Makan Keluarga

 

Berbahagialah kamu yang masih makan keluarga.

Tumbuh di keluarga yang cukup ramai (7 orang, termasuk saya), kegiatan makan keluarga bukan hal yang dilakukan.

Dari saya kecil, kakak-kakak saya udah berpencar untuk kerja di luar kota. Begitu pun Bapak. Kakakpun sempat tinggal dengan tante saya, karena rumah yang tak cukup untuk menampung 7 orang. Karena itu, tidak banyak memori makan keluarga dengan personil komplit, di ingatan saya.

Beranjak dewasa, kesadaran bahwa makan keluarga itu ‘asyik’ mulai terasa. Walaupun jarang terjadi, menyempatkan makan bersama Bapak dan Ibu saja, sembari ngobrol, menjadi momen yang sangat menyenangkan. Obrolannya bisa seputar berita di televisi yang dimulai oleh Bapak, atau cerita soal teman-temannya oleh Ibu. Sesekali, saya bercerita tentang pekerjaan.

Jika berkesempatan kumpul semua (entah itu di hari raya Imlek, atau ada saudara yang nikah, atau meninggal), agenda makan keluarga dengan personil komplit bisa kembali dieksekusi.

Di momen makan keluarga ini, diskusi yang sering terjadi adalah seputar pekerjaan kakak. Waktu Bapak ada, banyak juga diskusi tentang bahan kayu apa yang diperlukan untuk memperbaiki rumah atau kantor, perangkap yang paling ampuh untuk tikus bandel, atau bagaimana struktur pipa yang perlu dipasang agar air nggak lagi-lagi bocor, dan mengalir lebih cepat di rumah.

Ketika masing-masing kakak sudah berkeluarga, personil makan keluarga bertambah banyak. Dengan jumlah ponakan 12 orang, ditambah 4 orang ipar, plus keluarga inti 7 orang, berarti makan keluarga komplit akan dihadiri 23 orang.

Sungguh ramai.

Tapi tentunya, kalian mungkin tau, makan keluarga dengan personil sebanyak ini bukan perkara mudah. Mulai dari mengumpulkan personil sebelum hari H, atau mengkoordinir personil khususnya ponakan-ponakan dari berbagai usia agar duduk manis di mejanya di hari H, adalah sebuah kerumitan tersendiri. Belum lagi memastikan semua personil makan “menikmati” momen tersebut, dengan tulis. Alhasil, makan keluarga yang besar ini, biasanya hanya terjadi 1 x 1 tahun. Itu pun belum tentu satu kali satu tahun.

Sampai kemudian Bapak sudah tidak ada, komposisi personil makan pun berubah. Saya sendiri sekarang menetap di kota bersama kakak saya, sementara Ibu menetap di kota lain.

Saya, karena sendiri, seringkali gabung aja dengan keluarga abang saya untuk makan. Sebut saja, saya orang ketiga. Setelah suami istri, dan anak-anak, kemudian saya. Meski begitu, saya masih menikmati momen makan keluarga ini. Berada di tengah keluarga komplit yang bisa menikmati hidangan di meja makan, sambil ngobrol, menjadi kebahagiaan yang sulit saya gambarkan. Walaupun, kadang saya juga diam-diam miris kalau kegiatan utama setelah hidangan selesai disantap adalah, pegang HP. Bukan ngobrol.

******

Jadi, malam ini, saya tiba-tiba kangen suasana makan keluarga jaman saya kerja dulu. Setelah tayangan berita dari siaran televisi Cina jam 6 sore selesai, Bapak akan berjalan perlahan ke meja makan. Setelah duduk, Bapak akan tetap menguping siaran program berikutnya dari televisi, sambil saya membantu Ibu menghidangkan sayur ke meja. Tak lupa, menuangkan minuman untuk 3 orang. Setelah semua terhidang, kami pun makan. Bukan menu yang banyak, tapi cukup membuat mulut kami mengunyah dengan lahap diselingi, diselingi sesi bercerita seraya makan.

Sekedar pengingat untuk kamu yang baca, sempatkanlah waktu untuk makan bersama keluarga, kalau bisa. Kalaupun tidak komplit, dengan ayah saja, atau ibu saja, atau saudara saja, juga boleh.

Kalau memang sudah terlaksana, perbanyak frekuensinya. Kalau juga memang sudah terlaksana, ajak semua yang makan supaya kegiatan setelah makan adalah ngobrol, bukan pegang HP masing-masing. Terakhir, kamu semua bisa menikmati agenda makan keluarga ini.

One day, this might be the moment you miss the most.

2 thoughts on “Makan Keluarga

Add yours

  1. Dulu waktu masih kecil, setiap hari Minggu gw sekeluarga makan bareng, sampe adik-adiknya Bapak suka datang juga bawa anaknya. Di rumah bisa rame banget kalo udah ngumpul gitu, kalau dalam Basa Sunda namanya “Ngariung”. Karena sekarang kebanyakan udah tinggal beda kota, kegiatan makan ngariungnya jadi jarang-jarang. Dan gw juga selalu sempetin buat makan bareng keluarga kalau kebetulan lagi pulang, percaya atau ga, ini baru disampein adik gw kemarin, katanya Bapak kalo makan sendiri ga terlalu semangat, beda kalau makan bareng sesederhana apapun lauknya.
    Jadi ya, kesempatan untuk makan bareng keluarga itu emang momen yang paling pas buat ngobrol dan cerita, dan pasti bakal dikangenin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: