New York – Keamanan, Penginapan dan Persiapan Lainnya

Salah satu keywords Google yang saya gunakan sebelum jalan-jalan ini adalah : Is New York safe for woman solo traveler? 

Hasilnya, 95% mengatakan: iya. 

Tapi biarpun gitu, beberapa artikel tetap menuliskan hal-hal yang perlu kamu perhatikan (khususnya wanita) kalau jalan-jalan sendiri di New York. Hal yang sebenarnya sangat dasar dilakukan untuk perjalanan ke manapun oleh siapapun, misalnya: hati-hati di kendaraan umum, waspada dengan scam kalau ke tempat-tempat ramai atau diajak bicara homeless, atau lebih mawas diri kalau di tempat sepi. 

Setelah mengamalkan pesan dan beragam tips jalan yang saya temukan, yang memang berguna, berikut ini mungkin catatan sampingan lainnya berdasarkan pengalaman jalan-jalan kemarin, yang bisa jadi tambahan pertimbangan kamu kalau bepergian ke sana (baik sendirian, maupun dengan grup kecil).

Sebagian besar, mengulang dari website yang udah kamu baca, tapi tentunya dengan referensi pribadi plus beberapa kebodohannya. Maksudnya, saya.

Tinggal di Hostel 

Setelah Googling kesana kemari, saya memilih HI Hostel untuk salah dua tempat penginapan saya. Di NY, saya menghabiskan 4 malam di HI Hostel, dan 2 malam di Washington. 

Hostelling International (HI) is a charity that manages a federation of not-for-profit youth hostel associations. Our Youth Hostel Associations such as YHA, Stayokay and DJH combined provide a network of hostels in more than 80 countries.

Di NY, saya ambil kamar untuk 6 orang – female dorm. Saya nggak punya ekspektasi dengan kamar yang saya pesan. Tapi, setibanya di kamar, saya cukup puas. Kamarnya luas. Saya yang bawa 1 koper 24” dan 1 backpack besar, bisa menaruh barang saya dengan cukup leluasa. Model kasurnya ya kasur tingkat. Untungnya, saya minta bed di bawah, dan dikasih. Jadinya, saya bisa selip-selipin barang printilan (alat mandi, alat make up, sepatu, dll) di bawah kasur. Sisanya, baru ditaruh di locker dan di ujung kasur. Kamar mandinya juga bersih. Ada hair dryer (penting). Ada breakfast juga (penting, untuk beberapa orang). Ada kitchen, kalau kamu suka masak, bisa banget masak di sini, karena peralatannya lengkap. 

Karena HI Hostel ini juga berbasis komunitas, instead of just a lodging business, mereka juga punya jadwal setiap hari yang bisa jadi tempat berkumpulnya para pelancong yang nginap. Akan berguna kalau yang tinggal adalah orang macam saya  – yang berangkat sendiri, tapi kadang nggak pengen sendiri-sendiri amat. Misalnya: tur ke area sekitar NY, welcoming party, bar hop on/off, stand up comedy night, dan lain-lain.

Waktu di DC, saya ikut Capitol Hill Tour, dan kenalan dengan satu orang Indonesia, yang kebetulan tinggal di HI Hostel juga. Dari hostel di DC juga saya ketemu teman baru asal Taiwan yang lagi kuliah jurnalistik di Arizona, lalu kami bertiga nonton Times Square Ball Drop di malam tahun baru (akan dituliskan di postingan terpisah).

Quick Tips: 

  • Pilih bed yang di bawah (biar lebih leluasa, nggak usah manjat-manjat kalau kebelet tengah malam, dan dapat space tambahan).
  • Nggak perlu bawa hairdryer + handuk (karena disediakan)
  • Ikuti daily activity-nya, untuk nambah temen baru! Kalau kamu malas bikin itinerary, bisa juga nginep di sini karena tiap hari pasti udah ada kegiatan.

Tinggal di Airbnb

Karena pergi pas libur natal dan tahun baru, harga hotel di New York pun meroket. Saya pun consider ambil Airbnb, selain HI Hostel tadi. Nah, kalau kamu Googling soal Airbnb di NY, akan muncul banyak artikel yang mewanti-wanti kalau banyak scam untuk Airbnb di NY. Temen Indonesia saya yang saya kenal di DC pun sempat hampir jadi korban (tapi untungnya CS-nya Airbnb responsif, jadi sebelum tanggal dia check in, dia udah dikasih airbnb baru + full refund untuk airbnb sebelumnya). 

Pencarian Airbnb saya cukup lama. Soalnya banyak apartemen yang cantik banget (fotonya), di lokasi yang bagus, hampir memenuhi khayalan babu saya untuk bisa bangun dengan pemandangan skyline Manhattan *lalu ngetik di depan laptop kayak Carrie. Haha! Cari sana sini, saya menjatuhkan pilihan saya pada Airbnb milik Tracy. Dari review dan segala-galanya, semua tampak oke. Kecuali, kamarnya memang tidak terlalu kecil (yang saya sudah ‘note’ dari awal). 

Di Airbnb ini, saya nginap 4 malam. Saya menempati salah satu kamar di sebuah apartemen yang cukup besar di daerah Midtown. Lagi-lagi, kamar ini sangat menyenangkan. Sekali lagi, kamarnya cukup kecil. Jadi kalau saya berdua, mungkin nggak nyaman lagi. Tapi karena sendiri, pas banget. Di kamar, tersedia radio dan TV yang jadi ‘teman’ saya setiap kali saya balik kamar. WC dalem juga (kayak kos-kosan).

Ada juga dapur dengan makanan, minuman, alat masak (lagi-lagi), yang sangat lengkap, yang bisa dipake. Oleh Tracy, saya juga ‘diberikan’ satu kulkas kecil khusus yang bisa saya taruh apa aja. Plus lagi, lokasi apartemen yang di daerah Midtown, seperti saya sebutkan di postingan sebelumnya, membuat apartemen ini jadi tempat yang sangat strategis untuk kemana-mana. Happy banget deh tinggal di sini. Bangun pagi pun semangat karena pengen duduk di dapur kecilnya.

Jadi, saya senang sekali dengan Airbnb Tracy! 

Quick Tips: 

  • Riset yang lengkap untuk Airbnb. Baca reviewnya dari yang terbaru sampai terlama. Kalaupun terbaru, lihat bulan terbarunya. Semakin dekat dengan jadwal check in kamu, semakin bagus, karena berarti masih update. 

Subway, FTW

70% aktivitas muter-muter saya selama di New York, diselamatkan oleh Subway dan Bus. (25% jalan kaki, 5 % Uber).

Rasanya, 90% daerah (cmiiw) di New York sudah terintegrasi dengan subway, bus, train, yang dikelola oleh MTA (Metropolitan Transportation Authority) New York. Karena cakupannya yang luas, kamu jelas bisa kemana-mana dengan angkutan umum ini. 

Pas di sana, saya betul-betul manfaatin angkutan umum. Untuk naik ini, kamu cukup membeli Metro Card seharga $33 untuk 7 hari penggunaan. Dengan biaya segitu, kamu bisa naik subway, bus dan semua yang terintegrasi dengan MTA, secara ‘gratis’ (udah dibayar di depan kan ya). 

Untuk tau kemana naik apa, lewat mana, nunggu di mana, saya mengandalkan Google Maps. Ada juga sih app khusus MTA tapi akhirnya nggak saya download, karena Google Maps sudah sangat membantu. Yang paling bingung, cuman waktu memlih stasiun. Karena, dalam satu perempatan, biasa ada 2-4 stasiun yang akan mengantar kamu ke tempat berbeda – Downtown dan Uptown. Ada yang bisa nembus, ada yang nggak bisa (jadi kalau salah, kamu kudu keluar dulu, baru nyeberang). 

Untungnya, setelah 7 hari di sana, otak saya mulai pinter untuk bisa memahami stasiun mana yang harus saya samperin.

Quick Tips: 

  • Kalau nyasar, tanya orang. TAPI, belum tentu kamu akan terbantu, karena beberapa kali yang saya tanyakan, ternyata pendatang. Kalau udah begitu, 1) coba cari petugas (banyak yang nggak ada petugas), atau 2) stay cool sambil cek Google Maps kamu lagi.
  • Kadang, dari perjalanan dari A menuju E, rute subway berubah di C. Nah, kalau udah gitu, coba refresh Google Maps kamu agar kasih direction dari Your Location to E. Biasa, ada info lebih update untuk subway yang kamu perlu naiki (karena kadang rutenya suka berubah mendadak kalau ada rel yang rusak, misalnya). 

Koper, Sepatu, Portable Charger (Powerbank) = Penting!

Sebelum berangkat, saya tanya teman saya yang tinggal di New York : Susah nggak ya bawa-bawa koper dari bandara ke kota, pakai subway? Jawabnya, “Enggak kok, Vin. YANG PENTING, pastiin roda koper kamu baik-baik aja supaya nggak susah dibawa. 

Waktu dibilangin begitu, saya mah ketawa-ketawa aja. “Ya iyalah aman pasti kalau koper!”, pikir saya. 

Tapi oh tapi, tepat saat saya akan menarik koper saya ke lobi apartemen di hari keberangkatan, salah satu roda koper saya tiba-tiba pecah. Nggak bisa ditarik lagi. Lol. Untungnya, ada koper lain yang bisa dipakai. Jadi, langsung deh secepat kilat saya pindahin semua barang ke koper lain. Berkaca dari hal ini, sungguhlah pesan teman saya sangat berharga. Nggak kebayang kan kalau roda kopernya pecah di airport, atau setibanya di New York. Karena itu, pastiin koper dan roda koper kamu dalam kondisi prima sebelum berangkat ke mana-mana! 

Sepatu juga nggak penting, tapi penting. Usai membereskan koper pengganti saya, saya pun bergegas ke lift. Di tengah jalan, saya baru sadar kalau sol sepatu yang saya pakai, mau copot (karena udah lama nggak dipakai). Untungnya saya bawa cadangan juga, jadi langsung saya ganti pas di perjalanan.

Dari 3 sepatu yang saya bawa, cuma 1 yang akhirnya paling saya sayang, sepatu yang paling buluk dan rencananya saya jadikan cadangan. 2 sepatu lainnya – boots untuk gaya, dan sepatu baru ternyata masih sakit. Kamu yang suka jalan-jalan, pasti udah punya lah sepatu andalan ya. Udah pake yang itu aja, atau paling enggak tetap dibawa. Mau gaya boleh, tapi kalau pedih kakimu, mau gaya apa juga udah nggak asik. Hidup sepatu buluk!

Kemungkinan besar, kamu akan menghabiskan lebih dari 10 jam di luar penginapan waktu jalan-jalan. Jadi, supaya kamu bisa berangkat dan kembali ke penginapan dengan selamat berkat Google Maps, bawa deh portable charger. Beberapa tahun terakhir, saya nggak pernah bawa ini lagi. Tapi demi trip kemarin, akhirnya saya beli (walopun akhirnya ketinggalan di Hostel DC). Dan, sangat membantu!

Uang 

Apa lagi yang paling penting dari jalan-jalan selain persiapan yang matang? Apalagi kalau bukan uang.

Untuk jalan-jalan kemarin, terus terang saya sangat terbantu dengan M-Card Jenius. Jauh sebelum perjalanan ini, saya udah ngetes Jenius untuk fitur penggunaan mata uang asing. Saya penasaran aja, bener nggak nih kalau bayar pakai card, nggak ada charge tambahan? Atau, berapa banyak sih toko yang nerima kartu ini? Repot nggak sih makenya?

Setelah kunjungan ke beberapa tempat, saya makin percaya diri kalau kayaknya Jenius bisa jadi solusi saya untuk trip ini. Dan ternyata, betul! 

Di kedua kota yang saya datangi, hampir semua tempat menyediakan mesin pembayaran semacam EDC, yang bisa digunakan dengan swipe, insert chip, atau tap. Dengan m-card saya, kartu biasa digunakan dengan chip, atau tap. Kalau chip, cuma diminta PIN-nya. Kalau tap, ya tap aja. Naik subway pun, pas kartunya lagi error, saya pakai Jenius. Bisa juga! 

Saking seringnya pakai Jenius, cash yang sudah saya siapkan, nggak terlalu kepakai. Jenius bantu banget deh, mulai dari di tempat makan, belanja, atau bayar sisaan penginapan. 

Quick Tips: 

  • Kalau pakai Jenius, jangan lupa aktifkan dulu mata uang asing yang ingin kamu pakai. Soalnya, pas percobaan di Singapura, saya lupa aktifkan. Alhasil, saldo terpotong adalah tabungan Rupiah saya yang malah bikin mahal. 
  • Cash saya hanya ⅓ dari total biaya yang saya siapkan. Dan, cukup kok.
  • Ini bukan iklan bayar.

Lain-lain

Ini bagian receh-receh yang nggak masuk kelompok apa-apa. Soalnya, panjang bener nih tulisan. Khawatir kamu yang baca, keburu ngantuk. Haha. 

  • Nggak usah bingung kasih tip berapa tiap kali makan. Se-ekspresif dan mungkin se-nggakmaurepot itu warga Merika, sehingga nilai tip sudah tertulis di nota rumah makan kamu, dimulai dari 15%, 18%, hingga 20%. Tempat seperti McD (nggak tau kalau KFC), nggak nerima tip. 
  • Setiap kali makan di resto, makanan saya selalu nggak habis karena porsinya yang dahsyat. Kalau mau kamu bawa pulang makanan, bilang “Please wrap this meal up”. Soalnya, saya sempat bingung waktu ditanya, ‘mau wrap up?”. Saya pikir ditanya, apa udah mau minta bill. Ternyata, maksudnya: mau dibungkus nggak.
  • Adegan ini keren banget kalau di film: jalan cepat sambil dengar lagu di earphone, plus bawa secangkir kopi? Di saya, dengerin earphone sambil jalan emang asik. Apalagi dengan pemandangan dan cuaca yang asik macam di New York. Tapi kalau di Subway, Bis, atau di momen kamu agak ragu dengan lokasi tempatmu berada, ada baiknya earphone dilepas dulu. Kembali ke topik awal tulisan terkait keamanan jalan-jalan sendiri di New York, ada 2 alasan kenapa jangan kebablasan pas gaya pake earphone. 1) Kalau di Subway, takutnya station kamu kelewatan karena kamu keasikan denger lagu, bukan ngintipin nama stasiun tempat kamu seharusnya berhenti, atau 2) Biar lebih aware dengan sekeliling aja gitu. Apalagi beberapa station, agak kumuh, gelap, dan sepi.  
  • Untuk jalan cepat sambil megang secangkir kopi bak adegan Devil Wears Prada atau film Hollywood lainnya, saya gagal total sih. Yang ada, kopinya tumpah ruwah kemana-mana bleber berantakan. Jadi, abisin aja dulu kopinya di tempat, baru jalan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s