Category Archives: All

All random stuffs, thoughts, things to remember, and hopefully a positive one, for I need to be reminded to stay so, and wish it goes back to you too.

Kesel Nggak Kelar-Kelar

Pernah nggak kesel sama orang sampe nggak selesa-selesai? Haha.

Saya lagi nih. Emang senewen ya kalau udah begini. Nggak boleh tu ada trigger sama sekali. Langsung aja, senewen. Saya yang orangnya jarang-jarang emosi pun selalu kesentil tiap kesentuh bagian itu.

Apalagi kalau bukan seputar cerita saya sebelumnya tentang kantor lama.

Niat saya sebenernya ingin memaafkan, melupakan, dan let go. Akan tetapi, apa boleh buat, tak semudah mengetik.

Mungkin butuh waktu? Mungkin butuh kawan? Mungkin butuh kesadaran lebih? Nggak tau juga.

Yang saya tau, kekesalan saya rupanya masih banyak. Mudah-mudahan nggak lama lagi kelar.

Duka Suka Start-up dan Atasannya

Kayaknya saya ini orangnya suka kerja. Iya, kerja dalam arti bekerja di kantor, punya bos, punya teman sesama pegawai, terima gaji, makan-makan, kerja biar gajian lagi. Karena kesenangan ini, saya bisa berkompromi dengan mudah terhadap bidang pekerjaan yang saya jalani.

Misal: jaman kerja di media, saya bisa menikmati naik motor membelah Jakarta kepanasan dan kehujanan, nongkrong di kantor polisi berjam-jam demi menunggu kabar ada maling tertangkap atau ada arahan meliput berita penangkapan gembong narkoba. Pekerjaan yang menurut banyak orang keluarga saya bahaya luar biasa, saya lakoni dengan bahagia. Walaupun belakangan baru saya sadari, di luar dari kenikmatan saya bekerja di media, pekerjaan itu sebenarnya cukup berbahaya dan membuat saya positif dekil dan butek pada masa itu. Apa yang saya kompromikan? Bahaya.

Kompromi terbesar saya alami pada pekerjaan terakhir saya. Mari kita mulai (cerita yang panjang ini…)

Kerja di Startup

Bekerja di perusahaan rintisan atau “startup” atau “start-up” sepertinya sedang jadi tren di kalangan anak muda, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Pakaian casual dan gahul, masuk siang-pulang cepat, kantor cakep, ada tempat main plus kantin, temennya muda-muda, weekend mabu-mabuan. Jika ini mewakili tempat kerja kalian saat ini, sama. Ini situasi tempat kerja saya terakhir (terkecuali bagian masuk dan pulang). Seru!

Namun, di luar ena-enanya, kalau kamu punya teman yang bekerja di perusahaan berjenis ini, mungkin kamu akan mendengar juga sisi lain perusahaan pemula. Mulai dari betapa cepatnya pergerakan di sebuah startup, betapa bedanya budaya kerja di tempat ini (apalagi jika sebelumnya kamu sudah punya pengalaman bekerja di perusahaan konvensional atau “normal’), betapa tidak ada birokrasi ribet untuk berdiskusi atau meminta approval atasan, apalagi kalau atasan kamu adalah orang asing. Banyak hal-hal baru dan berbeda yang pekerja startup dapatkan selama bertempat di kantor ini. Kamu merasa sama? Iya, saya juga, di tempat saya terakhir.

Atasan sekaligus pemilik perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah orang asing. Gaya kepemimpinannya beda dengan bos kebanyakan – paling tidak dengan bos di perusahaan saya sebelum-sebelumnya. Namun, saya akui, kepintaran akademiknya juga melampaui atasan di perusahaan saya sebelumnya. Ia punya cara memimpin perusahaan yang sangat berbeda dari cerita-cerita teman saya yang bekerja di tempat lain. Visi, misi, dan ambisinya tak terbendung. Menurut saya, karakternya ini yang membuat perusahaan itu bisa maju dengan cukup pesat di tengah persaingan di industri serupa.

Dua tahun bekerja di perusahaan ini meninggalkan banyak kesan untuk saya. Ilmu excel saya yang terbatas pada SUM, IF, dan COUNT, berkembang 2-3 lipat karena kewajiban mengolah dan menganalisa data yang perlu dikerjakan setiap hari. Kemampuan mengarahkan dan memimpin tim kecil juga saya banyak pelajari dari tempat ini karena dalam hitungan bulan saya mendapatkan tanggung jawab yang besar dan bertambah besar. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk urusan bisnis juga sedikit banyak terasah berkat keharusan berkoordinasi dengan atasan maupun rekan kerja di negara lain setiap hari. Yang terakhir, referensi mengenai jenis emosi baru dan kemampuan mengendalikan emosi yang betul-betul sangat terasah.

Dulu, saya orang yang lemah, mudah terharu, mudah tersinggung, mudah menangis. Hati saya mungkin serapuh kerupuk putih yang kalo dibiarin di ruang terbuka dalam 6 jam, langsung ‘masuk angin’. Berbeda dengan atasan saya yang bersifat keras, cepat, dan keras. Haha. Saya tiba-tiba blank mendiskripsikan karakternya.

Keras secara harafiah, karena ia bisa berbicara dengan suara keras dan punya pendapat dan pemikiran yang keras. Cepat, karena ia punya tenggat waktu yang sangat pendek untuk setiap hal atau proyek yang ia ingin wujudkan. Kalau perusahaan normal memberikan waktu riset selama 1 bulan, mereka yang pengen cepat mewajibkan maksimal 2 minggu, nah atasan saya ini hanya memberi waktu 4 hari. Keras satu lagi adalah yang metafora. Kata-katanya keras, sekeras bisa membuat orang yang mendengarnya retak secara mata, hati, dan telinga.

Tanda-tanda

Saya masih ingat hari pertama masuk kerja. Saya diikutkan manajer saya dalam meeting yang membahas laporan mingguan dengan berbagai frase dan istilah yang tak saya pahami sama sekali. Atasan saya menganalisa laporan tersebut dalam hitungan menit. Cepat. Saya pun terpana dengan staf yang sedang memberikan laporan karena mampu menjawab pertanyaannya dengan cepat. Sampai kemudian, kata F ia lontarkan di sela-sela kalimatnya seraya tersenyum dan tertawa. “Biasa, bule,” pikir saya waktu itu.

1 bulan berjalan, 3 bulan berjalan, 9 bulan, berjalan, terjadi dengan ritme kerja yang serupa dan sifat atasan yang serupa. Keras, cepat, dan keras. Saya lihat dan amati bagaimana manajer saya menghadapi atasan saya ini. Sesekali saya kasihan pada manajer, tapi tidak bisa juga berbuat apa-apa. Sebagai pekerja yang taat, saya hanya mengupayakan pekerjaan saya berjalan dan selesai dengan baik.

Memasuki awal tahun kedua, saya diberikan tanggung jawab baru. Manajer saya pindah dari perusahaan ini. Oleh karena jumlah tim yang memang tidak banyak, saya pun secara tidak langsung didudukkan pada tanggung jawab manajer. Berita bagus pada masa itu, yang sekaligus menghantarkan saya ke posisi langsung di bawah atasan saya ini.

Bulan demi bulan berjalan. Di sela-sela ABCDEF yang terlontar setiap hari kepada saya, saya tetap berusaha untuk menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari atasan saya. Saya jadikan semuanya sebagai pacuan supaya saya terus maju bak kuda di medan pertandingan. Hasilnya, ada. Tanggung jawab semakin besar kemudian disodorkan lagi kepada saya. Tentu saja saya terima dengan senang hati. Tantangan, kesempatan, reward, untuk apa yang saya kerjakan selama ini. Termasuk pula kepindahan saya ke Bangkok pertengahan tahun lalu.

Selesai

Sampai pada satu titik, saya merasa cukup. Hati saya merasa cukup dengan kompromi. Pikiran saya pun sepakat untuk berhenti berkompromi. Persatuan keduanya membuat saya memutuskan untuk menghakhiri perjalanan saya dengan perusahaan ini, dengan lapang dada dan rasa lega.

Lapang dada untuk meninggalkan kemegahan dunia startup dengan kantor cantik, kantin penuh makanan, weekend penuh minuman, dan kawan berkeluh kesah (yang kemudian menjadi kawan baik).

Lapang dada juga untuk menanggalkan kekerenan berkomunikasi dalam bahasa asing setiap hari, wara-wiri memanfaatkan teknologi Google tanpa batas untuk koordinasi lintas kota dan lintas negara setiap hari, lapang dada juga untuk melepaskan posisi tinggi yang mungkin berpotensi mengantar saya ke tempat yang lebih tinggi dan lebih jauh lagi.

Setelahnya, saya alami rasa lega yang luar biasa bak memandangi laut lepas tanpa kapal yang sedang diam, pun burung yang terbang, kecuali angin yang berhembus dengan dingin dan pelan.

Lega karena bisa kembali pada kehidupan layaknya kelas pekerja pada umumnya yang bisa berangkat sesaat setelah matahari mulai panas, dan pulang bersama mereka yang terkena macet parah karena semua orang pulang. Lega karena bisa menikmati Jumat malam dengan bahagia karena Sabtu dan Minggu libur. Bukannya terbebani setiap setiap Sabtu dan Minggu karena teringat bahwa 2 hari ini akan segera tergantikan dengan 5 hari panjang dan begitu seterusnya. Lega karena lebih sering membuka Twitter dan Instagram daripada Email, bukan sebaliknya, khususnya di akhir pekan. Lega karena bisa mendengar dan berbicara dengan bahasa layak dan memanusiakan manusia.

Lega karena bisa kembali menjadi manusia dan individu yang dihargai. Bukan aset seseorang. Bukan investasi seseorang. Bukan alat seseorang.

Penutup

Singkat cerita, perjalanan saya dengan perusahaan yang saya sempat anggap “rumah” ini tidak berakhir bahagia seperti novel remaja. Banyak kejadian yang membuat hati kerupuk saya betul-betul masuk angin bahkan jamuran. Toples kompromi saya selama 2 tahun penuh rupanya terisi sangat penuh dan langsung mbludak di hari-hari terakhir saya di kantor itu.

Pasca berhenti, beberapa efek kurang baik terjadi pada diri saya untuk beberapa waktu. Saya menjadi sangat skeptis dengan orang asing. Saya skeptis dengan orang pintar. Saya skeptis dengan orang yang menunjukkan tindak-tanduk suka mengintimidasi. Bahkan, mendengar dan mengingat cerita selama 2 tahun bekerja pun bisa dengan mudah menyentil memori masa kerja.

Namun, saya sadar apa yang saya alami sebelumnya adalah pilihan, bukan paksaan. Pilihan yang tidak saya boleh sesali. Ilmu yang saya serap masih sangat bermanfaat untuk pekerjaan saya saat ini. Saya tidak menyesal pernah mengemban beragam tanggung jawab selama bekerja, termasuk bekerja dengan mantan atasan dan segala ke-tidakmasukakal-annya. Bahkan dengan toples yang sudah pecah itu pun, saya tidak menyesal. Paling tidak, 2 tahun saya belajar mengendalikan emosi, atas nama tanggung jawab. Hati kerupuk putih saya pun kayaknya udah jadi kerupuk udang yang nggak lagi loyo semudah itu..

Penutup beneran

Tulisan ini saya buat untuk menggenapkan keinginan saya untuk berlapang dada. Sekaligus berbagi cerita untuk kamu, yang saat ini bekerja di lingkungan kerja yang menurut kamu, menyimpan sesuatu yang mengganjal. Untuk cerita saya, tentunya dalam korelasi dengan atasan.

Kompromi dengan situasi pekerjaan yang pastinya tidak serba enak itu perlu. Saya percaya, kesetiaan dan waktu kamu bekerja di satu perusahaan menunjukkan kamu adalah tipe individu seperti apa. Apakah: setia, bosenan, atau sosok yang ready to die for (the company). Yang pertama dan terakhir tentunya yang paling diincar.

Tapi, jika ganjalan yang kamu alami adalah sesuatu yang betul-betul secara objektif sangat mengganggu (ceritakan kondisi kerjamu pada orang yang betul=betul bisa objektif memandang sebuah situasi), ada baiknya menimbang ulang kelanjutan kamu di tempat tersebut. Jangan sampai, pilihan kamu untuk bertahan malah menjadikan kamu sangat terbebani. Iya, itu cluenya. Kalau kamu sudah sangat terbebani tiap hari Minggu karena Senin bekerja lagi (bukan karena males bangun pagi ya), timbang ulang keputusan kamu untuk bertahan.

Saat ini, hati saya belum sepenuhnya beres dengan pengalaman tersebut. Tapi saya sedang mencari cara. Mulai dari bertemu kembali dengan kawan-kawan di perusahaan lama, mendengarkan cerita mereka, memberikan mereka semangat agar mengambil keputusan terbaik. Termasuk juga dengan menuliskannya. Mudah-mudahan yang terakhir ini berhasil.

Ingat, bekerja itu penting. Kompromi dalam pekerjaan juga penting. Tapi, keberadaan kamu sebagai manusia juga penting. Kalaulah bekerja membuat kita menjadi kurang manusia, apakah pilihan bijak untuk terus bertahan?

Testimoni

“Alhamdulilah. Bangun tidur nggak baca email aneh-aneh lagi. ~”

“Ga pernah tau kalo duduk lama di Dunkin stasiun bisa se-tenang itu. I’m happy!”

“Di kantor dulu makanannya pake prasmanan, dari cevbrulee, lasagna, salad ala fremante bregete, atau bahkan spaghetti ala dionetremeregesehe, tapi semangkuk opor ayam buatan ibuk tiada dua rasanya ya Rabbana”

“Akhirnya bisa hidup normal, bangun normal, olahraga normal.”

The Art of Losing

Image result for big versus small

Alkisah, si Doni kesal bukan kepalang. Soalnya, ia terus menerus kalah di pertandingan. Tak peduli betapa kerasnya ia berlatih, kali itu ia kalah lagi. Untuk kali yang melebihi jumlah jari.

Kalah itu nggak pernah enak. Apalagi, untuk hal yang kita tahu akan kita menangkan. Atau sebaliknya, kalah karena sesuatu yang kita nggak tau cara menanginnya. Gemes. Nggak enak deh pokoknya, kalau kalah.

Cuman, sering banget kita dihadapkan pada situasi untuk menjadi si kalah. Untuk yang sehari-hari: kalah di pergaulan; kalah cantik, kalah ganteng, kalah pintar, kalah lucu, kalah seru, atau kalah tajir. Atau urusan lain: kalah debat dengan teman, pasangan, kalah argumen dengan guru, dosen, bos, (atau polisi), kalah taruhan. Untuk hal yang lebih serius lagi: kalah memperjuangkan keinginan, cita-cita atau cinta.

Efek setelah kalah juga nyebelin. Bete, kehilangan semangat hidup, pengennya marah-marah. Paling asik, nyalahin orang. Saking asiknya, sampai lupa bahwa penyebab sesungguhnya dari kekalahan itu ya diri kita sendiri.

Kenapa harus merasa kalah karena ada temen yang lebih cakep, pinter, atau tajir? Kan orang lain juga temenan dengan kita karena kita punya kelebihan lain. Mungkin kita lebih seru, lebih jago ngelucu, lebih suka mendengar, lebih menenangkan, dan sebagainya.

Atau, siapa suruh berdebat dengan teman atau guru, tanpa argumen yang jelas? Apalagi dengan pihak berwajib. Udah tau aja kan gimana akhir ceritanya kalau nggak bermental sekelas baja..

Dari kejadian beberapa tahun terakhir, saya juga berusaha banget nih menghadapin kekalahan. Susah banget.

Tapi, kembali ke tiga paragraf sebelumnya. Munculnya perasaan kalah saat bergantung pada sudut pandang kita terhadap apa yang dihadapi. Yang dilihat sebagai sebuah kekalahan, bisa dilihat sebagai sebuah kemenangan.

Termasuk juga untuk contoh kekalahan yang serius tadi, soal keinginan, cita, atau cinta. Kalaupun memang kalah, pasti ada kemenangan baru yang lahir sesudahnya. Misal, terbukanya pintu baru ke tempat baru.

Kata ‘guru’ saya, orang yang bisa menerima kekalahan adalah pemenang sesungguhnya. Paling tidak, untuk dirinya sendiri. Apalagi di jaman yang semakin gila ini. Pertarungan terus terjadi. Bahkan yang paling berat, dengan diri sendiri.

Karena itu, menjaga hati dan pikiran agar tetap waras sekalipun kalah, menjadi sangat penting. Kamu pasti punya cara yang waras untuk bisa tetap berlapang dada dengan kekalahan. Kalau belum, coba cari.

Ingat pepatah, lose some, get some. Ada yang hilang, ada yang datang. Ada yang pergi, ada yang datang, Ada kekalahan, ada kemenangan.

Tahun 2019 baru lewat 7 hari. Saya sih yakin, masih ada ratusan hari di depan mata yang siap menyuguhi saya dengan pertarungan. Tiap hari pun saya bertarung dengan diri saya sendiri agar bisa terus menutup hari dengan perasaan bersyukur. Beberapa mungkin saya menangkan, beberapa mungkin tidak, atau belum.

Makanya, saya siap-siap dulu dengan nulis ini.

Supaya tetap inget. 🙂

Tutup Buku 2018

Sesungguhnya saya suka galau tiap jelang tahun baru. Kepikiran kok nggak ngapa-ngapain ya tahun ini, kok belum begini, kok belum begitu.

Tapi, saya baru ngeh kalau bikin postingan ‘tutup buku’ di blog ini, mulai dari mereview kejadian satu tahun terakhir, apa yang seru, ternyata bikin hati sedikit lebih adem. Walaupun ya setelah saya baca ulang tulisan saya dari tahun 2015, kalimat pertama setiap postingan selalu bernada: deg-deg-an nggak sih? Haha.

Jadi, tahun ini saya rasa tulisan ‘tutup buku’ ini lebih kepada “perlu” bikin, daripada “pengen”. Mari jadikan ini tradisi.

Khusus tahun ini, yang ingin disyukuri adalah kesempatan jalan-jalan di beberapa tempat yang semuanya istimewa. Menjadi istimewa karena banyak tempat baru dan memori indah yang saya dapatkan saat berkunjung.

Juga istimewa karena setiap tempat merekam banyak cerita di baliknya. Mulai dari yang huru hara haru sampai yang bahagia. Jadi, menuliskan kembali list tempat ini betul-betul jadi review penting saya terhadap tahun ini. tarik nafas

Maret sampai September di Bangkok

Beberapa yang ngikutin, udah tau kali ya, perjalanan ke Bangkok yang juga menambah chapter baru di hidup saya karena saya menetap di sana kurang lebih 6 bulan. Selama di Bangkok, banyakan ke night market. Luar kota yang dikunjungi hanya Ayutthaya dan Hua Hin. Bagi saya, Bangkok lebih nyaman ditinggali dibanding Jakarta karena infrastrukturnya yang lebih maju dan baik. Contohnya, budaya ngantri yang sangat baik di sini. Senang!

Mei di Jogjakarta

Kalau ini perjalanan mengikuti kegiatan komunitas pekerja muda dari seluruh Indonesia. Lebih dari 200 peserta berkumpul di sini dengan berbagai kegiatan seru. Yang paling berkesan untuk saya, pesta di tengah kampung tengah malah di bawah sinar rembulan sembari diiringi live musik dangdut.

September di Semarang

Kalau ini, perjalanan menyambut datangnya hari “kelulusan” dari kantor lama. Baru menyambut ya, belum dateng tu harinya waktu itu. Haha. Serunya di sini, pas main di air terjun. Pertama kali ya saya ngerasain ‘ditimpa’ air sedemikian banyaknya dari atas yang dinginnya luar biasa. Iya baru kali itu main di air terjun. Jalan-jalan keliling Semarang naik motor juga super seru. Biar kata orang panas banget, saya mah happy-happy aja.

Awal Oktober di Jepang

Oktober tahun ini saya kembali menginjakkan kaki di Jepang setelah tahun 2009 silam. Dan selalu senang rasanya kalau ke Jepang. Bersih, kereta yang padat, onigiri yang enak. Paling berkesan waktu bisa ketemu teman jaman sekolah di Cina tahun 2015 lalu. Kontak-kontakan di Instagram membawa kami ketemu juga. Seneng banget.

Oktober di Medan

Sekitar semingguan setelah pulang dari Jepang, saya ikut kegiatan komunitas agama saya di Medan. Pesertanya kali ini 1.000an orang dari seluruh Indonesia. Kali ini pesertanya segala usia, jadi mama saya pun ikutan.

Di salah satu mata acara yang mengundang Gubernur Sumut, saya jadi MC bersama kawan. 10 menit sebelum acara mulai, kami pontang panting karena rundown acara mendadak harus diubah karena menyesuaikan jadwal Pak Gub. Dari yang deg-degan, bingung, sampe udah pasrah. Haha. Padahal malam sebelumnya saya masuk angin parah sampai mual karena fisik yang kurang fit. Tapi syukurnya semua berjalan lancar. Saya pakai baju khas Sumut juga!

Akhir Oktober di Bali

INI baru perayaan hari kelulusan saya! Saya nulis panjang soal trip ini di sini. Seru sekali perjalanan kemarin. Makna trip ini, berikanlah dirimu sesuatu yang paling menggembirakan setelah kamu menyelesaikan sesuatu yang berat. :D.

Ubud, Penida, dan sekitarnya

November di Kuching

Trip ini lanjutan setelah saya selesai kerja, lalu balik ke Pontianak. Perjalanannya sih untuk nemenin Ibu saya medical check up. Meskipun ini di luar negeri, tapi rasanya Indonesia atau malah Kalimantan banget. Dimana-mana ketemu orang Pontianak atau kota di sekitarnya, yang datang untuk berobat tentunya.

November di Shanghai

Kalau ini, trip pertama pasca kerjaan baru saya. Bidang kerjaan baru ini betul-betul baru untuk saya. Jadi, saya diajak untuk ikut pameran alat-alat berat di Shanghai. Tapi berhubung ini trip bersama keluarga juga, nggak berasa-berasa amat ini business trip. Lebih bener kalau ini vacation rasa business trip dikit. Seru banget sih ngeliat perkembangan Cina, khususnya infrastruktur yang memang jadi keunggulan Cina. Kata abang, flyovernya yang bertingkat-tingkat udah mirip kue lapis saking banyaknya tingkatannya. Kita pergi pas agak dingin, sekitar belasan derajat. Jadi, seru deh berasa kayak di luar negeri beneran. Hahaha.

Desember di Vietnam

Waktu mulai nulis, trip ini masih berlanjut. Sambil istirahat, saya nulis ini di handphone aja saking pengennya ngepost sebelum akhir tahun. Kali ini saya berangkat dengan Ibu saya plus teman dengan Ayahnya. Kami menjadikan perjalanan ini trip perdana kami bawa orang tua liburan. Sejauh ini, liburan kali ini memuaskan sekali khususnya perjalanan 3 hari 2 malam di Halong Bay cruise. Cakep banget itu bay-nya. Selepas dari tengah teluk, hari ini kami mendarat di Ho Chi Minh untuk bermalam 2 malam sebelum balik ke Jakarta. Detil ceritanya butuh halaman sendiri.

Dan tentu sahaja, seperti series Netflix: Travel with My Father, banyak cerita deh kalau jalan-jalan dengan orang tua. Antik tapi seru. Kayaknya sih orang tua kami senang-senang aja. Mudah-mudahan betulan senang. :).

Tutup tahun

Cerita di balik tiap perjalanan di atas, nggak saya singgung di cerita. Tapi asli deh, rata-rata penuh emosi sampe bikin babak belur haha. Cuman, kalaupun lebih banyak tempat yang bisa saya datangi tahun depan, saya siap banget babak belur lagi kok, buat nabung maksudnya. 😋. Yang emosinya, mudah-mudahan berkurang. (AMIN).

Akhir tahun nanti, akan saya dan Ibu rayakan di Megamendung, Bogor, dengan ibadah tengah malam bersama umat lainnya. Waktunya saya bersyukur bahwa tahun 2018 berjalan menyisakan saya yang tetap sehat, kuat, dan bisa waras memetik pelajaran dari semuanya.

Dan, dari semuanya, tahun ini mengajarkan saya:

Bagaimanapun tahun yang kita lalui selama 365 hari, mengenang hal baik dan berlapang dada atas yang kurang, sungguh perlu dilakukan. Paling enggak, supaya kita bisa menutup tahun dengan kata: Terima kasih.

Selamat tahun baru, untuk kamu!