Kok Kamu Tambah….?

Kok Kamu Tambah

Tambah apa ayo?

Apalagi kalau bukan tambah gendut. 2 kata yang bisa bikin adek kakak berantem, pacar-pacaran komplen, suami-istri adu mulut, ipar-iparan bergumam dalam hati, dan 2 orang baru batal berkawan lebih lanjut. Pertemanan pun bisa jadi renggang karena kalimat komparatif ini. Hampir mirip efeknya dengan permusuhan akibat perbedaan dukungan capres jaman kampanye lalu. Rodo nggak penting tapi yo ganggu. 

Sebagai orang yang sering menerima kalimat ini, saya nggak paham kenapa masih susah mengendalikan diri setiap kali mendengar kalimat ini ditujukan ke saya. Walopun ya kalau dipikir-pikir, kadar penerimaan dengan statement ini jauh lebih baik dibanding dulu. Dulu mungkin sebel banget setiap kali diomongin. Belakangan, agak acuh. Tapi kalau dengernya di hari-hari dekat PMS, ya tetap walahualam efeknya. 

Kepada kakak laki-laki, saya ceritain soal ini. Doi cuma ketawa.

“Ya udah kalo digituin. Biarin aja. Masa’ lu jadi emosi gara-gara diomongin begitu”.

Enteng bener. 

Lalu saya membela diri.

“Ya emang gitu kalo cewek. Lain emang sama cowok yang bisa selow aja. Gue juga bingung entah kenapa cewek tu nggak suka diomongin itu”. 

“Dimana-mana ya orang nggak suka diomongin. Yang pengen gemuk, nggak suka diomongin kok tambah kurus. Yang pengen kurus, nggak suka diomongin kok tambah gendut”, doi lanjut. 

Ya bener juga sih. 

Di lain waktu, pernah ada yang membahas soal entah kenapa orang memilih menggunakan jargon ini untuk kalimat pembuka saat bertemu dengan seseorang. Apakah nggak terlintas di pikiran mereka bahwa kalimat pembuka ini malah bisa jadi kalimat penutup untuk selama-lamanya, alias mematahkan keinginan untuk berteman atau berbincang lebih lanjut? 

Setelah pembahasan ini muncul, orang beramai-ramai mengajak penggunaan kalimat pembuka lain yang lebih nyaman untuk diucap. Misalnya: macet nggak tadi? Atau, wah lama banget nggak ketemu, tinggal di mana sekarang? Lagi sibuk apa? Atau kalau bingung, ya udah senyum aja. Halo halo aja. Nggak perlu ada pertanyaan. Sebisa mungkin, hindari pertanyaan berawalan “tambah” atau “kurang”.  

Tapi,  apakah kebiasaan ini sudah diamalkan di semua lapisan masyarakat? Tentu tidak. Masih banyak yang belum. 

Saya sih, karena sudah menjadi objek penerima kalimat ini dari jaman saya SD, selalu berusaha tidak mengucapkan kalimat serupa pada orang lain. (Mudah-mudahan nggak pernah keceplosan.) Entah itu komentar tambah gemuk, tambah kurus, kulit tambah item, tambah coklat, tambah jerawatan, gigi tambah kuning, alis tambah tipis, rambut tambah lebat, atau apapun. Saya tau efeknya kurang baik. Saya ndak mau jadi orang yang disebelin untuk diajak ketemu, karena kebiasaan itu. 

Nah, kalau karma berlaku, harusnya per hari ini, saya udah nggak mendapat kalimat serupa. Tapi, sayangnya, perihal karma nggak berlaku di urusan receh ini. Haha. Karena badan saya ya emang masih gede-gede aja, misi menurunkan berat badan belum tercapai eh malahan nambah, ya masih aja nemu orang yang melontarkan kalimat ini. 

Entahlah apa ini yang dinamakan body shaming (?). Soalnya menurut saya, kalau masih nggak malu dengan badan sendiri, sepertinya hantaman macam ini masih belum masuk kategori body shaming. Cmiiw.

Jangan-jangan ya, perilaku ini cuma ada di negara kita? Atau malah di dekat saya aja? Di luar negeri, yang sudah maju, plus punya segudang kampanye #antibodyshaming, apakah masih ada fenomena ini lagi? Saya ndak tau. 

Perihal bijak memilih kata pembuka memang sangat dipengaruhi dengan kesadaran mengendalikan diri bahwa ada yang mungkin sangat kepikiran dengan omongan kita, dan kepekaan dengan perasaan orang lain, plus mungkin kreativitas untuk mencari kalimat pembuka.

Sampai ketiga hal ini muncul pada diri seseorang, agaknya cita-cita saya untuk kalimat pembuk ini sama halnya dengan cita-cita melihat 12 ponakan saya suatu hari bisa berkumpul, bermain, dan ngobrol lalu ketawa bersama-sama, bukan berkumpul lalu main HP (masing-masing) bersama-sama. 

Finger crossed. 

PS: Itu agar-agar bikinan saya. Bikin pengen dimakan nggak sih? :).

One thought on “Kok Kamu Tambah….?

Add yours

Leave a Reply to nyonyasepatu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: