Surat dan Tulisan Tangan

Waktu saya masih kecil, sekecil kelas 5 SD, kakak-kakak saya sudah bekerja di luar kota. Sementara, saya tinggal di rumah dengan Bapak dan Ibu. Sarana komunikasi antara kami sekeluarga yang murah, adalah surat. Kenapa ndak telepon? Karena telepon mahal sekali. SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) untuk antar kota saja udah mahal, apalagi SLI (sambungan langsung internasional), karena di satu periode salah satu kakak pernah tinggal di luar negeri.

Jadi, dimanapun kakak berada, media surat menjadi penyelamat kami. Biasanya, Ibu yang duluan kirim surat karena Ibu ini emang suka nulis. Setelah itu, kami akan dengan senang menyambut Pak Pos yang mengantarkan surat balasan dari abang-abang saya. Tugas mengarsip surat dipegang Bapak dan Ibu.

Kalau Ibu, apa aja ditulis. Mulai dari belanja harian, tempat nyimpan ini itu (biar nggak lupa; sampai sekarang pun masih dilakukan), nomor telepon orang. Kalau Bapak, seringkali nulis catatan penting dari berita yang ditonton, dan biasa ditulis dengan huruf Mandarin bergaya dokter, yang tentu saja tidak bisa saya baca. :).

Satu ketika, saya berangkat ke Bogor dengan rombongan vihara. Kayaknya waktu itu kelas 3 SMP. Itu adalah perjalanan pertama saya ke luar kota, tanpa didampingi keluarga. Pake kapal laut pula (36 jam Pontianak-Jakarta). Satu malam, waktu lagi tidur di satu hall besar, tiba-tiba saya dibangunkan teman satu rombongan. Ibu titip surat buat saya via dia (kayaknya dia ini naik pesawat, jadi agak lebih lambat tiba di lokasi).

Saya lupa isi persis suratnya apa. Tapi saya inget, surat diawali dengan tulisan berganya “untuk ananda Vinny” (romantis bener ya si Ibuk, haha). Sisanya ya apa kabar, dan pesan-pesan supaya saya jaga kesehatan dll (padahal cuma 1 minggu itu acaranya), yang bikin saya baca sambil nangis di balik selimut supaya nggak kedengeran yang lain. :’))).

Sampai sekarang, tiap pulang rumah, saya pun masih terima catatan Ibu, yang isinya antik-antik.

Sayur di kulkas, jangan lupa panaskan.

Kunci kamar Vinny (ditaruh di bawah tumpukan kunci)

Masak nasi: 5:45 (biar nggak lupa cabut colokan rice cooker)

Untuk saya, kebiasaan nulis ini cukup kebawa sampai sekarang. Baik nulis di buku tulis, atau nulis di aplikasi notes di HP. Seringkali, malah ditulis di dua-duanya, saking kebiasaan pengen nulis langsung. Jaman kerja dulu, saya punya 3 buku notes saking masih seringnya nyatat di buku. Sekarang pun masih nulis-nulis, tapi di kertas bekas print-printan yang belakangnya masih kosong. :D.

Dengan teman dekat pun, saya masih suka nulis sesuatu dan seneng nerima tulisan tangan mereka. Hampir semua tulisan tangan yang saya terima, saya simpan baik-baik. Entahlah kok rasanya deket banget tiap liat tulisan tangan, dibandingkan liat screenshot atau baca chat WA.

Akhir tahun ini, jika semua lancar, saya akan berkunjung ke suatu tempat. Sampai tahun lalu, saya punya mentor, yang saya panggil “Om”, yang tinggal di tempat ini. Selama hampir 4 tahun, beliau selalu menceritakan keindahan kota ini, sambil menyemangati saya agar yakin akan bisa tiba di tempat itu.

Suatu hari, saya tiba-tiba menerima surat yang dikirim via pos ke rumah saya. Om kirim surat. Isinya, city guide dan tulisan tangan di selembar post it berisi janji kalau beliau akan membawa saya jalan-jalan setibanya saya di sana. Surat yang saya simpan dan bawa ke mana-mana, sebagai penyemangat.

Barusan, saya nggak sengaja membuka map berisi surat dari Om. Hati pun senang membayangkan city guide itu akhirnya akan segera berguna, ditambah notes kiriman Om, yang tersimpan rapi di dalam amplop putih berlabel stempel kantor pos bulan Desember 2014.

Sampai kemudian senang tergantikan haru dan sedih. Sedih yang bikin terisak mengingat saya nggak punya kesempatan untuk berterima kasih dan bertemu atau bahkan jalan-jalan dengan beliau. Beberapa bulan lalu, Om tutup usia.

:’)

Kalau udah di momen seperti ini, sepucuk surat akan bikin emosi campur aduk aduk. Apalagi kalau tulisan atau surat yang disimpan adalah oleh mereka yang sudah tidak ada di sisi kita.

Tapi, surat tetaplah surat. Kadar kedekatan dan kenangannya terlampau besar dan tak tergantikan.

Jadi, rasanya saya akan terus menyimpan dan menulis surat untuk orang-orang istimewa yang pernah hadir di hidup saya. Meskipun resikonya ya haru biru kalau orangnya sudah tiada, seperti Om. :).

6 thoughts on “Surat dan Tulisan Tangan

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: