Jalan Besar VS Jalan Kecil

Ada yang suka lewat jalan besar, ada yang demen jalan kecil.

Yang suka jalan besar bilang lebih enak lewat jalan besar. Umumnya jalan utama, atau jalan raya protokol. Alasannya, luas jalanan lebih besar. Jalannya keliatan jelas di Google Maps. Kalau malam, jalan besar juga rasanya lebih aman karena minimal ada lampu jalan. Kekurangannya ya kalau macet, jalan besar bakalan penuh dengan kendaraan. Kenapa? Ya karena semua orang tau jalan besar dan melewati rute yang sama. Apalagi, seringkali jalan besar ini adalah jalan tempat kantor-kantor berpusat, jadi yah bakal ramai sekali.

Sebaliknya, pecinta jalan kecil akan selalu membela rute di jalan kecil. Alasannya, jalan kecil menghubungkan banyak lokasi utama dengan rute yang lebih pendek dibanding jalan utama. Nggak hanya itu, jalan kecil juga bebas macet. Minimal, nggak ada lah mobil-mobil besar karena ya namanya juga jalan kecil, mobil kebanyakan nggak bisa masuk. Tapi, jalan kecil itu juga nggak selalu enak. Banyak anak kecil yang lagi main karena umumnya jalan kecil ini di sela-sela pemukiman penduduk. Belum lagi, ada jalan kecil yang kecil banget sampai-sampai kalau motor lewat, kudu hati-hati. Salah-salah, bisa nyenggol jemuran orang, atau ibu-ibu yang lagi bercengkerama pagi, atau lagi menyusui bayinya (yang sering naik ojek pasti ngerti banget :D). Tapi balik lagi, karena jalan kecil ini bisa mengantarkan pengendara tiba di tempat tujuan lewat rute yang lebih pendek, jalan kecil banyak dicintai pengendara motor, khususnya.

Dilema jalan besar dan jalan kecil nih sama kayak hidup nggak sih? Jalan besar ibarat proses resmi yang harus kita lalui untuk mencapai sesuatu. Simplenya, ngurus SIM atau paspor. Jalan besar ya ngurus sendiri ke kantor polisi atau imigrasi. Lebih ribet, kudu bolak-balik, kudu ngantri pagi-pagi, lama, tapi ya lebih resmi, lebih aman paling tidak kayak kondisi jalan besar kalau jam 12 malam yang banyak lampu. Jalan kecil ya sebaliknya, bayar calo (masih ada nggak sih?). Cepat, tau beres, nggak perlu ngantri, dateng-dateng langsung foto. Tapi ya itu, kudu hati-hati. Saya sih suka takut-takut kalau calo-caloan gitu. Semacam tiba-tiba bisa ditangkep kalau memanfaatkan jasa calo. :D.

Di urusan lainnya, urusan jalan ini sama kayak urusan hidup saat mengejar cita-cita. Namanya cita-cita ya umumnya besar dan susah dicapai. Jalan besar ini ya prosedur ideal. Anak kecil kalau mau mencapai cita-cita ya dibilanginnya: harus sekolah, belajar yang baik, dapat nilai yang baik, masuk universitas yang bagus, dapat kerjaan bagus, dapat kantor bagus, dan seterusnya. Ujung-ujungnya, cita-cita bisa tercapai. Jalan kecil itu yang nggak mau mengikuti proses seharusnya untuk mencapai cita-cita. Misalnya: sekolah hayuk aja, tapi nilai bagus bukan utama. Universitas yang bagus menurut kata masyarakat belum tentu bagus untuk dia, kerjaan juga boleh aja beda dengan orang kebanyakan. Tapi, pilihan ini juga diyakini akan membawa kita menuju cita-cita.

Toh, kalau lagi bawa motor, jalan besar dan jalan kecil sama-sama mengantar ke tempat tujuan, cuma caranya aja yang beda.

Lalu, mana yang bener? Jalan besar atau jalan kecil? Ya nggak ada yang bener dan salah deh. Dua-duanya bener, malah. Yang penting tujuannya. Tau nggak mau ke mana? Ke gedung apa? Ke kantor apa? Kalau tau, ya udah. Lewat jalan mana aja boleh, yang penting nyampe sebelum waktunya.

Bangkok, 29 Juli 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: