How Writing Make My Day

 

IMG_4109 2.jpg
Banjarmasin, kota yang langitnya sering bagus.

Ini adalah bulan ke-8 saya ada di kota baru. 

Ini bukan pertama kalinya saya pindah ke kota baru. Udah kesekian kali malahan. Entah untuk kerja, kuliah, atau kerja lagi. Yang kali ini, kerja juga. Tapi bedanya, dekat dengan keluarga. Yang sebelumnya, menjauh dari keluarga. Haha.

Tinggal di kota baru, kalau yang udah pengalaman, susah susah gampang. Kayaknya lebih banyak susahnya ya. (Abaikan kenyataan bahwa saya tinggal dekat keluarga). Tetap aja, ada banyak hal yang menantang ketika pindah ke tempat baru. Yang juga berlaku untuk saya.

Yang paling BESAR sih, teman ngobrol. Di kantor sebelumnya, temen saya buanyak. Karena kantornya emang banyak pegawai. Di tempat ini, teman saya cukup terbatas, juga dengan pegawai kantor yang lebih sedikit. Tentunya saya sangat menghargai keberadaan teman-terbatas saya ini, atas nama you have to appreciate what you have (hey, I really do!). Tapi rasanya, ada yang kurang gitu. Entah kurang banyak jumlahnya, atau kurang sering ngumpul dengan temannya. Saya juga belum menemukan di bagian mana bagian ini jadi tantangan yang besar.

Tapi, memang saya baru menyadari, saya ini mungkin suka ngobrol. Dari yang penting banget misalnya soal sidang MK, film Chernobyl, hasrat pengen nonton konser dan jalan-jalan tapi ya pengen nabung, sampe hal receh sereceh misalnya saya tiba-tiba pengen makan pisang goreng atau tiba-tiba saya pengen ngasih temen saya teka-teki. Jadi, kebutuhan saya dengan teman  ya ngobrol. Sementara saya juga sadar, nggak semua orang suka diajak ngobrol, lama, dengan saya pula. Haha. Jadilah, saya mulai mengendalikan kemauan yang satu ini agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Ya masa’ ngajak ngobrol orang yang nggak senang diajak ngobrol.

Yang kedua ya, bosan. Apalagi dengan rutinitas hidup yang cukup berubah dari sebelum-sebelumnya. Bosan ini nggak terlalu pengen-pengen amat saya acknowledge keberadaannya. Karena saya tau, alasan ‘bosan’ tu kayaknya nggak pantes untuk manusia. Apalagi karena sebenernya dengan bosan itu, kita dikasih banyak waktu kosong untuk melakukan hal-hal berguna. Jangan sampe, giliran sibuk banget, ngeluh. Giliran banyak waktu, ngeluh bosan. Seperti yang juga coba saya lakukan… Walopun banyak pengusir kebosanan yang masih belum di jalan yang tepat, tapi saya tetap berusaha (haha). Intinya, saya sebisa mungkin menghilangkan perasaan ‘saya bosan’ saat ada di kota manapun.

Untuk menyelematkan diri dari kedua tantangan hidup di atas, saya mulai melakukan beberapa kegiatan. Pertama, linocutting. Sempat saya ceritain di sini dan di Instagram @linocutku. Kedua, Netflix. Wah, kalo ini sih sedap sedap ngiri. Haha. Pasalnya, Netflix cukup bikin produktivitas menurun. Saya nggak nyalahin Netflix kok. Saya menyalahkan diri sendiri yang gagal mengendalikan diri untuk mengurangi waktu nonton dan melakukan kegiatan lain yang lebih berguna seperti… Olahraga. Padahal, dua bulan lalu saya lakukan ini dengan semangat dan cukup rutin. Tapi, karena sesuatu dan lain hal, jadi susah bener bangun pagi sekarang buat lari. Atau, masih males mampir gym sepulang dari tempat kerja. Alhasil, masih nyicilin semangat olahraga lagi.

Hal lain yang nolong saya ya, nulis. Nulis apa aja. Seringnya pastinya nulis di sini. Walaupun sering terdistraksi dengan Netflix, saya tetap sih kepikiran pengen nulis. Kepikiran pengen nulisnya tu sering banget malah. Tiap ketemu anu, pengen nulis. Tiap inget inu, pengen nulis. Tiap ono, pengen nulis. Pengen aja terus, cuma emang eksekusinya agak lama. Termasuk untuk tulisan yang ini.

Padahal, setelah nulis, saya jadi seneng loh. Seneng aja rasanya bisa ‘ngeluarin’ apa yang ada di kepala. Ada memang tulisan yang sengaja ditulis sebagai pengingat akan kejadian tertentu. Tapi kalau saya, emang kebanyakan karena pikirannya udah mampet di kepala dan pengen ditumplekin ke suatu tempat. Karena nggak ada makhluk hidup yang siap menerima tumplekan saya ini 24 jam, maka saya mampirlah ke vinnydubidu. Makanya, persis banget sama postingannya Fasya di Twitter beberapa hari lalu.

Nah, kalau udah berhasil bikin satu tulisan gini nih, langsung deh saya pengen bisa bikin tulisan yang berguna. Yang bermanfaat dan berfaedah. Yang nggak hanya berisi tumplekan dari kepala, tapi juga lebih serius, dan berguna untuk banyak orang.

Dan cita-cita ini pun kemarin sedikit kesampean karena bisa nulis untuk Magdalene. Walau topiknya serius, tapi plong-nya berasa. Kalau mau cek tulisannya, ini ya : https://magdalene.co/story/jangan-panggil-kami-minoritas

Di waktu yang sama, temen saya ngasih proyek translation juga untuk salah satu BUMN. Yang juga udah rampung bulan ini. Ini juga senangnya plus, karena bisa nambah tabungan.

Ke depannya, saya pengen banyak-banyakin nulis, baik yang blog maupun yang berfaedah tadi. Kalau ada yang mau ngajakin nulis apa gitu, boleh banget!

Udah, segitu aja tulisan hari ini. :)

 

2 thoughts on “How Writing Make My Day

Add yours

Leave a Reply to vinnydubidu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: