Ada Sedih di Setiap Senang

Pixabay

Hari ini, 3 September 2020, waktu setempat, saudara saya punya anak! Saya pernah nulis cerita tentang pernikahannya di sini. Yang ternyata, udah 3 tahun lalu aja.

Sepupu ini seangkatan saya. Kalau di keluarga besar, apalagi yang besar sekali (ibu dan ayah saya sama-sama 10+ bersaudara), pasti ada grup sepupu seangkatan. Nah, saya dan sepupu saya ini seangkatan, karena kami sama-sama kelahiran 80an akhir – 90an awal. Generasi milenial lah.

Tentunya, perjalanan hidup genk sepupu milenial ini beda-beda. Terkait nikah, ada yang nikah muda banget, ada yang nikah di usia cukup pas (mendekati 30), ada yang baru nikah tahun lalu (telat dikit, versi orang tua, karena udah di atas 30), dan tentunya ada yang belum nikah (yoi, salah satunya saya).

Kembali kepada kelahiran anak sepupu saya itu, semua keluarga tentunya mengucapkan selamat diikuti doa kepada sepupu dan istrinya, plus mamanya alias tante saya. Ucapan selamat pun menghiasi layar Instagram repost dari istrinya, untuk kawan-kawannya yang turut berbahagia.

Lalu, saya chat sepupu saya.

“Kamu nangis ndak pas babynya brojol?”

Dia menjawab.

Nangis, sepupu. Tapi sebentar aja, soalnya gengsi lama2“.

Haha!

Saya mungkin tahu sedikit kenapa dia nangis. Pertama, nangis terharu dong ya, melihat munculnya bayi mungil, keturunannya, dari istrinya. Yang udah dijaga 9 bulan di kandungan istrinya, dan akhirnya lahir ke dunia dengan lancar dan sehat. Ngebayangin itu aja, saya pengen ikut nangis.

Kedua, sepupu dan istirnya ini merantau jauh sekali dari Indonesia. Proses melahirkan pun saya rasa, tidak akan seheboh kalau dia lahiran di Indonesia. Kalau saya jadi dia, mungkin saya sedikit sedih karena menjalani hari spesial ini tanpa dampingan orang tua, atau saudara dekat. Hanya dengan dokter atau suster di rumah sakit, mungkin beberapa teman saja.

Ketiga, jauh sebelum lahiran, keduanya udah menjalani beraneka macam tantangan kehidupan. Mungkin ini lazim dialami mereka yang sudah menikah, soal ekonomi, keluarga, dan pilihan besar soal berkeluarga. Jadi, saat tiba di titik ini, dimana mereka bisa bersama, bahagia, dan mendapatkan anggota baru di keluarga, tentunya menjadi sebuah pencapaian yang…. saya nggak tau apa namanya, melegakan?

*

Jadi, memang ya, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang absolut. Nggak ada yang namanya bahagia 100%. Saat seseorang bahagia, pasti ada kesedihan yang bisa tiba-tiba mampir, mengingatkan kita atas kesulitan yang kita hadapi, sebelum kita mencapai kebahagiaan atau mungkin di tengah kebahagiaan itu.

Sama halnya saat kita melihat orang lain yang sedang berbahagia, kalau mau jujur, mungkin kita juga merasa sedikit sedih; sedih karena kita nggak mendapatkan kebahagiaan yang mereka alami, sedih karena justru kebahagiaannya menggelitik kegalauan kita, atau berita kebahagiaannya datang sesaat setelah kita menerima sedih, dan lain-lain. Walaupun tentunya ya kita bahagia, hingga mengirimkan ucapan selamat via IG story.

DAN, sama halnya dengan kebahagiaan, kesedihan pun bukan sesuatu yang absolut. Di setiap kesedihan, pasti ada kebahagiaan. Mungkin untuk bagian ini, sedikit lebih sulit daripada yang pertama, karena kalau sedih kan otaknya suka nggak bisa mikir. Cuman, saya percaya, pasti ada. Kalo kesedihannya diendapin sebentar, pasti kita bisa lihat hal-hal yang bikin bahagia. Mungkin juga, setelah kita temukan, kebahagiaan itu bisa jadi kunci untuk mengatasi kesedihan kita.

Menutup tulisan ini, selamat untuk keluarga baru sepupuku!

Semoga kita lekas jumpa, dengan Baby K!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s