Teman Baik

Menurut saya, teman saya ndak banyak. Teman yang maksudnya tau update-update hidup saya secara konsisten dan kontinue loh ya. Kalau teman di Instagram dan di Facebook ya banyak. Ratusan. Tapi kan teman maya ya itu.

Nah kalau teman baik, saya punya sih. Mereka datang dari beberapa lingkungan. Ada yang dari teman SMA. Ada dari teman kerja. Ada dari komunitas agama saya. Belakangan, ada juga teman dekat virtual. Yang betul-betul kenalan dari virtual, dan ketemu pun belum, virtual aja terus dari bertahun-tahun lalu haha.

Tapi kalau ngomongin teman dekat yang belakangan ini lagi dekat banget, saya kenalin ya.

Namanya Lauren. Lauren ini teman SMA saya. Saya ingat Lauren punya tulisan tangan yang bagus dan rapi. Yang bulet-bulet dengan tinta tebal. Lauren juga punya keterampilan tangan yang baik. Dulu dia rajin review alat make up dan skincare, kemudian dia jago masak dan bikin kue (belakangan dia jadi ‘mentor’ resep saya. Tiap dapat resep, Lauren yang mengarahkan saya secara virtual – walopun ya gagal aja tetep kadang haha), dan Lauren juga lagi seneng dengan aktifitas merajit, knitting, atau crotching. Kamu bisa liat karyanya di sini,

Di luar obrolan soal kerajinan tangan, Lauren juga kenal dengan Ibu saya dan sebagian besar abang saya. Soalnya, waktu saya nggak bisa bawa motor, abang saya yang biasa anter jemput saya, pas saya main-main ke rumah Lauren. Ini jaman SMA. Jaman kuliah, kami nggak bareng. Sampai sekarang, masih nggak bareng.

Tapi mungkin karena kami sering ngobrol via Whatsapp, banyak kisah hidup yang terus saya update ke Lauren. Sampai sekarang. Paling sering sih kalo lagi patah hati dan jatuh hati. Itu kan topik paling seru buat dicurhatin perempuwati ya.

Waktu jaman SMA, bersama Lauren dan 2 teman saya yang lain (Maria dan Siska), saya sampai pernah kepengen tukeran celana ala Sisterhood of Travelling Pants. Cuman, jaman dulu Levi’s kan mahal ya? Lalu ukuran kami beda semua haha, jadi keknya kok nggak mungkin bisa digilir untuk 4 orang.

*

Menurut saya, sebagai seorang makhluk sosial, minimal kita perlu punya 1 orang teman baik yang bisa kita hampiri pada mood apapun. Teman ini penting, untuk bikin kita tetap semangat di kala susah. Atau tetap waras di kala hampir nggak waras. Satu orang cukup. Kalau punya lima atau sepuluh, yah jauh lebih baik. Net atau jaring pengaman kamu jadi lebih banyak.

Tentunya, selain Lauren, ada juga beberapa teman lain yang saya anggap sebagai teman baik. Kalau kamu sering saya ajak bicara, minimal 1 minggu sekali, kamu juga saya anggap sebagai salah satu teman baik saya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s