka yang berusia demikian? Settling down, tapaki tahap “selesai” dengan urusan karir, lupakan segala yang bersifat untuk kesenangan semata dan fokuskan kehidupan pada… jodoh.

29-lah waktunya berbuat!

Di saat yang sama, saya juga berada di lingkungan yang dengan penuh keyakinan bahwa inilah waktu paling tepat untuk melakukan segalanya. Satu tahun sebelum 30. Satu tahun sebelum semuanya menjadi semakin serius dan berat. Satu tahun sebelum menapaki kepala tiga. Usia matang-matangnya seseorang dengan karir. Usia untuk menentukan mana jodoh yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilepas.

29 versi saya

Adalah: waktunya untuk memanfaatkan segala waktu, kesempatan, keinginan, semangat, dan tenaga dengan maksimal. Iyes, lebih baik detik-detik menuju 30 ini diukir dengan sesuatu yang akan bernilai untuk saya. Sekalipun babak belur sana sini, versi saya menyebut fase ini harus dijalani dengan sungguh sangat baik.

Atas nama itu, saya pun tiba-tiba udah nggak di Jakarta aja. Tadi sore dalam perjalanan pulang dari kantor, tiba-tiba saya dan teman berucap, “Eh udah di Bangkok aja nih kita!” 

Banyak ucapan doa, selamat, turut bahagia, hingga kaget, yang datang dari teman-teman sekitar. Ada juga yang bereaksi biasa saya karena merasa “29 sudah terlalu tua untuk urusan begituan. Mendingan yang pasti-pasti aja.”

Untuk mereka yang memberikan guyuran doa dan kangen pada saya, saya senang sekali. Semua lontaran dan respon yang kalian berikan menjadi asupan energi positif setiap kali saya memikirkan daftar demi daftar hal yang perlu diselesaikan selama masa tugas ini. Sekaligus juga asupan energi untuk menetralisir kenegatifan yang muncul juga akibat hal ini.

Untuk yang terlalu kangen dan berharap saya tidak kemana-mana, maaf. 29 adalah waktu untuk berbuat. Waktu dimana fisik dan mental saya berada dalam kondisi paling prima. Waktu dimana segala sesuatu wajib dilakukan dengan baik agar tidak meninggalkan sesal di masa depan. Waktu untuk memilih apa yang bisa saya lakukan dan perbuat untuk hidup saya, tanpa merugikan siapa-siapa.  Waktu untuk bertindak sedikit melewati pakem yang ada, demi mengukir 29 yang lebih baik.

IMG_4752.jpg
Bangkok, 20 Maret 2018

Bangkok, we’re going to nail you!

4 thoughts on “19 Maret 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s