Apa Cerita Kamu?

Waktu masih kerja di koran, penugasan pertama saya adalah untuk halaman anak muda yang terbit setiap hari Minggu. Nama halamannya “Move”. Untuk terbitan mingguan ini, Move dapat jatah 1 halaman penuh.

Artikel utama Move adalah rubrik “Ikon”. Isinya, tulisan feature hasil wawancara dengan tokoh anak muda berprestasi. Lalu ada opini pembaca tentang topik yang diangkat minggu itu. Kalau kebetulan ada kegiatan Move off air (kunjungan ke kampus, atau kantor kami yang dikunjungi anak kuliahan), ada liputan kecilnya juga di halaman Move.

Tiap hari Rabu, tim Move akan mengadakan rapat untuk melaporkan setiap rubrik yang akan ditulis untuk 2 minggu berikutnya. Khusus untuk rubrik Ikon, tim akan membahas siapa tokoh yang akan ditulis. Tokoh anak muda berprestasi biasa didapatkan dari undangan event untuk kompetisi anak muda, yang lalu mempertemukan kami dengan pemenang/peserta yang ternyata punya cerita menarik. Kadang, kalau kebetulan nonton berita atau baca koran lainnya, dan ada cerita menarik, bisa juga jadi usulan. Tim Move juga biasanya mendapatkan referensi dari tokoh yang diundang di Kick Andy (sebaliknya, ada juga kesempatan di mana Kick Andy mengundang tokoh yang diwawancarain di Move). Di rapat Rabu itulah, semua dibahas.

Setelah diputuskan, mereka yang ditugaskan untuk Move akan membuat janji untuk bertemu dan mewawancarai si tokoh. Kalau jadwal sudah dikantongi, langsung deh janjian dengan narasumber untuk wawancara sekaligus foto.

Kebetulan, setelah beberapa bulan berjalan, saya juga mulai ditugaskan untuk wawancara dan bikin tulisan untuk Ikon. Waktu awal bekerja, tulisan saya akan diterbitkan dengan nama editor karena banyak perbaikan dari tulisan awal. Beberapa bulan kemudian, setelah saya lulus probation, dan kualitas tulisan dirasa sudah ‘layak”, tulisan saya akan terbit dengan nama saya. Satu demi satu cerita pun saya dengar, satu demi satu artikel pun terbit.

Di sinilah, saya ketemu banyak tokoh-tokoh anak muda yang hari ini bikin saya ‘wow‘.

Inget loh ya, 7 tahun lalu usia saya masih muda belia. Menemukan orang yang jauh lebih mudah dari saya, dengan prestasi besar, seperti menang kompetisi internasional, atau mencetuskan ide brilian tertentu, sering bikin saya terkagum-kagum. Dan, karena mereka ini adalah ‘orang biasa’, bukan artis, jadi nggak terlalu ada perasaan gugup pas ketemu. Apalagi, mereka juga ramah-ramah, beberapa malah pemalu, karena ya kan masih kecil. Adanya malah diam-diam excited saat wawancara.

Setelah selesai, semua hasil wawancara akan saya tuangkan menjadi artikel. Garis besar tulisan adalah tentang perjalanan tokoh ini, dengan segala jatuh bangunnya, mengerjakan apa yang dilakukan sampai ia diwawancarai hari itu. Khusus Ikon, tulisan disajikan dalam bentuk tanya jawab supaya lebih ‘mudah’ dibaca untuk anak muda (dibanding artikel panjang).

Karena ini adalah bagian dari kerjaan, lama-lama aktivitas ini jadi rutinitas aja. Selesai wawancara, ngetik, tulisan terbit, info ke narasumber, ngucapin terima kasih, begitu setiap minggu. Lama-lama, ketertarikan pada cerita yang saya dapat pun, di level ‘biasa aja’.

Sampai pada suatu hari, saya tiba-tiba terima SMS dari salah satu orang tua yang anaknya pernah saya wawancarai. Isi SMSnya kurang lebih mengucapkan terima kasih kepada saya, sebab berkat tulisan Ikon di Move, anaknya mendapatkan beasiswa dari salah satu universitas. SMS itu pun saya terima udah cukup lama dari waktu saya wawancara anak ini.

Rasanya waktu nerima SMS itu, nggak terdefinisikan. Saya ingat waktu itu SMS-nya saya baca di atas motor. Saya senyum-senyum setelahnya.

Nama anak ini muncul di rapat redaksi karena ia menjadi drummer cilik perempuan yang baru aja tampil dengan salah satu musisi ternama. Di sesi wawancara, ia pun bercerita bagaimana mamanya sangat mendukung hobinya walaupun ada keterbatasan ekonomi. Karena masih kecil, saya pun kontkan dengan mamanya untuk janjian wawancara. Sampai sekarang, anak ini pun masih konsisten jadi salah satu drummer cewek yang semakin sering berkolaborasi dengan musisi kece tanah air. :’).

Di lain kesempatan, saya menginjakkan kaki pertama kalinya ke Universitas Indonesia untuk ketemu narasumber saya yang lain. Kami ketemu di sela jam kuliahnya. Obrolan dilanjutkan di perpustakaan UI yang waktu itu baru diresmikan.

Di usianya waktu itu yang baru 20 tahun, narasumber saya ini telah mempunya misi untuk bisa melahirkan pemimpin muda Indonesia. Besar ya mimpinya. Pada masa itupun, concern-nya pada anak muda sudah ia jalani selama 5-6 tahun ke belakang dengan mendirikan perpustakaan kecil-kecilan dan beberapa gerakan lainnya.

Konsistensinya pada bidang pendidikan dan anak muda terus ia jalankan hari ini. Ia menjadi salah satu pencetus sekaligus pendiri platform digital yang menghubungkan guru dan murid, yang iklannya sering kita dengar di media massa, dan bahkan sudah menjadi sebuah platform belajar gaya masa kini, yang dikenal anak-anak daerah (termasuk ponakan saya). Kebetulan ada arsip tulisannya ini di sini.

Kemarin, berita tentang 7 anak muda yang diangkat menjadi staf khusus kepresidenan wara-wiri di grup Whatsapp dan portal berita. Setelah membaca, rupanya salah satu staf juga pernah saya wawancara untuk Move, tahun 2012 lalu. Waktu itu, narasumber saya ini baru memulai langkahnya untuk mendirikan lembaga micro financing bagi warga desa. Wawancara berlangsung di daerah Bogor, dekat pemukiman penduduk, tempat ia menjalankan kegiatannya ini.

Dengan konsep pinjaman berbunga kecil, ia bercerita tentang mimpinya untuk membantu warga desa agar bisa mengembangkan usahanya tanpa terbelit hutang, lewat yayasan yang ia dirikan. Siapa sangka, berawal dari ruang kantor yang sederhana kala itu, kemarin ia berdiri gagah di depan Istana Presiden dengan dresscode putih hitam, bersama 6 staf khusus milenial lainnya. :’).

Efek setelah melihat nama tokoh tersebut muncul mendampingi Pak Jokowi, atau melihat tayangan pendiri platform digital guru dan murid berdiri di samping tokoh-tokoh besar tanah air, sama seperti perasaan saya waktu terima SMS di atas motor.

Ada rasa bangga karena melihat mereka yang pernah saya wawancara waktu itu, tanpa intensi dan pengharapan apa-apa, dan murni ingin membagikan ceritanya untuk pembaca Move, hari ini menjadi ‘seseorang’. Bangga karena saya pernah bertemu dan mendengar awal cerita mereka. Dan juga ikut bahagia, karena mereka berhasil mewujudkan mimpinya, tidak hanya mimpi pribadi, tapi juga untuk Indonesia.

Senang sekali.

*

Pada dasarnya, ada dua situasi yang kita hadapi saat berhadapan dengan cerita seseorang. (Dalam konteks ini, lebih kepada cerita tentang keinginan, impian, atau misi besar ya, nggak terlalu berlaku untuk curahan hati.)

Sebagai pendengar cerita, jadilah pendengar yang baik. Mereka yang bercerita, memberikan kepercayaan kepada kita untuk menerima cerita mereka. Apalagi, kalau itu adalah sesuatu yang personal. Nggak mudah loh berbagi cerita tentang keinginan pribadi. Seringkali, kalau kita mendengar cerita itu dengan baik, apalagi kalau cerita itu adalah sesuatu yang inspiratif, kita juga bisa ikut bersemangat. Minimal, ada energi baru yang kita terima, setelah mendengarkan cerita tersebut.

Sebagai pencerita, apapun itu ceritamu, berikan cerita yang jujur. Kalaulah ceritamu adalah sesuatu yang besar, yang mungkin orang anggap sebagai mimpi belaka, abaikan. Sekecil apapun yang kamu kerjakan, akan bisa jadi sesuatu yang besar, kalau dijalankan dengan hati dan konsisten (note to self). Tokoh-tokoh hebat yang saya temui di Move, jadi buktinya. :).

Menutup postingan ini, saya ingin berterima kasih lagi kepada Move yang udah mempertemukan saya bertemu dengan banyak tokoh inspiratif. Untuk Mba Dian Palupi (alm) yang begitu sabar ngajarin saya nulis, benerin judul dan pemilihan kata-kata saya, terima kasih, Mba! Untuk semua orang yang ada di foto postingan ini juga, terima kasih!

Terakhir, tentunya terima kasih untuk almamater saya, Media Indonesia, yang telah menyemplungkan saya di rubrik anak muda, dan memberikan banyak cerita indah untuk bisa saya kenang termasuk di tulisan ini, dan yang telah menjadi cinta pertama saya pada dunia jurnalistik.

Jadi, apa cerita kamu?

10 thoughts on “Apa Cerita Kamu?

Add yours

  1. Makasih udah mengakal gw bernostalgia, Ci. Kita pernah bareng di desk Weekend ga sih jaman itu? Yang gw inget, kita kolab di desk Megapol buat HL luas sawah di Jakarta menipis dan para pengidap psikotik di panti sosial. Ah, memori 🙂

    Like

      1. Iya kita kolab yang bikin liputan pengidap psikotik di panti sosial. Tapi lu kan judes waktu itu (kek sekarang) bahahaha. Mgkn karena itu jarang ngumpul di kantor ya kita. Lebih ikrib pas di olahragaa!

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: