Podcast Saya

Bahaha jelas banget judulnya ya. Iya, mau cerita soal Podcast saya nih.

Nggak terasa, Podcast-nya udah jalan hampir 2 bulan. Yaela, Pin. Baru 2 bulan. Betul sih, baru 2 bulan. Tapi, kalau menilik cerita di balik bikin Podcast, saya masih ingin berterima kasih pada diri saya sendiri karena masih tetep bertahan dengan kesenengan baru ini selama 50+ hari, dengan produksi 19 episode.

Jadi begini. Ada beberapa hal yang bikin saya senang dengan proses membuat Podcast.

Pertama, nulis (script). Awal-awal saya bikin Podcast itu, karena pada satu malam, saya ketemu paragraf bagus di buku Modern Love, yang saya baca, lalu saya rekam. Tadinya niatnya mau saya posting di IG pake gambar ala-ala gitu biar jadi video. Cuman kok agak nggak nyambung ya platform-nya. Akhirnya, malam itu, saya rekam episode pertama saya di anchor.fm.

Kejadian malam itu menjadi awal kesukaan saya menulis selama bikin Podcast. Karena ada beberapa buku yang berkesan buat saya, saya mulai menjadikan buku-buku ini sebagai meteri untuk script Podcast. Proses menulis ulang buku ini atau semi review (soalnya nggak review-review banget) rupanya cukup saya nikmati. Akhirnya, tiap akan bikin episode baru, saya selalu bikin script. Malah jadinya nggak bisa kalau bikin episode baru, tanpa script. Nggak pede ngomongnya karena pasti akan salah-salah. Minimal ada ketikan yang bisa dicontek. Haha.

Kedua, janjian. Sebelum pandemi, saya udah jarang banget bikin janji. Janji ketemu temen, janji nelpon temen, atau janji-janji apapun yang sifatnya seneng-seneng. Nah, karena segmen Podcast saya juga ada yang isinya untuk ngobrol bareng temen, otomatis saya perlu janjian sama yang ingin saya ajak ngobrol. Kebayang nggak ya, di tengah pandemi, kegiatan ‘janjian’ ini ternyata tanpa sadar bikin saya merasa excited. Excitement-nya sama dengan ketika saya bikin janji sama kawan, dan nggak sabar menunggu hari H ketemuan kami, tiba. Meskipun hanya via suara.

Ketiga, rekaman. Kalau ini, udah pasti menyenangkan. Saya sih pengen banget bisa rekaman Podcast pakai microphone yang berdiri di meja (apalagi yang ada saringan bulet antara mulut dan mic), atau di ruangan tertutup, lengkap dengan headset dan mixer. Tapi nggak lah. Namanya juga Podcast dari rumah, peralatan juga seadanya. Alat rekaman saya cuman laptop. Ngomong, denger, ngedit, semua di laptop.

Saya nggak tau juga sih kenapa, tapi proses rekaman ini jadi kayak ‘reward’ untuk saya karena udah menempuh 2 tahap awal yang sulit untuk dimulai, yakni nulis dan janjian. Jadi, saya selalu menyambut proses ini dengan rasa puas. Kalo diibaratkan dengan makan indomie goreng pake nasi putih, ini momen saya makan indomienya, setelah nasinya udah saya abisin dulu. (ada yang gitu juga nggak? Haha).

Keempat, komentar. Wah kalau ini, udah jelas terjadi setelah saya posting. Berhubung proses posting saya biasa aja, jadi ya nggak jadi sesuatu yang saya nanti-nanti. Tapi, percayalah. Sebagai manusia normal, mendapat pujian, double tap di story IG berbuah bentuk hati merah, atau repost oleh kawan, jadi sesuatu yang bikin kerja keras saya (yang nggak keras-keras amat itu) terbayarkan. Ibarat kalau indomienya udah abis, proses baca komentar ini kayak tahap minum air putih. Lega.

Apa nggak ada yang nyebelin dari proses bikin Podcast?

Ada banget. Di tengah kesenengan saya dengan 4 hal di atas, saya juga sering males bikin script. Apalagi kalau udah nggak ada bahan. Janjian dengan temen juga susah-susah gampang. Kalau yang diajak ngobrol tinggal di dunia lain (beda benua maksudnya), saya harus siap-siap nelpon temen saya tengah malem, atau pagi buta. Kalaupun sekota atau deketan, tetep harus janjian, karena saya akan ngambil waktu mereka cukup banyak. Jadi, harus dilawan banget tu si males. Jangan sampe, ‘tamu’ saya yang udah meluangkan waktunya, nggak saya treat dengan baik, karena si malas-malas itu tadi.

Saat akan rekaman, lagi-lagi, karena peralatan saya cuman laptop, kadang saya juga udah males mau ngerekam. Bayangin, udah kerja di laptop, nonton di laptop, rekaman juga di laptop. Udahlah, males juga kadang. Ngedit pun begitu. Wah, yang pernah ngedit audio, pasti kebayang ya ribetnya potong sana sini supaya rekaman kita enak didengar dengan durasi yang pas. Apalagi kalau audionya kurang bagus. Dengan kemampuan editing yang jauh dari pro, beberapa episode pun terpaksa saya post dengan audio yang kurang memuaskan, padahal ceritanya, bagus.

Bagaimana dengan bagian komentar? Uh, tentu saja di tengah komentar-komentar baik yang sudah saya terima, saya masih berharap bisa mendapat lebih banyak komentar baik lagi, alias Podcast saya didengar lebih banyak orang. Padahal, mungkin komentar yang saya terima itu adalah dari teman yang betul-betul udah niat banget dan terhibur dengan Podcast saya. Namanya manusia ya, nggak pernah puas. #jewer.

TAPI, kalau udah mengingat empat kesenangan yang saya dapat setiap kali ngerjain ini, saya jadi bersemangat lagi untuk tetap bikin episode baru. Belum lagi kalau yang saya ajak ngobrol, yang udah saya repotin untuk bisa saya telepon satu sampai dua jam, bahkan ada yang perlu ngulang, kemudian senang karena ngobrol sama saya, dan puas dengan hasil rekaman kami. Saya pun, karena ngobrol dengan mereka, jadi dapat banyak banget cerita seru yang nggak pernah saya bayangkan. Ada juga yang berawal dari Podcast, kami malah jadi sering ngobrol. Salah satunya, Mba Noni yang juga punya Podcast. PLUS, bikin Podcast ini bikin saya belajar untuk mengendalikan diri agar jangan malas, lebih rajin, dan (tetap) konsisten.

Intinya, bikin Podcast bikin senang :).

***

Menutup postingan hari ini, saya promosiin lagi ya Podcast saya. Namanya “Vinny Ngobrol”. Bisa kamu earch di Spotify, Apple Podcast, dan harusnya aplikasi podcast apa aja yang ada di HP.

Namanya Podcast dengan konten ringan, Podcast ini bisa kamu dengerin sambil cuci piring, jemur baju, nanem toge, ngadon donut kentang, sebelum tidur juga boleh. Asal ada internet aja.

Podcast Vinny Ngobrol – Ngobrol-ngobrol biasa aja, bisa dari kamar, cafe, jalan, tentang apa aja; buku, film, mungkin juga tentang hidup.

Selamat mendengarkan!

2 thoughts on “Podcast Saya

Add yours

Leave a Reply to nyonyasepatu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: