Indonesia

Oversharing

ovesharing di whatsapp

Tahun 2021 dibuka dengan wah. Ibarat buku, halaman pertama bukan lagi putih, tapi butek. Dan, segemas apapun dengan coretan di kertas, kita nggak bisa maju ke halaman berikutnya, kalau ngga ada raksasa yang balikin halaman itu.

Setelah serangkaian peristiwa yang mencorat-coret halaman pertama 2021 (yang memang sudah penuh coretan bawaan dari buku sebelumnya), kemarin kita dapet lagi coretan baru. Untuk saya, coretan itu nggak lagi pakai pen pilot dengan ujung 0.1 mm. Melainkan coretan dengan spidol Snowman hitam, tebal, dan gelap.

Iya, berita pesawat.

Saya nggak bahas berita pesawatnya. Temen-temen pasti sudah denger berita itu dimana-mana.

Saya pengen curhat aja perasaan saya melihat aksi orang-orang dengan berita tersebut. Di Whatsapp grup.

*

Fenomena Whatsapp grup ini bukan hal baru. Di Twitter, sesekali pasti ada yang menyinggung fenomena pertukaran pesan di tempat ini. Kebetulan, saya termasuk pengguna aktif Whatsapp, baik untuk urusan pribadi, komunitas, maupun kerjaan. Setiap ada peristiwa besar, grup Whatsapp dari circle tertentu selalu ramai. Termasuk, berita kemarin ini.

Saya tahu berita pesawat dari pesan di Whatsapp grup. Yang baca, Ibu saya, sekitar pukul 5 sore, WIB. Kebetulan beliau lagi di rumah, sudah hampir 2 bulan terakhir, supaya lebih dekat dengan anak-anaknya. Pesan itu Ibu saya baca pas saya tengah menunggu buatan kue saya yang tengah dikukus, sembari saya menyiapkan adonan roti berikutnya untuk saya panggang. Jadi, mendengar bacaan Ibu nggak langsung membuat saya melihat grup Whatsapp tersebut, sampai 1 jam kemudian. Walaupun, pikiran saya udah langsung kemana-mana.

Setelah tangan saya bersih, saya mulai cek HP. Saya lihat salah satu Whatsapp grup. Udah panjang bener pesannya. Dari sana, tentunya saya beralih, ke Instagram. Mba Noni mengirimkan postingan berita ke saya. Ok. Dari sana saya meyakini, berita tersebut sudah pasti benar.

Tanggal 9 Desember 2020, pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya SJ-182, rute Jakarta-Pontianak, hilang kontak.

Saya tidak melanjutkan pencarian lebih lanjut tentang berita ini. Tanpa perlu membuka pesan di Whatsapp grup, saya sudah melihat sekilas pesan-pesan yang diteruskan tanpa henti di dalamnya. Manifes penumpang, rekaman tontonan televisi, hingga tautan berita.

Untuk diketahui, sebagai orang Pontianak, berita ini sungguh sangat ‘mengguncang’ perasaan saya. Sedikit lebay ya pemilihan katanya, tapi betul. Peristiwa itu terasa sangat dekat dengan saya.

Besar kemungkinan, saya pernah ada di pesawat tersebut. Jika tidak ada pandemi, mungkin frekuensi saya naik pesawat lebih sering, dan pesawat Sriwijaya penerbangan jam tersebut mungkin jadi pilihan saya karena saya suka penerbangan pagi. Jadi, dari serangkaian coretan tahun 2020 yang berlanjut ke 2021, berita ini nggak bisa saya bendung efeknya.

Sementara saya berjibaku menenangkan diri karena masih tengah berada di ruangan bersama Ibu, saya mengintip kembali grup Whatsapp. Wow, pesan semakin detil. Sedih sekali. Salah satu grup kebetulan punya interaksi dekat dengan beberapa penumpang dan keluarga penumpang. Kedekatan itu membuat pesan semakin meluber, kemana-mana. Mulai dari koneksi mereka dengan penumpang, dengan keluarga penumpang, foto penumpang yang dicomot entah dari mana dan.. saya nggak baca lagi.

Nggak lama, muncul lagi foto penumpang lain yang tidak dikenali siapa-siapa, yang kebetulan ber-swafoto dengan anak-anaknya sesaat sebelum pesawat take off. Hal yang sungguh sering saya lakukan juga sebelum terbang.

Saya speechless.

Kok bisa ya peristiwa yang sungguh sangat menyedihkan bagi mereka yang ditinggalkan, berubah menjadi ‘hot topic’ di sebuah grup Whatsapp, grup pesan singkat, yang dibahas berjam-jam, ditimpali sana-sini, oleh orang yang terus beradu seberapa kenal mereka dengan penumpang atau keluarga penumpang. Kok bisa di momen tersebut orang terus membagikan foto-foto penuh senyum dari mereka yang menjadi korban, dengan alih-alih kenangan baik semasa mereka hidup. Kok bisa ya mereka lupa gimana rasanya kalau mereka yang jadi keluarga penumpang, lalu kemudian anaknya dijadikan bahasan untuk hal yang bahkan tidak lagi relevan dengan peristiwa utama?

Dari sana, saya putuskan untuk tidak mengintip grup itu lagi. Oh yah, saya tidak keluar, sebab grup itu juga kadang membagikan pesan baik dan keluar dari grup tidak berarti apa-apa.

*

Beberapa menit lalu, saya kembali ke sana. Saya ingin melihat perkembangan manusia di dalamnya, setelah lebih dari 24 jam berjalan. Syukurlah, nada pesan berubah. Mereka yang kenal dengan keluarga korban saling menitipkan pesan agar terus berdoa dan memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Iya, anggota grup Whatsapp. Doa dan dukungan jauh lebih berharga dan penting dari adu-aduan melihat seberapa jauh kamu mengenal orang yang terkena musibah”.

*

Saya tahu, berbagi, bersimpati, sudah menjadi akar budaya para pengguna aktif Whatsapp. Tapi, berbagi dan bersimpati secara sangat berlebihan di dalam grup Whatsapp, sungguh tidak ada manfaatnya.

Saya tahu, bertindak keras di dalam grup tersebut dengan mengingatkan mereka untuk berhenti mengirimkan pesan, bukan juga hal yang bisa saya lakukan. Bukannya didengar, malah bikin runyam. Saya tidak ingin melakukan hal itu. Paham kan kalian kerumitan interaksi di grup Whatsapp. Makanya, saya juga tidak cabut dari grup tersebut.

Jadi, karena tidak bisa berkata-kata di sana, saya berkata-kata di sini saja.

*

Terhadap kegundahan ini, saya hanya selalu mengingatkan Ibu saya untuk tidak melakukan tindakan serupa, membagikan atau menanggapi pesan secara berlebihan. Kadang, saya mengingatkan keluarga dekat saya untuk tidak melakukan hal tersebut juga, walau kadang sesekali ada yang khilaf. Tapi, saya cukup bersyukur dan berterima kasih karena mereka cukup bijak dalam hal membagikan pesan. Paling enggak, mereka tidak menambah pergerakan pesan di grup manapun tempat mereka berada.

Yang juga ingin saya lakukan sekarang, mudah-mudahan untuk teman-teman yang membaca pesan ini, adalah mengajak kamu untuk melakukan hal serupa.

Saya yakin banyak dari kita yang sudah ngeh dengan hal ini sehingga sangat bijak dengan pesan yang kita bagikan. Permasalahannya, banyak orang di dekat kita belum demikian. Jadi, kalau ingin kamu juga jengah seperti saya, mungkin kamu juga bisa mengingatkan orang terdekatmu untuk tidak perlu berbagi secara berlebihan di aplikasi HP bernama Whatsapp, atau apapun. Tidak ada fungsinya. Tidak ada manfaatnya. Tidak ada faedahnya.

Kalau bersimpati, berikan dukungan langsung kepada yang bersangkutan. Entah lewat doa kepada Tuhan kamu, lewat pesan langsung, atau cukup berikan waktu dan jarak untuk mereka. Saya yakin hal itu lebih berarti daripada mengirimkan doa dan dukungan lewat grup Whatsapp.

Sharing is fine. Oversharing is not.

*

Semoga kamu selalu baik, dan kita segera mendapatkan lembaran kertas dengan coretan yang berkurang.

🙂

Leave a Reply