Bapak dan Ibu

Bapak

Bapak saya punya nama Indonesia yang Indonesia banget. Berbeda dengan nama orang Tiochiu kebanyakan yang biasanya adalah Susanto, Budi, Johan, dan lain-lain, Bapak saya bernama Basri Wongso. Indonesia banget!

Bapak lahir tahun 1939. Waktu masih muda, Bapak bekerja sebagai pemborong bangunan. Profesi ini susah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Karena kalau dibilang kontraktor, bukan juga. Kesannya kan wah banget ya kalau kontraktor. Bapak ini lebih ke kepala mandor. Yang kalau ada proyek bangun rumah, atau ruko, Bapak ini yang ngawasin tukang-tukangnya.

Bapak pernah dapat proyek gede untuk bangun SPBU di salah satu daerah di Pontianak. Di beberapa kesempatan waktu kami ngelewatin SPBU ini, Bapak selalu bercerita dengan bangga, “Bapak yang bangun SPBU ini dulu“. Kayaknya itu salah satu proyek Bapak dengan pendapatan terbanyak!

Bapak juga pengagum negara Cina. Yes, Republik Rakyat Cina. Kalau diurutkan, saya ini mungkin generasi ke-5 dari kakek buyut saya waktu pertama kali ke Indonesia. Tapi dasar Bapak memang sangat rajin dengan ketigatan dokumentasi, Bapak punya alamat salah satu saudara jauhnya di Cina. Beruntung Bapak sempat ketemu mereka langsung di kampung pedalaman Cina itu. Kunjungan itu jadi salah satu wujud kecintaan Bapak dengan Cina juga, menemukan keluarga jauhnya di Cina sebagai bukti bahwa Bapak betul ada daerah langsung dari Cina (di samping kesehariannya nonton channel TV Cina, baca koran Cina, atau tau banyak sejarah negara Cina).

Ibu

Ibu lahir tahun 1949, 10 tahun lebih muda dari Bapak. Waktu mudanya, Ibu menjahit. Saya kurang jelas, Ibu pernah jadi penjahit serius atau hanya jahit kecil-kecilan. Cuman saya ingat, waktu saya SD, setiap kali imlek, Ibu akan menjahitkan 1 set baju baru untuk saya. Kadang piyama untuk malam tahun baru, kadang baju untuk hari Imlek pertama!

Ibu nggak terlalu suka masak. Ibu nggak suka nonton TV. Jadi, kalau ada ibu lain yang menyarankan Ibu untuk “nonton sinetron atau drakor aja Bu, buat ngisi waktu”, Ibu pasti senyum-senyum aja. Ibu nggak betah duduk di depan TV untuk nonton film atau berita, kecuali untuk… karoke! Wah, Ibu pecinta karoke! Lagu Indonesia favoritnya, Teluk Bayur!

Ibu dulu nyetir Vespa. Gahar banget deh. Ibu baru belajar bawa mobil di usia 60-an. Kayaknya sempat ngambil 3 kali paket, sebelum Ibu berani bawa mobil ke jalanan. Persistence banget deh Ibu kalau urusan bawa mobil, waktu itu. Bapak sempat ikut kelas 2 sesi aja, habis itu nyerah. :D.

Seiring perkembangan jaman dimana semoga orang main Facebook, Instagram dan Whatsapp, Ibu baru menjamah Facebook dan Whatsapp. Whatsappnya Ibu nggak kalah WA-nya anak SMA. Sibuk, rame, banyak grup. Kalau Facebook, belakangan sering dipakai untuk ibadah virtual. Untuk Instagram, kami nggak mengajarin Ibu, karena khawatir Ibu ketagihan haha.

Oh yah! Ibu suka nulis. Sampai sekarang, Ibu masih suka nulis di buku catatan. Apa aja ditulis, dari jam jemur baju, lokasi kunci, hingga pengeluaran.

Ibu kalau nulis juga sesuai dengan EYD. Bahasa Indonesia Ibu, menurut saya, bagus!

Image

4 thoughts on “Bapak dan Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s