Miss ‘I Don’t Know’

Miss I Don't Know.jpg

Kak, mau makan bakso atau ronde?
Nggak tau.

Kak, nanti sore mau berenang?
Hmm, I dono.

Kak, nonton Lion King yuk Sabtu ini?
Hmm, nggak tau.

Begitu percakapan yang sering saya alami dengan ponakan saya yang naik kelas 9 aka 3 SMP. Ngeselin nggak sih? Iya, sih kadang. Cuman, kalau saya inget dia baru kelas 3 SMP, mungkin di usia…14 atau 15 tahun, saya jadi memaklumi.

Eh tapi 3 SMP kan udah gede?

Nah, itulah. Saya kepikiran nih, sebenernya usia ponakan saya ini nggak bisa dibilang kecil lagi. Apalagi di jaman sekarang, dimana adeknya yang baru naik 1 SD udah bisa nemenin saya nonton Chernobyl untuk 15 menit (dan sepanjang film, dia rajin bertanya : apa itu nuklir, itu pesawat kayak pesawat untuk perang ya, dan macem-macem pertanyaan lainnya).

Tapi, urusan menjawab “nggak tau” sebenernya nggak cuman kejadian sama anak kecil ya. Coba kalau ditanya mau makan di mana, sering nggak kita jawab “nggak tau”, yang berakhir dengan “terserah”? Di hidup saya sih, adegan ini paling enggak terjadi 3 kali dalam seminggu. Haha.

Dulu juga saya orangnya paling susah menjawab pertanyaan berupa pilihan. Mau A atau B? Bagusan C atau D? Saya selalu kesulitan menjawab, yang kemudian berakhir “nggak tahu”. Tapi, sepertinya kerjaan di kantor terakhir yang perlahan membuat saya berubah.

Mungkin karena tekanan kerja, mungkin karena tanggung jawab yang besar, saya jadi diharuskan untuk menghindari jawaban ‘tidak tahu’ atau ‘terserah’ sebagai respon pertama atas pertanyaan yang diajukan. Soalnya, jawaban itu akan berakibat antara saya diomelin bos, atau tim saya kebingungan. Jadi, pelan-pelan, saya dikondisikan dan mengondisikan diri untuk dapat memilih, memutuskan, dan sedikit mengatur.

Setelah dijalankan, lama-lama saya jadi terbiasa untuk memilih daripada jawab “nggak tahu”. Di tengah-tengah kerumunan teman-teman yang kebingungan harus makan di mana, saya bisa jadi yang ngusulin tempat makan. Karena saya yang nyebut, saya pilih tempat yang saya suka dong. Berhubung yang lainnya “nggak ada ide”, jadi mereka pun ngikut saya. Saya pun bisa makan di tempat yang saya suka, semua kenyang, semua senang.

Di kehidupan sehari-hari pun, banyak manfaat dari kebiasaan berani memutuskan, yang kalau direndeng satu-satu bakal jadi banyak banget. Yang pasti, menghemat waktu saat nyari tempat makan siang atau weekend mau ngapain, misalnya. Walopun, tetap saja ada waktunya saya nggak bisa langsung memutuskan di situasi tertentu, misalnya untuk urusan kerjaan atau hal luar biasa lainnya.

Nah balik ke keponakan saya, saya pikir-pikir dan saya inget-inget, mungkin ponakan saya ini sebenernya nggak berani bilang “enggak” saat disuruh milih. Mungkin karena takut nggak enak dengan yang nanya, jadi dia memilih jawaban ‘ i dono'”. 

Nanti kalau ada kesempatan, mungkin saya mau ngomong ke dia deh kalau misalnya nggak papa kok menolak, sama halnya dengan nggak papa milih yang disuka. Soalnya, kalau dibiasain nggak milih, kok saya yang khawatir kalau nantinya di sekolah atau makin gedenya, jadi kebiasaan tidak berani memutuskan.

Eh tapi, kekecilan nggak ya ngomongin ini ke dia? Toh saya juga baru mulai belajar menerapkan ini 3 tahun lalu. Haha.

2 thoughts on “Miss ‘I Don’t Know’

Add yours

  1. Dari aku kecil, Bapak aku juga selalu selalu ingetin sebisa mungkin gak jawab dengan jawaban “nggak tau” atau “terserah”, kalau beliau tanya tentang apapun. Katanya kalau nggak tau ya cari tau, dan kalau terserah ya dipilih yang paling memungkinkan hehehe.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: