Indonesia Vinny  

Vaksin Yuk

Kalau alasan kamu memilih belum/tidak mau vaksin bukan karena kesehatan, terima kasih sudah memilih melanjutkan membaca tulisan ini.

.

Bulan Juli 2021 menggenapi hidup 15 bulan kita bersama Covid-19. Tergantung kamu tinggal di belahan mana, 15 bulan itu bisa jadi 12 bulan, atau 17 bulan.

Seperti yang sudah kita ketahui, semua orang menyerukan vaksin. WHO, presiden, menteri, guru, pemuka agama, artis, influencer/buzzer/instagrammer/podcaster, atasan, orang tua, atau teman. Harapannya kurang lebih sama : agar pandemi segera berakhir.

Pertanyaannya, apakah pandemi akan berakhir?

Hari ini, dengan segala kebesaran hati dan lapang dada, saya menerima kenyataan bahwa pandemi ini masih panjang. Besar kemungkinan ia akan terus ada. Nggak bisa lagi kita lari. Covid adalah lawan yang sudah tidak bisa dilawan. Tapi, dia bisa dihadapi, dengan senjata, bernama : ilmu. Sains.

Karena kamu rajin membaca, kamu pasti tau, senjata melawan Covid, yang paling nyata, ya vaksin. Caranya gampang. Satu, ke puskesmas. Dua, cek tensi darah. Tiga, disuntik vaksin, cus. Senjata yang nggak nyata bentuknya juga ada, melaksanakan prokes dan berdoa.

Tapi kan banyak yang setelah vaksin, malah meninggal? Meninggalnya kenapa? Karena Covid? Atau penyakit lain? “Banyak” itu siapa? Teman kamu? Temannya teman kamu? Atau temannya temannya temannya temannya kamu?

Tapi kan banyak yang setelah vaksin, masih kena Covid? Udah denger juga, paling enggak 1 kali deh, kalau abis vaksin memang masih bisa kena Covid. Memang Covid itu kuat, bandel, dan jahat. Vaksin memberikan kamu senjata di dalam tubuh untuk menghadapinya. Menang atau kalah, banyak faktor. Tergantung persiapan, strategi, dan jumlah pasukan kamu. Tapi, senjata kamu memegang peran besar.

Lalu apa gunanya vaksin kalau masih kena Covid? Udah denger dong, orang yang karena berbagai alasan memilih nggak vaksin, akhirnya meninggal karena serangan Covid jadi semena-mena? Udah denger juga, orang yang akhirnya memilih vaksin lalu terkena Covid, berhasil sembuh karena serangan Covid mampu diredam (si vaksin)? Terakhir saya lihat Ringgo Agus Rahman menceritakan pengalamannya sembuh dari Covid dalam kondisi sudah divaksin, di Instagramnya. Coba deh cek. Masih belum mau percaya juga kalau 90% mereka yang akhirnya meninggal karena Covid, adalah mereka yang belum divaksin? Kalau ada teman-teman yang juga ‘penyintas Covid’ pasca vaksin dan sekarang sudah sehat, jangan bosan bagikan cerita kalian kepada mereka yang mengajukan pertanyaan ini.

Beberapa teman & kenalan saya meninggal karena Covid. Bukan kenalan lingkungan terdekat, jadi saya tidak pernah tau bagaimana perjalanan sebenarnya mereka/keluarga mereka, saat teman ini berjuang. Kepada keluarga yang ditinggalkan, saya masih turut berduka. Tapi saya yakin, kalau mereka bisa bertestimoni, mungkin mereka akan iri pada kita semua yang bisa selamat karena sudah ada vaksin. Sementara, mereka tidak punya kesempatan itu, karena senjata vaksin masih disiapkan dunia, di kala mereka terserang Covid.

.

Untuk kamu yang memilih belum/tidak mau vaksin, coba pikirkan kembali dengan kepala, pikiran, dan kejujuran hati sendiri. Semua orang ingin selamat, tanpa terkecuali. Tapi, seperti kata pepatah, usaha juga ada batasnya. Bersyukurlah kamu masih diberi kehidupan dan kesempatan untuk berusaha. Ada jalan untuk memanjangkan usahamu (yang kalau kamu lanjutkan dengan cara sekarang, akan ketemu batas akhirnya). Usaha itu bernama vaksin.

Memilih tidak divaksin mungkin adalah pilihan terbaik (versi kamu) untuk melindungi kamu sendiri, karena kamu merasa badan kamu cukup kuat untuk menghadapi Covid dengan segala sel tubuh yang sudah ada di dalam tubuh kamu. Apakah orang lain punya sel sehebat kamu? Belum tentu. Jadi, selamat melindungi diri kamu sendiri.

Sebaliknya, memilih divaksin berarti memilih bertindak aktif untuk menjaga orang terdekatmu; orang tua, saudara, anak, teman, teman kerja, tukang ojek makanan, dan semua orang yang kamu temuo. Jadi, saya sangat percaya pada hal yang terus disampaikan di komunitas saya: memilih divaksin adalah hal paling mulia yang bisa kamu lakukan sebagai manusia saat ini. Pilihan kamu untuk menerima vaksin, akan menyelamatkan orang terdekat kamu.

Satu lagi, pilihan tidak mau vaksin tidak perlu dikomunikasikan dengan skema MLM, mengajak orang sebanyak-banyaknya, menyebarkan berita seluas-seluasnya, untuk mengikuti kamu. Kalau kamu masih teguh pada cerita yang membuat kamu merasa tidak mau divaksin, cukup simpan untukmu sendiri. Biarkan orang menentukan pilihannya sendiri untuk mempertahankan hidupnya, dengan cara terbaik dan nyata yang ia bisa ambil dan sudah ada di depan mata.

Pada akhirnya, keinginan kamu dan kami pasti sama, ingin bertahan, tetap hidup, dan bisa lekas bernapas bebas, setelah 15 bulan menyakitkan ini.

.

Terima kasih sudah membaca usaha terakhir saya yang sungguh ingin menyudahi kegilaan ini.

Salam sehat selalu, untuk kamu dan keluarga.

3 thoughts on “Vaksin Yuk

  1. Ira

    semoga selalu sehat juga untuk Vinny dan keluarga di Kalimantan

    1. Vinny

      Terima kasih, Ira. Kamu juga yaa, sehat selalu dengan keluarga.

      1. Ira

        aamiin Vinny

Leave a Reply

%d bloggers like this: