Jangan Pelit Berbagi Meja

Restaurant

Siang itu, saya dan keluarga abang berkunjung ke salah satu restoran Sunda di daerah Puncak. Karena masih bulan puasa, resto satu itu pun ramainya minta ampun (soalnya banyak restoran di Bogor yang baru buka setelah jam buka – sebelas duabelas dengan di Banjarmasin).

Begitu masuk, kami ber-5 langsung mencari meja kosong. Barisan depan yang dekat meja prasmanan penuh dengan orang. Barisan belakang juga penuh. Lesehan penuh. Meja di bagian luar juga sama aja. Kalaupun terlihat kosong, pasti ada 1-2 orang yang nungguin meja, sementara personil lain rombongannya ngantri ambil makanan.

Ada sih meja di barisan belakang, tapi kursinya cuma satu. Ada juga yang kosong di bagian lesehan, tapi masih belum sempat dibersihkan oleh pegawainya, saking sibuknya.

Pas balik lagi ke depan, ada satu meja panjang untuk 10 orang, yang kursinya baru terisi kurang dari setengah. Yang lagi nungguin adalah 1 bapak berusia 50an, 1 ibu di depannya, dan 1 anak muda. Langsung dong saya berinisiatif, “Pak, boleh join?”. Sambil senyum, Bapaknya jawab “Oh boleh”.

Langsung saya melambai-lambai ke rombongan abang saya yang berdiri di samping meja dengan 1 kursi, memintanya untuk ke arah saya. Mereka pun bergerak.

Setibanya di barisan meja yang kosong itu, si Bapak langsung ngeliatin dan bertanya sambil senyum, “Oh, berapa orang?”. “Lima”, jawab saya. “Yah, jangan dong. Kesempitan. He he”, kata si Bapak. Saya jawab lagi, “Lah, berlima aja kok, Pak. Kan kosong nih. Duanya juga anak kecil“.

“Jangan deh. Nggak enak dong saya nanti duduknya. SEMPIT,” kata Bapak, sambil tetap senyum aja dengan woles.

ASEM!

Karena dasarnya saya orangnya ini malas dan kurang bisa berdebat, saya cuma ber-ckckck sambil memalingkan wajah dari si Bapak dan rombongannya, dan langsung balik ke meja awal dengan kursi tunggal itu.

Pas ada satu pegawai yang lewat, langsung saya minta si Bapak untuk ngambilin 4 kursi kosong di meja Bapak nyebelin itu. Lalu, diambilin deh semua kursi kosongnya. Pas kami duduk, meja Bapak itu ya cuman didudukin 4 orang.

Yang saya nggak habis pikir sama kelakuan Bapak ini ya:

  1. Resto lagi rame minta ampun. Ya masa’ mejanya masih kosong banget, nggak ada toleransi sama sekali ngeliatin kami yang udah mondar mandir hampir 10 menit. Kalaupun rombongan kami duduk, itu cuma kurang dari setengah panjang meja.
  2. Bisa-bisanya loh Bapak ini bilang, “loh jangan, nanti sempit”. Ya elah, Pak. Kalau mau rame, bungkus makanan aja lalu makan di lapangan bola.

Pas mau balik, saya lihat rombongan ni Bapak datang dengan mobil ala Syahrini (yang parkir persis di sebelah mobil kami ). Apa karena itu, si Bapak ini belagu?

Waktu kejadian sih, saya, abang dan istrinya, kesal bukan kepalang. Tapi kami dapet berkah juga karena tetiba dianterin lalapan tambahan. Cuma kalau diingat lagi sekarang, nyebelin banget sih orang kayak begitu.

Buat yang baca ini, moga-moga nggak pernah berlaku seperti si Bapak ya. Kalaupun iya, mungkin bisa direview kembali, apa perlu segitunya bersikap saat di tempat ramai? Orang lain kan juga pengen makan. Coba posisikan kita sebagai orang yang mondar-mandir cari meja, lalu digituin. Ugh, asli nggak enak.

Semoga kita semua orangnya baik-baik dan bisa legowo berbagi ya, nggak kayak Bapak itu.

Salam Kumaha Damang

Author: vinnydubidu

A girl who falls in love to inspiring stories, especially women's. A girl who believes that everyone has the same right to live and be respected. Just so you know, Carrie Bradshaw is her long time muse.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s