Minggu-Minggu yang Cepat

Masih kaget-kaget sendiri ngebayangin pergerakan dunia selama 2 minggu terakhir. Tiap hari, berita soal Covid-19 bergerak dengan cepat. 2 minggu lalu nggak ada apa-apa di Banjarmasin. 2 hari lalu, semua sekolah meliburkan murid-muridnya, dan beralih ke belajar dari rumah.

Fiuh.

Saya termasuk grup yang nggak panik-panik amat waktu wabah ini mulai muncul, di akhir Januari lalu. Sampai bulan lalu pun masih nggak terlalu. Kecuali melipir ke mini market untuk beli beberapa botol sabun cuci tangan buat di kantor dan di rumah, saya nggak beli apa-apa lagi. Tisu basah, sanitizer, saya pakai seadanya yang saya punya aja, dan baru mampir ke minimarket waktu udah abis (belum abis sampe sekarang).

Minggu lalu, saya berangkat ke Pontianak. Karena tidak ada rute langsung, saya pun transit di Jakarta dulu satu malam. Di Pontianak, saya menghadiri kegiatan agama dengan peserta hampir 200 orang. Tentunya, waktu kegiatan berlangsung, himbauan untuk tidak berkumpul dalam rombongan besar, belum begitu santer. Kegiatan yang dilangsungkan di hotel berjalan normal. Pihak hotel pun menyiapkan hand sanitizer di pintu masuk. Beberapa peserta juga sudah was-was, dengan pakai masker, ada pula yang pake sarung tangan dokter yang warna ungu. Lucu sih yang pake sarung tangan. Tapi saya nggak heran juga, mengingat perkembangan berita yang begitu cepat tadi, si Ibu berhak banget pake sarung tangan.

Setelah 3 malam di Pontianak, saya terbang ke Jakarta lagi untuk menginap satu malam sebelum balik ke Banjarmasin. Di momen ini, saya mulai khawatir. Kebetulan, salah satu teman yang juga pekerja media, memberikan banyak fakta di lapangan tentang penanganan virus ini. Mulai dari pengecekan di RS rujukan yang masih ada celanya, pergerakan pemerintah, dan lain-lain yang kamu pun pasti udah tau.

Saya yang tadinya cool pun, jadi nggak anteng lagi. Pas di bandara Jakarta untuk penerbangan pulang, saya mulai was-was. Apalagi waktu ngeliat 80% orang di bandara mengenakan masker. Saya langsung mikir, “Yang menakutkan itu karena virus ini nggak ketauan bentuknya apa, penampakannya gimana, dan akan menghampiri siapa”. Ibaratnya, warga satu dunia lagi melindungi diri dari sesuatu-yang-tidak-keliatan. Ngeri kan? Ngeri sih.

Alhasil, waktu di bandara, ‘film-film’ soal perjalanan virus ini, apakah orang ini habis berinteraksi dengan orang yang berpotensi terkena virus, apakah kursi saya bersih, apakah pegangan tangga ini steril, dan pikiran aneh-aneh lainnya, terus berputar di otak saya. Waktu itu itu, himbauan social distancing mulai ramai disuarakan (di sosial media). Kampanye #dirumahaja makin banyak dipakai di postingan orang-orang. Percayalah, untuk saya yang waktu itu harus mengantri di bandara, ngeliat orang ngantri panjang dan maskeran, duduk di waiting room, naik pesawat, pergerakan masyarakat di luar sana yang lagi gencar-gencarnya menjaga jarak satu sama lain, sungguh bikin saya deg-degan. Belum lagi waktu saya baca artikel tentang betapa beresikonya bandara dan pesawat sebagai tempat transmisi si virus.

Huff lagi.

Di tengah waktu-waktu menunggu, muncul berita berisi statement dari walikota Banjarmasin yang menghimbau agar semua yang baru tiba di Jakarta, untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari ke depan. Jadi, siapa saja yang sebaiknya melaksanakan himbauan tersebut? Saya, salah satunya.

Jadi, hari ini, atas permintaan pribadi sekaligus kantor, saya pun kerja dari rumah aja. Saya bilang, ini untuk kebaikan bersama. Tentunya kita amit-amit ya akan kenapa-kenapa, tapi sekali lagi, demi kebaikan bersama, saya nggak papa di rumah aja, walaupun saya jauh lebih senang ngantor.

Kemarin, saya chat dengan salah satu kenalan yang tinggal di Jerman. Usai menanyakan kabar masing-masing (tentunya kabarnya di Eropa yang lebih kurang baik dibanding saya di Kalimantan), saya menutup chat dengan “semoga dunia kembali pulih biar segera normal kembali”, yang dibalas dengan “iya, Vin. waktunya refleksi juga“.

Dan, ya, refleksi.

Kamu pasti juga sudah liat kan beberapa ‘dampak positif’ dari satu dunia yang lagi #dirumahaja, atau #workfromhome, yang lagi mengamalkan social distancing, atau kota-kota yang dikarantina? Air di kanal Venice, Italia, tiba-tiba jadi bersih sampe ikan dan angsa pun keliatan¬†lagi; tingkat polusi udara di beberapa negara juga menurun drastis. Belum lagi kalo liat video warga Italia yang menghadapi lockdown dengan nyanyi-nyanyi bareng dari balkon rumahnya. Bagus dan indah :).

Dan yang paling bikin saya senang dari momen ini, kebijakan #dirumahaja betulan bikin keluarga-keluarga bisa ngumpul. Bapak, ibu dan anak bisa main-main lagi (seperti foto halaman pertama Media Indonesia 16 Maret lalu, yang bikin hati saya adem). Walopun tampaknya banyak ibu-ibu yang kebingungan memberikan aktifitas untuk anaknya di rumah, tetap semangat, Bu-Ibu! Coba kalau nggak ada ‘paksaan’ demikian, mungkin beberapa anak udah jarang main sama ibunya (karena lebih sering main sama hp-nya). Mereka yang sehari-harinya bekerja keras pun, bisa bernafas sejenak berkat kerja dari rumah.

Mungkin betul ya, refleksi. Mungkin bumi meminta kita, manusia, untuk istirahat sejenak. Mungkin bumi sedang di fase ‘deep cleaning’ untuk membersihkan tanah, laut, dan udaranya. Mungkin kita diminta untuk berjalan sedikit lebih pelan, menghargai tubuh, kesehatan, dan segala kebaikan yang kita sudah punya.

Tentunya, di tengah kita-kita yang lagi rajin berdoa supaya ilmuwan segera menemukan vaksin, supaya tenaga medis selalu fit dalam melaksanakan tugasnya, supaya pemerintah segera mengambil langkah untuk menahan penyebaran, kita cuma bisa melakukan apa yang sebisanya bisa kita lakukan: Banyak istirahat, jaga kesehatan, kurangi interaksi yang tidak perlu, rajin cuci tangan.

Dan, refleksi diri.

PS: Oh satu lagi, kurang-kurangin lah nyebar pesan-pesan di Whatsapp grup. Nggak ada pahalanya bikin orang tambah panik. Dari media dan grup lain pun sudah banyak pesan yang orang lain terima. Cukup berhenti di kita aja.

SEHAT SELALU, semuanya!

7 thoughts on “Minggu-Minggu yang Cepat

Add yours

  1. akupun gitu Vinny…adari yang awalnya santai-santai aja sampai sekarnag panik dan mute beberapa grup karena santer banget ngasi link berita dan gambar-gambar yang ga bikin tenang dikeadaan sepert ini.
    bener banget, aku pun berpikir Bumi lagi membersihkan dirinya dan kita bisa lihat hal2 positif yang terjadi di luar sana karena virus ini. semoga bumi cepet pulih dan pandemik ini segera berakhir.
    Tetap jaga kesehatan ya Vinny

    Liked by 1 person

Leave a Reply to vinnydubidu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: