Niat Menjadi Produktif

Pas banget! Pas banget lagi kepikiran nulis tentang ini, lalu Mba Yoyen barusan ngepos tentang 9 productivity mistakes. Secara umum, tulisan Mba Yoyen berisi infografik yang mengajak kita untuk berefleksi tentang bagaimana kita menghabiskan menit-menit pertama di tempat kerja, apa yang kurang tepat dan perlu diperbaiki supaya kita jadi lebih produktif. Menarik. Bikin saya menyadari beberapa hal yang bisa saya perbaiki untuk jadi lebih maksimal saat bekerja.

Sementara itu, postingan saya tentang produktivitas ini, beda sudut pandang ya. Tulisan ini lebih kepada curahan hati tentang usaha menjadi produktif dalam kegiatan sehari-hari, yang tidak mudah dilakukan.

Productive (adjective)

1: Having the quality or power of producing especially in abundance;
2: Effective in bringing about;
3: Yielding results, benefits, or profitsyielding or devoted to the satisfaction of wants or the creation of utilities

https://www.merriam-webster.com/dictionary/productive

Saya pernah cerita sebelumnya tentang gimana saya punya banyak waktu lowong sepulang kerja setiap hari, yang sebenernya membawa banyak kesenangan sih. Misalnya, saya jadi punya buanyak waktu untuk nonton Netflix. Kadang, kalau rajin, saya bisa masak masakan yang mudah dimasak, seperti pudding, spageti, yang tidak menggunakan lebih dari 5 macam bumbu. Kalau lagi rajin banget, saya bisa olahraga, main dengan ponakan, nonton film di bioskop, ngeblog, atau baca buku.

Santai ya?

Iya! Saya sering banget merasa ‘bersalah’ menghabiskan waktu saya dengan kegiatan yang kok kayaknya nggak berisi. Apalagi kalau misalnya saya tanpa sengaja mampir ke artikel yang menulis tentang sosok-sosok muda yang udah berbuat sesuatu yang besar. Misalnya, kampanye lingkungan Greta Thunberg yang mendunia (16 tahun), terpilihnya rektor termuda untuk universitas di Malang yang baru berusia 27 tahun, termasuk juga baca berita tentang Awkarin yang bagi-bagi nasi ke orang-orang yang sedang demo, beberapa waktu lalu.

Melihat mereka, saya sering berfleksi, “apa hal berguna yang bisa gue lakuin dengan waktu gue yang banyak ini ya?“. Yang paling dekat ini, waktu merasakan asap di kota saya ini yang nggak hilang-hilang. Ini mungkin udah masuk bulan ke-2 atau ke-3 kota ini diselimuti asap. Tiap hari bangun dengan bau asap, bikin kesel. Tentunya, nggak sehat juga. Tapi, kesel juga nggak ada gunanya. Paling mentok, saya “manggil” Ibu Menteri Kehutanan di IG story, berharap ada hasilnya (walopun tentu saja tidak ada). Pengen berbuat sesuatu untuk ngurangin asap, tapi berbuat apa? Gabung tim BNPB untuk bikin hujan buatan? Bagi masker di jalan? Bingung.

Ujung-ujungnya, pertanyaan saya menguap begitu saja ke udara. Tanpa aksi nyata. Dan saya pun cuma bisa pasrah dengan khayalan bisa bangun bagi dan menghidup udara segar dalam waktu dekat.

Tapi ya saya nggak mau nyalah-nyalahin diri amat. Meskipun nggak berbuat sesuatu yang besar, paling enggak, saya juga berkontribusi untuk hal-hal kecil. Untuk lingkungan misalnya, mengurangi banget penggunaan botol plastik dan kantong plastik, atau nggak buang sampah pada tempatnya, atau nggak sembarangan bakar sampah (yang banyak terjadi di sini, huf!).

Untuk diri saya sendiri, waktu-waktu luang saya juga sedikit mulai digunakan untuk hal yang berfaedah. Contoh, badan saya sudah kooperatif untuk bangun pagi dan berolahraga 20-60 menit (tergantung bangun jam berapa haha). Ritual beribadah 2 kali sehari, sudah bisa saya jalankan sekali sehari, dengan cukup rutin. Yang satunya lagi masih sering terlewat. Meskipun ada buku yang masih nongkrong di halaman itu-itu saja sejak 2 minggu terakhir, paling enggak saya berhasil menyelesaikan reading challenge dari Goodreads untuk membaca 10 buku tahun ini.

Buat saya, tolak ukur produktivitas paling simple adalah peningkatan frekuensi menulis dan membaca, yang semakin susah dilakukan, karena Netflix (lagi-lagi, haha). Makanya, pencapaian di Goodreads, jadi sesuatu.

Peer saya untuk menjadi produktif tentu masih banyak. Masih ada kerjaan sampingan yang saya pending terus dan belum tersentuh. Sambil nulis ini, saya sudah menyiapkan dan bertekad membuat progress dengan kerjaan tersebut. Ada juga curtain dapur yang belum saya pasang, padahal udah ada barangnya. Buku yang baru dibaca beberapa halaman tapi belum dilanjutin lagi karena teralihkan dengan Netflix, harus segera saya sentuh. Saya belum cuci mobil, belum cuci sepatu, belum bersihin sarang laba-laba di rumah…

Jadi, tanpa mengecilkan hati, kalaupun belum ada objek kegiatan yang berdampak untuk kota, bangsa, atau dunia, paling enggak saya harus bisa mengurangi to do list saya satu persatu sebelum tahun ini berakhir. Dengan begitu, waktu kosong saya tadi dijalani dengan lebih berguna.

Semoga pemakluman saya terkait produktivitas pribadi, sudah di jalan yang benar.

Kamu gimana? Sudah merasa cukup produktif tahun ini? Cuma mau bilang, tahun 2019 tinggal 49 hari lagi!

PS: Foto di atas adalah salah satu momen paling produktif tahun ini. Jadi MC di acara keagamaan, yang sangat menggenapkan niat saya untuk jadi produktif :)

3 thoughts on “Niat Menjadi Produktif

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: