Terpana di Jazz Gunung Pertama

Nyambung dengan Terpana di Jazz Gunung Pertama (Selesai)

Jazz Gunung 2019.jpg

Kalau ini bener trip yang kudu dikasih hashtag #akhirnyakesampean.

Duluuu banget, saya liat postingan Teppy entah berapa tahun silam, waktu dia nonton Float di Jazz Gunung. Karena cerita perjalanan yang seru sampe mogok-mogokan di jalan, plus nama acaranya, saya langsung pengen banget bisa nonton Jazz Gunung. Suatu hari.

Dan setelah melewatkan eventnya bertahun-tahun, kesampean juga tahun ini!

Bener-bener deh ya. Nonton konser emang seru. Tapi nonton pertunjukan musik dengan venue wow di tengah gunung, berselimut angin dan suhu 11 derajat, itu yang jarang dan dobel serunya. Dan, event Jazz Gunung yang sudah digelar untuk ke-11 kalinya ini, menurut saya, covers it all. Spectacular show, magical place. Lebai? Engga. Serius.

Saya beli tiket terusan untuk show 2 hari, 26-27 Juli. Dari semua line up artisnya, yang familiar di telinga sesungguhnya cuma Tompi, kalau yang tau nama tapi nggak tau lagunya Didi Kempot dan Debu, pernah denger nama Ring of Fire dan Candra Darusman tapi nggak tau lagunya yang juga. Beberapa penampil juga sempat dengar namanya, cuman nggak ngikutin lagunya. Loh, nonton konser tapi nggak tau artisnya, Vin? Gapapa. Berhubung misi utamanya adalah nonton Jazz Gunung, saya tetap mutusin pergi aja tahun ini. Mumpung bisa!

Hari pertama show dimulai sekitar jam 3 sore. Tapi karena saya dan rombongan nyampe penginapan agak siang, jadi kita skip show paling awal dari Ngalam Jazz Community. Baru mulai nonton di show kedua, Debu, dan seterusnya sekitar jam 4an. Selain kedua nama, pengisi acara hari pertama ada Yuri Mahatma, Voyager 4, dan Gugun Blues Shelter. 

This slideshow requires JavaScript.

Setelah penampilan ngerock-blues dari Gugun Blues Shelter, panggung diisi oleh Idang Rasjidi yang kemudian duet dengan Mus Musdjiono.

Di sini, keseruan berawal..

Mus Mudjiono.JPGDengan mengenakan jaket warna warni, Om Mus tampil menghibur penonton dengan tembang lawas yang kita sering denger di acara atau pesta bertema 80an (atau mungkin dari om/tante/ayah/ibu kita). Salah satunya lagu “Tanda-Tanda” (bunga asmara, kini bersemi sekali lagi – kalau kamu nggak tau lagunya), yang dibawain dengan groovy banget. Plus, oleh karena banyak om-om-tante yang nonton itu tadi, banyak yang ikutan berdendang. Sambil nonton, saya cuma mikir, Om Mus ini ya kok nyanyinya bisa membahagiakan gitu. Senenggg gitu wajahnya, senyum-senyum terus. Sehat selalu ya, Om Mus! :)))).

Penampil selanjutnya, Tompi. Satu kata untuk Tompi: jenius. Mulai dari improvisasinya, komunikasi di panggung dengan musisi dan penonton, guyonannya, kok bisa ‘berisi’ banget. Apalagi tiap Tompi mulai syabadabadadudu – yang sering dia lakuin kalau kamu pernah nonton live-nya di TV – yang kemudian diikuti pemain musiknya untuk memainkan instrumen dengan nada yang dia humming-kan, saya kesulap banget lah tiap dia begini. Dan kayaknya semua lagunya aransemennya beda dengan lagu yang biasa kita denger. Selain itu, pun seperti di medsosnya yang suka nyinggung isu sosial, Tompi pun selip-selipin joke sosial di tengah shownya dia. Haha. Soal improvisasi, setelah baca beberapa artikel, ternyata emang Tompi’s kind of thing setiap kali show. Sarat improvisasi, kata Tabloid Bintang.

This slideshow requires JavaScript.

Lanjut ke hari kedua.

Penampil awal hari kedua adalah Mld Jazz Projects Season 4, Geliga (grup band asal Riau yang mengusung musik Jazz beraliran Melayu. Mereka bukan balsem). Selanjutnya, disusul Tristan dari Belanda, yang kalau selewatan, warna suara vokalis pun aliran musiknya, agak mirip Incognito. Ada juga Nita Aartsen, pianis senior asal Indonesia yang rupanya udah wara wiri juga di luar negeri. Sore itu, Mba Nita ditemanin 5 musisi luar termasuk anaknya, Brandon Aartsen. Mba Nita ya sebelas duabelas dengan Om Mus. Mainnya santaiiii banget dan senyum terus pula. Auranya adem dan tenang kek hawa Bromo. Sempat juga ada adegan micnya nggak bunyi di tengah-tengah performance, tapi mbak e tetap senyum sambil aja pas ngasih tau krunya, sambil tetap main keyboard. Apa emang begini pembawaan seniman senior ya, kalem dan tenang? Dan ya ampun juga, suaranya kok ya merdu bener. Merdu adem bertenaga. Bukan merdu merdu lemes.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk hari kedua, semua show-shownya cukup berkesan. Shownya Sierra Sutedja juga asik. Walaupun saya banyak nggak tau lagu-lagunya, tapi penampilannya tetap menyenangkan untuk dinikmati. Sierra juga sempat turun untuk ngajakin audience nyanyi bareng, sekaligus jadi penampil pertama yang betul-betul turun ke audience. Salah satu yang diajak nyanyi, Dennis Adhiswara (Mamet). Pas ini, audience udah excited banget karena mungkin itu Dennis ya. Mana Dennisnya sempet malu-malu sampe sempet ngulang liriknya 2-3 kali. Sebelum udahan, Sierranya nanya, “Mas siapa namanya?”. Lalu kayaknya ada yang ngasih tau Sierra kalau Dennis artis, soalnya nggak lama, Sierra bilang “Oh gitu ya. Saya jadi nggak enak,” sambil ketawa-ketawa. Apa dia nggak kenal gitu sama Dennis? Haha. Ya nggak papa sih kalo nggak kenal (karena bisa aja cuma gimmick). Cuman seru aja pas nyanyi bareng audience ini.

NAH, penampilan abis Sierra ini yang kerennya ku-tak-paham-lagi-kerennya-ya-alah. Adalah penampilan dari Ring of Fire Project. Empunya Ring of Fire Project ini adalah Djaduk Ferianto, Butet Kertaradjasa dan Sigit Pramono, yang juga penggagas event Jazz Gunung. Tapi yang malam itu tampil di panggung untuk pertunjukan adalah Mas Djaduk.

Show dibuka dengan Mas Djaduk ngajakin semua penonton untuk berdiri, setelah ngasi prolog tentang tema Jazz Gunung tahun ini “Jazz Bersaksi Untuk Ibu Pertiwi”. Dengan aransemen musik yang duh aduh banget, penonton diajak untuk nyanyiin lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Pas nyanyi, saya yang suka sok sentimentil ini ya kok berkaca-kaca. Haru banget sambil nahan dingin.

Di sesi ini, yang tadinya cuman bisa goyang kaki sembunyi-sembunyi, pun akhirnya bisa berdiri joget-joget karena semua penonton diajak nyanyi bareng. Belum lagi pas Didi Kempot masuk. Iya, DIDI KEMPOT di Jazz Gunung. Oleh Ring of Fire yang juga menggandeng Richard Hutapea, lagu Jawa-nya Mas Didi langsung jadi musik yang juga masuk untuk konser jazz karena udah diaransemen dengan keren banget.

This slideshow requires JavaScript.

Belum lagi, Mas Djaduk banyak pake alat musik tradisional seperti gendang, gamelan, suling, pun ada nuansa-nuansa sinden oleh penyanyinya, yang bikin musik malam itu jadi… makin syahdu. Dan ya, di sesi ini, buanyak banget fans Didi Kempot yang kayaknya khusus datang untuk nonton belio aja. Yang emang, show ini nggak mengecewakan sama sekali. Saya yang nggak tau lagunya aja sangat menikmati lagu-lagunya Mas Didi yang diaransemen ulang oleh Ring of Fire ini. Lagu My Favorite Thing pun nggak terlewat untuk diaransemen. Susah digambarkan lagi kerennya sesi ini. Masih menurut saya, Mas Djaduk dan Ring of Fire-nya bener-bener sukses ngebawa Jazz Gunung malam itu menuju puncak.

Kalau Tompi jenius, kalau Mas Djaduk dan Ring of Fire Project, DEWA!

Penutup Jazz Gunung hari itu adalah Candra Darusman Projects, yang menggandeng Barry Likumahuwa. Yang sangat disayangkan di show yang satu ini, adalah urutannya yang agak kebalik, menurut saya. Sebab, musiknya Om Candra ini jazzy banget dan cukup light. Bayangin, abis Ring of Fire dan Didi Kempot yang udah abis-abisan, kita balik ke jazz yang nge-jazz banget. Alhasil, pas sesi ini, penontonnya sisa setengah. Padahal, penampilannya juga asyik, plus sesi itu kan penutup ya. Dan, kebetulan pun untungnya, pemain saksofon Om Candra yang sangat enak dipandang (kombinasi jidat Deddy Corbuzier dan Ridho Rhoma), yang kayaknya bikin genk-genk muda pada stay sampai selesai untuk moto-motoin doi. Haha.

candra-darusman.jpg
Boleh di-zoom yang kanan pegang saksofon

Penampilan Candra Darusman ini kelar sekitar jam 11an malam, dan ditutup oleh duet MC sangat lucu bernama Alit dan Gundi yang lagi-lagi menurut saya, selain musisi-musisinya, punya peran besar untuk bikin Jazz Gunung ini jadi event yang sangat mengesankan. Akan kutuliskan terpisah tentang dua makhluk super lucu ini.

Duo Alit dan Gundi.jpg
Enter a caption

Kelar show, saya dan teman satu penginapan tentunya foto-foto dulu, sebelum pulang ke penginapan, dengan hati riang gembira, sambil tetap menahan dingin. Tak lupa, mampir beli pisang goreng dan bakso, untuk dibawa sebagai kudapan ngobrol menutup malam terakhir.

IMG_1025

Eh, tunggu.

Saya belum selesai. Masih mau cerita lagi, karena banyak yang seru dan berkesan banget dari trip kali ini. Lanjut lagi nanti ya!

Backsound nulis : Tompi dan Mus Mujiono.

2 thoughts on “Terpana di Jazz Gunung Pertama

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: