Berawal Dari Kata

Nulis

Saya punya hubungan ‘istimewa’ dengan kata.

Pekerjaan pertama saya yang serius adalah pekerja kata sejati. Wartawan koran. Tiap hari saya habiskan dengan mencari informasi, mewawancarai nara sumber, atau mencari informasi pendukung di internet. Ditutup dengan mengetik, saya merangkai kata menjadi berita.

Pekerjaan pertama ini membuat saya perlahan mencintai ‘kata’. Secara ekonomi, saya mulai menulis untuk hal yang tidak berhubungan dengan berita. Kecintaan untuk membaca pun meningkat, setelah saya paham susahnya menulis dan membuat orang ingin membacanya (sampai selesai).  Jadi, kalau ada yang butuh menulis di luar berita, apapun itu; terjemahan, release, tulisan majalah, liputan acara, saya menulis dengan bahagia. Kesukaan membaca pun muncul sejak kala itu.

Menulis bukan urusan mudah. Ada yang bilang nggak bisa menulis, tapi ternyata tulisannya indah. Ada yang bisa menulis, tapi tulisannya ‘susah’ dibaca.

Berbahagialah mereka yang telaten dan dibakati untuk menuliskan rasa dengan kata. – (Twit saya sore ini)

Saya mudah kagum dengan mereka yang bisa menulis. Di Twitter, sebagian besar yang saya ikuti adalah pencerita sejati. Dengan santainya, pembaca bisa mengikuti cuitan 2 kalimat lalu merasa cinta. Sebaliknya, cuitan berpuluh dan beratus-ratus kalimat yang dipotong menjadi puluhan bagian pun bisa diikuti tanpa bosan.

Ada juga yang pandai merangkai kata menjadi puisi yang sangat indah. Sederhana. Singkat.  Tapi indah, dan mengena. Kata-kata yang dipakai sehari-hari bisa dirangkai seindah ini sampai terbayang-bayang di kepala.

Banyak dari mereka yang membuat saya ‘jatuh cinta’, bangga dan bersyukur bisa ‘menemukan’ mereka di hidup saya.

Rasa yang muncul karena berawal dari rangkaian kata..

Salah satunya, teman dekat yang menikah hari ini. Souvenir yang dibagikan adalah tas kanvas bergambar bunga matahari favoritnya, dengan sebuah. Di momen bahagianya, sang teman menuliskan ini.

Semuanya fana, begitupun kebahagiaan. Maka aku ingin membungkusnya dalam kata, menyimpannya dalam ruang, bernama kamu.

Tidak hanya ketika hal baik terjadi, ketika sedih pun mereka yang pintar menulis bisa hadir dengan sesuatu yang indah.

Semoga Tuhan mengobati segala kesedihan kami.

Saya pernah berharap kedua teman ini bisa jadi penulis lagu atau penulis buku puisi yang hebat. Menurut saya, tulisan mereka terlalu indah dan bagus untuk dibaca beberapa orang saja. Terlalu sayang untuk didokumentasikan dalam jurnal pribadi saja.

Tanpa mereka ketahui, mungkin tulisan mereka menyelamatkan jiwa banyak orang yang merasa sama. Yang merasa, tapi tidak bisa berkata.

Paling tidak saya. Malam ini.

31 Maret 2019

Menghargai Perbedaan, Sudah?

Dari dulu, sikap ini didengung-dengungkan ke kita yang tinggal di Indonesia. Pesannya, ini wajib diamalkan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Tapi, udah dijalanin belum? Sejauh mana sudah kita jalankan, 20 tahun setelah kalimat ini pertama kali kita dengar? Iya, kalau kita seumuran. 

Waktu SD, guru PPKN saya yang mengenalkan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, “berbeda-beda tapi tetap satu juga”. Ribuan suku bangsa Indonesia hanya bisa bersatu dengan filsafat ini, kata beliau.

Memasuki tingkat SMP dan SMA, kita mulai didorong untuk mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika. Pergaulan semakin luas. Bentuk manusia yang ditemui semakin beragam. Bhinneka Tunggal Ika sangat penting, sebab ia adalah landasan agar bangsa yang terdiri dari ribuan suku ini, dapat tetap kokoh dan kuat. Demikian kata Pak Guru, dan ahli-ahli di televisi.

Di masa kuliah dan bekerja, kepiawaian menghargai perbedaan diuji ke ranah yang lebih luas. Senior harus menghormati junior yang beda, bawahan harus menghormati atasan yang beda. Intinya, semua orang punya hak dan kewajiban yang wajib dihargai dan dikerjakan, apapun kemasannya. Memasuki level ini, bagi beberapa dari mereka yang betul-betul menjalankan, “Ika” menjelma menjadi “Cinta” (mencintai yang berbeda?).

Untuk orang kayak saya yang lahir, tumbuh dan besar di lingkungan yang banyak orang sebut sebagai kaum ‘minoritas’ (yang mana nggak saya sukai sebutannya), sikap bersatu dalam perbedaan masih jadi sesuatu yang (kadang) mengganjal. Merasa bahwa orang yang berbeda secara warna kulit, rambut, bahasa, adalah sama dengan kami, bukan hal yang mudah dilaksanakan. Entah itu karena cerita masa lalu yang dialami sendiri oleh mereka yang lebih tua, atau mungkin dari ajaran yang didengar dari orang-orang dekat sedari kecil, ada saja hal yang membuat rasa satu dalam kebhinneka-an, susah dijalankan.

Untuk orang kayak saya yang entah gimana ceritanya dari kecil malah justru sangat sering nyemplung dengan orang beda ras, suku, dan agama, saya sering menghadapi keadaan penuh dilema. Perbedaan yang saya rasa tidak perlu dipermasalahkan, kemudian dimasalahkan. Kesamaan yang bisa saja melahirkan perbedaan, kemudian dikatakan “yang penting sama”. Siapa yang benar? Abu-abu.

Lingkungan terkecil saya punya hubungan hitam putih dengan kebhinneka-an. Putih karena banyak dari bagian kami yang menyatu dalam perbedaan. Hitam karena sebagian lainnya juga menolak perbedaan, bahkan mereka yang sebenarnya juga telah menyatu dalam perbedaan.

Ingin rasanya mengubah, tapi tidak mudah.

Akhirnya, saya memilih untuk mencoba memahami.

Beberapa bulan ini, tinggal di kota baru yang punya tradisi dan budaya sangat berat pada salah satu kepercayaan di tanah air, membuat saya sedikit memahami keengganan dari mereka yang “sama” dengan saya, terhadap janji Bhinneka Tunggal Ika yang ditanamkan guru SD saya. Keinginan untuk menjadi “satu” sering terusik karena kenyataan kurang menyenangkan, yang membuat pikiran dan hati kembali merasa “Mereka memang beda. Kita memang beda“.

Lagi-lagi, ingin rasanya mengubah dan membuat perubahan. Dari mana? Saya belum tahu. Kalau kamu ada ide, saya ingin ikut serta mewujudkan mimpi ini.

Yang jelas, sepertinya kunci untuk bisa menjalankan Bhinneka Tunggal Ika dengan seutuhnya adalah dengan merasa bahwa saya adalah satu dengan bangsa ini. Bukan minoritas, bukan mayoritas. Gampang? Enggak. Susah.

Dalam satu bincang sore dengan kawan, ia bergumam “How beautiful this world must be, if all just respect each other”. Ungkapan yang terucap saat harapan kami mulai redup membahas apakah perubahan akan terjadi.

Kalaupun mimpi itu belum bisa saya wujudkan, mudah-mudahan mereka yang umurnya 20-30 tahun lebih muda dari saya, kelak bisa hidup dengan lega dari pagi menjelang ganti hari, karena lapisan perbedaan semakin menipis, konflik karena perbedaan semakin berkurang, dan menjadi berbeda itu tidak apa-apa.

Berita disampaikan sebagai berita. Orang jahat disiarkan sebagai orang dengan perilaku jahat. Bukan karena bentuk rambut, warna kulit, gaya berpakaian, pilihan orientasi seksual, dan lain-lain. Demikian juga kabar baik tentang orang baik.

Sebab urusan benar dan salah, tidak ada urusannya dengan “kamu kaum apa?”.

Pindah ke Kota Baru

Udah 3 bulan terakhir saya pindah ke tempat baru. Kali ini, kembali ke Kalimantan. Tapi bukan Kalimantan Barat, kota asal saya. Melainkan Kalimantan Selatan.

Kepindahan ini saya jalani dengan satu pengertian, pemahaman, dan semangat bahwa : saya pindah untuk kerja. Jadi, apapun situasinya, saya harus menikmati semuanya. Toh saya sudah menghabiskan 8 tahun terakhir bekerja di luar kota, sendiri. Dengan segala susah-susahnya, saya bertahan. Karena kali ini saya pindah ke kota yang membuat saya (sangat) dekat dengan keluarga saya, maka saya tidak boleh mengeluh. Camkan baik-baik, Vinny! Haha.

Atas pemikiran itu, saya mencari cara untuk semangat dong. Ibaratnya, kalau di Jakarta yang macet itu saya bisa senang, masa’ di kota yang macet paling lamanya cuma 3 menit, kamu nggak bisa senang?

Nah, hari ini saya senang banget. Mungkin salah satunya karena pagi tadi ada acara di rumah, yang bikin saya semangat sampai malam ini. Lalu di sela-selanya, saya ke sekolahan ponakan juga ngeliat mereka nari-nari. Sebelum ke sekolah, saya ke 2 kawinan. Yang pertama, kawinan anak kantor. Yang kedua, kawinan temennya temen abang, yang… bikin saya senang!

Ceritanya, dua kawinan ini dilaksanakan di rumah. Saya nggak bilang di perkampungan sih, karena posisi rumahnya di kota. Hanya saja, di gang kecil. Jadi, satu gang diblok untuk acara kawinan. Kawinan pertama, normal saja. Tidak ada yang spesial (kecuali buat yang kawin :D). Yang kedua, ini…

Motif perginya pun agak kurang jelas sih. Abang saya, yang memang kadang suka random, tiba-tiba ngajakin ke kawinan temennya temennya. Begitu nyampe di lokasi acara yang di dalam gang itu, kita disambut 2 penyanyi yang asik dangdutan. PLUS, tamu-tamunya yang ikut joget dong. Seru! Lalu, kita berdiri sebentar sambil ngeliatin orang nyanyi, plus nungguin abang ngeliatin apa ada temennya.

Tetiba, DHUAR!

Bhok, kita berdiri persis di samping speaker. Bisa dibayangkan lah soundsystemnya acara dangdutan. Saya dan abang ketawa ngakak. :D. Lalu, jalan lagi ke dalam, celingak celinguk. Bentar-bentar, berhenti. Nyariin temennya. Sambil moto dan vidio-in suasana orang joget-joget.

Setengah jam berlalu, nggak ada satupun orang yang abang kenali. Bahahaha. Alhasil, kita pun pulang dengan kenalan hampa, karena nggak ada yang dikenal. Saya pulang mengantongi video dan foto dangdutan sambil senyum dalam hati.

Intinya sih, saya cuma mau bilang hari ini saya senang. Dari hari pertama tiba di kota ini, hari ini baru saya betul-betul ngerasa senang satu hari penuh. Senangnya, tulus gitu loh. Gimana ya jelasinnya. Haha. Mudah-mudahan kamu juga pernah ngerasain.

Sambilan itu, saya share ya foto-foto dangdutan tadi! Agak kurang bagus nih fotonya sebab jauh dan padat. Coba liat deh, baru kali ini ngeliat sampan dijadiin tempat buah – ada di foto. Kreatif!

Plus, ketemu mobil ini di sekolahan anak-anak!

Pink ride

My happiness score today = 9,5/10!

Duka Suka Start-up dan Atasannya

Kayaknya saya ini orangnya suka kerja. Iya, kerja dalam arti bekerja di kantor, punya bos, punya teman sesama pegawai, terima gaji, makan-makan, kerja biar gajian lagi. Karena kesenangan ini, saya bisa berkompromi dengan mudah terhadap bidang pekerjaan yang saya jalani.

Misal: jaman kerja di media, saya bisa menikmati naik motor membelah Jakarta kepanasan dan kehujanan, nongkrong di kantor polisi berjam-jam demi menunggu kabar ada maling tertangkap atau ada arahan meliput berita penangkapan gembong narkoba. Pekerjaan yang menurut banyak orang keluarga saya bahaya luar biasa, saya lakoni dengan bahagia. Walaupun belakangan baru saya sadari, di luar dari kenikmatan saya bekerja di media, pekerjaan itu sebenarnya cukup berbahaya dan membuat saya positif dekil dan butek pada masa itu. Apa yang saya kompromikan? Bahaya.

Kompromi terbesar saya alami pada pekerjaan terakhir saya. Mari kita mulai (cerita yang panjang ini…)

Kerja di Startup

Bekerja di perusahaan rintisan atau “startup” atau “start-up” sepertinya sedang jadi tren di kalangan anak muda, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Pakaian casual dan gahul, masuk siang-pulang cepat, kantor cakep, ada tempat main plus kantin, temennya muda-muda, weekend mabu-mabuan. Jika ini mewakili tempat kerja kalian saat ini, sama. Ini situasi tempat kerja saya terakhir (terkecuali bagian masuk dan pulang). Seru!

Namun, di luar ena-enanya, kalau kamu punya teman yang bekerja di perusahaan berjenis ini, mungkin kamu akan mendengar juga sisi lain perusahaan pemula. Mulai dari betapa cepatnya pergerakan di sebuah startup, betapa bedanya budaya kerja di tempat ini (apalagi jika sebelumnya kamu sudah punya pengalaman bekerja di perusahaan konvensional atau “normal’), betapa tidak ada birokrasi ribet untuk berdiskusi atau meminta approval atasan, apalagi kalau atasan kamu adalah orang asing. Banyak hal-hal baru dan berbeda yang pekerja startup dapatkan selama bertempat di kantor ini. Kamu merasa sama? Iya, saya juga, di tempat saya terakhir.

Atasan sekaligus pemilik perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah orang asing. Gaya kepemimpinannya beda dengan bos kebanyakan – paling tidak dengan bos di perusahaan saya sebelum-sebelumnya. Namun, saya akui, kepintaran akademiknya juga melampaui atasan di perusahaan saya sebelumnya. Ia punya cara memimpin perusahaan yang sangat berbeda dari cerita-cerita teman saya yang bekerja di tempat lain. Visi, misi, dan ambisinya tak terbendung. Menurut saya, karakternya ini yang membuat perusahaan itu bisa maju dengan cukup pesat di tengah persaingan di industri serupa.

Dua tahun bekerja di perusahaan ini meninggalkan banyak kesan untuk saya. Ilmu excel saya yang terbatas pada SUM, IF, dan COUNT, berkembang 2-3 lipat karena kewajiban mengolah dan menganalisa data yang perlu dikerjakan setiap hari. Kemampuan mengarahkan dan memimpin tim kecil juga saya banyak pelajari dari tempat ini karena dalam hitungan bulan saya mendapatkan tanggung jawab yang besar dan bertambah besar. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk urusan bisnis juga sedikit banyak terasah berkat keharusan berkoordinasi dengan atasan maupun rekan kerja di negara lain setiap hari. Yang terakhir, referensi mengenai jenis emosi baru dan kemampuan mengendalikan emosi yang betul-betul sangat terasah.

Dulu, saya orang yang lemah, mudah terharu, mudah tersinggung, mudah menangis. Hati saya mungkin serapuh kerupuk putih yang kalo dibiarin di ruang terbuka dalam 6 jam, langsung ‘masuk angin’. Berbeda dengan atasan saya yang bersifat keras, cepat, dan keras. Haha. Saya tiba-tiba blank mendiskripsikan karakternya.

Keras secara harafiah, karena ia bisa berbicara dengan suara keras dan punya pendapat dan pemikiran yang keras. Cepat, karena ia punya tenggat waktu yang sangat pendek untuk setiap hal atau proyek yang ia ingin wujudkan. Kalau perusahaan normal memberikan waktu riset selama 1 bulan, mereka yang pengen cepat mewajibkan maksimal 2 minggu, nah atasan saya ini hanya memberi waktu 4 hari. Keras satu lagi adalah yang metafora. Kata-katanya keras, sekeras bisa membuat orang yang mendengarnya retak secara mata, hati, dan telinga.

Tanda-tanda

Saya masih ingat hari pertama masuk kerja. Saya diikutkan manajer saya dalam meeting yang membahas laporan mingguan dengan berbagai frase dan istilah yang tak saya pahami sama sekali. Atasan saya menganalisa laporan tersebut dalam hitungan menit. Cepat. Saya pun terpana dengan staf yang sedang memberikan laporan karena mampu menjawab pertanyaannya dengan cepat. Sampai kemudian, kata F ia lontarkan di sela-sela kalimatnya seraya tersenyum dan tertawa. “Biasa, bule,” pikir saya waktu itu.

1 bulan berjalan, 3 bulan berjalan, 9 bulan, berjalan, terjadi dengan ritme kerja yang serupa dan sifat atasan yang serupa. Keras, cepat, dan keras. Saya lihat dan amati bagaimana manajer saya menghadapi atasan saya ini. Sesekali saya kasihan pada manajer, tapi tidak bisa juga berbuat apa-apa. Sebagai pekerja yang taat, saya hanya mengupayakan pekerjaan saya berjalan dan selesai dengan baik.

Memasuki awal tahun kedua, saya diberikan tanggung jawab baru. Manajer saya pindah dari perusahaan ini. Oleh karena jumlah tim yang memang tidak banyak, saya pun secara tidak langsung didudukkan pada tanggung jawab manajer. Berita bagus pada masa itu, yang sekaligus menghantarkan saya ke posisi langsung di bawah atasan saya ini.

Bulan demi bulan berjalan. Di sela-sela ABCDEF yang terlontar setiap hari kepada saya, saya tetap berusaha untuk menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari atasan saya. Saya jadikan semuanya sebagai pacuan supaya saya terus maju bak kuda di medan pertandingan. Hasilnya, ada. Tanggung jawab semakin besar kemudian disodorkan lagi kepada saya. Tentu saja saya terima dengan senang hati. Tantangan, kesempatan, reward, untuk apa yang saya kerjakan selama ini. Termasuk pula kepindahan saya ke Bangkok pertengahan tahun lalu.

Selesai

Sampai pada satu titik, saya merasa cukup. Hati saya merasa cukup dengan kompromi. Pikiran saya pun sepakat untuk berhenti berkompromi. Persatuan keduanya membuat saya memutuskan untuk menghakhiri perjalanan saya dengan perusahaan ini, dengan lapang dada dan rasa lega.

Lapang dada untuk meninggalkan kemegahan dunia startup dengan kantor cantik, kantin penuh makanan, weekend penuh minuman, dan kawan berkeluh kesah (yang kemudian menjadi kawan baik).

Lapang dada juga untuk menanggalkan kekerenan berkomunikasi dalam bahasa asing setiap hari, wara-wiri memanfaatkan teknologi Google tanpa batas untuk koordinasi lintas kota dan lintas negara setiap hari, lapang dada juga untuk melepaskan posisi tinggi yang mungkin berpotensi mengantar saya ke tempat yang lebih tinggi dan lebih jauh lagi.

Setelahnya, saya alami rasa lega yang luar biasa bak memandangi laut lepas tanpa kapal yang sedang diam, pun burung yang terbang, kecuali angin yang berhembus dengan dingin dan pelan.

Lega karena bisa kembali pada kehidupan layaknya kelas pekerja pada umumnya yang bisa berangkat sesaat setelah matahari mulai panas, dan pulang bersama mereka yang terkena macet parah karena semua orang pulang. Lega karena bisa menikmati Jumat malam dengan bahagia karena Sabtu dan Minggu libur. Bukannya terbebani setiap setiap Sabtu dan Minggu karena teringat bahwa 2 hari ini akan segera tergantikan dengan 5 hari panjang dan begitu seterusnya. Lega karena lebih sering membuka Twitter dan Instagram daripada Email, bukan sebaliknya, khususnya di akhir pekan. Lega karena bisa mendengar dan berbicara dengan bahasa layak dan memanusiakan manusia.

Lega karena bisa kembali menjadi manusia dan individu yang dihargai. Bukan aset seseorang. Bukan investasi seseorang. Bukan alat seseorang.

Penutup

Singkat cerita, perjalanan saya dengan perusahaan yang saya sempat anggap “rumah” ini tidak berakhir bahagia seperti novel remaja. Banyak kejadian yang membuat hati kerupuk saya betul-betul masuk angin bahkan jamuran. Toples kompromi saya selama 2 tahun penuh rupanya terisi sangat penuh dan langsung mbludak di hari-hari terakhir saya di kantor itu.

Pasca berhenti, beberapa efek kurang baik terjadi pada diri saya untuk beberapa waktu. Saya menjadi sangat skeptis dengan orang asing. Saya skeptis dengan orang pintar. Saya skeptis dengan orang yang menunjukkan tindak-tanduk suka mengintimidasi. Bahkan, mendengar dan mengingat cerita selama 2 tahun bekerja pun bisa dengan mudah menyentil memori masa kerja.

Namun, saya sadar apa yang saya alami sebelumnya adalah pilihan, bukan paksaan. Pilihan yang tidak saya boleh sesali. Ilmu yang saya serap masih sangat bermanfaat untuk pekerjaan saya saat ini. Saya tidak menyesal pernah mengemban beragam tanggung jawab selama bekerja, termasuk bekerja dengan mantan atasan dan segala ke-tidakmasukakal-annya. Bahkan dengan toples yang sudah pecah itu pun, saya tidak menyesal. Paling tidak, 2 tahun saya belajar mengendalikan emosi, atas nama tanggung jawab. Hati kerupuk putih saya pun kayaknya udah jadi kerupuk udang yang nggak lagi loyo semudah itu..

Penutup beneran

Tulisan ini saya buat untuk menggenapkan keinginan saya untuk berlapang dada. Sekaligus berbagi cerita untuk kamu, yang saat ini bekerja di lingkungan kerja yang menurut kamu, menyimpan sesuatu yang mengganjal. Untuk cerita saya, tentunya dalam korelasi dengan atasan.

Kompromi dengan situasi pekerjaan yang pastinya tidak serba enak itu perlu. Saya percaya, kesetiaan dan waktu kamu bekerja di satu perusahaan menunjukkan kamu adalah tipe individu seperti apa. Apakah: setia, bosenan, atau sosok yang ready to die for (the company). Yang pertama dan terakhir tentunya yang paling diincar.

Tapi, jika ganjalan yang kamu alami adalah sesuatu yang betul-betul secara objektif sangat mengganggu (ceritakan kondisi kerjamu pada orang yang betul=betul bisa objektif memandang sebuah situasi), ada baiknya menimbang ulang kelanjutan kamu di tempat tersebut. Jangan sampai, pilihan kamu untuk bertahan malah menjadikan kamu sangat terbebani. Iya, itu cluenya. Kalau kamu sudah sangat terbebani tiap hari Minggu karena Senin bekerja lagi (bukan karena males bangun pagi ya), timbang ulang keputusan kamu untuk bertahan.

Saat ini, hati saya belum sepenuhnya beres dengan pengalaman tersebut. Tapi saya sedang mencari cara. Mulai dari bertemu kembali dengan kawan-kawan di perusahaan lama, mendengarkan cerita mereka, memberikan mereka semangat agar mengambil keputusan terbaik. Termasuk juga dengan menuliskannya. Mudah-mudahan yang terakhir ini berhasil.

Ingat, bekerja itu penting. Kompromi dalam pekerjaan juga penting. Tapi, keberadaan kamu sebagai manusia juga penting. Kalaulah bekerja membuat kita menjadi kurang manusia, apakah pilihan bijak untuk terus bertahan?

Testimoni

“Alhamdulilah. Bangun tidur nggak baca email aneh-aneh lagi. ~”

“Ga pernah tau kalo duduk lama di Dunkin stasiun bisa se-tenang itu. I’m happy!”

“Di kantor dulu makanannya pake prasmanan, dari cevbrulee, lasagna, salad ala fremante bregete, atau bahkan spaghetti ala dionetremeregesehe, tapi semangkuk opor ayam buatan ibuk tiada dua rasanya ya Rabbana”

“Akhirnya bisa hidup normal, bangun normal, olahraga normal.”

 

The Art of Losing

Image result for big versus small

Alkisah, si Doni kesal bukan kepalang. Soalnya, ia terus menerus kalah di pertandingan. Tak peduli betapa kerasnya ia berlatih, kali itu ia kalah lagi. Untuk kali yang melebihi jumlah jari.

Kalah itu nggak pernah enak. Apalagi, untuk hal yang kita tahu akan kita menangkan. Atau sebaliknya, kalah karena sesuatu yang kita nggak tau cara menanginnya. Gemes. Nggak enak deh pokoknya, kalau kalah.

Cuman, sering banget kita dihadapkan pada situasi untuk menjadi si kalah. Untuk yang sehari-hari: kalah di pergaulan; kalah cantik, kalah ganteng, kalah pintar, kalah lucu, kalah seru, atau kalah tajir. Atau urusan lain: kalah debat dengan teman, pasangan, kalah argumen dengan guru, dosen, bos, (atau polisi), kalah taruhan. Untuk hal yang lebih serius lagi: kalah memperjuangkan keinginan, cita-cita atau cinta.

Efek setelah kalah juga nyebelin. Bete, kehilangan semangat hidup, pengennya marah-marah. Paling asik, nyalahin orang. Saking asiknya, sampai lupa bahwa penyebab sesungguhnya dari kekalahan itu ya diri kita sendiri.

Kenapa harus merasa kalah karena ada temen yang lebih cakep, pinter, atau tajir? Kan orang lain juga temenan dengan kita karena kita punya kelebihan lain. Mungkin kita lebih seru, lebih jago ngelucu, lebih suka mendengar, lebih menenangkan, dan sebagainya.

Atau, siapa suruh berdebat dengan teman atau guru, tanpa argumen yang jelas? Apalagi dengan pihak berwajib. Udah tau aja kan gimana akhir ceritanya kalau nggak bermental sekelas baja..

Dari kejadian beberapa tahun terakhir, saya juga berusaha banget nih menghadapin kekalahan. Susah banget.

Tapi, kembali ke tiga paragraf sebelumnya. Munculnya perasaan kalah saat bergantung pada sudut pandang kita terhadap apa yang dihadapi. Yang dilihat sebagai sebuah kekalahan, bisa dilihat sebagai sebuah kemenangan.

Termasuk juga untuk contoh kekalahan yang serius tadi, soal keinginan, cita, atau cinta. Kalaupun memang kalah, pasti ada kemenangan baru yang lahir sesudahnya. Misal, terbukanya pintu baru ke tempat baru.

Kata ‘guru’ saya, orang yang bisa menerima kekalahan adalah pemenang sesungguhnya. Paling tidak, untuk dirinya sendiri. Apalagi di jaman yang semakin gila ini. Pertarungan terus terjadi. Bahkan yang paling berat, dengan diri sendiri.

Karena itu, menjaga hati dan pikiran agar tetap waras sekalipun kalah, menjadi sangat penting. Kamu pasti punya cara yang waras untuk bisa tetap berlapang dada dengan kekalahan. Kalau belum, coba cari.

Ingat pepatah, lose some, get some. Ada yang hilang, ada yang datang. Ada yang pergi, ada yang datang, Ada kekalahan, ada kemenangan.

Tahun 2019 baru lewat 7 hari. Saya sih yakin, masih ada ratusan hari di depan mata yang siap menyuguhi saya dengan pertarungan. Tiap hari pun saya bertarung dengan diri saya sendiri agar bisa terus menutup hari dengan perasaan bersyukur. Beberapa mungkin saya menangkan, beberapa mungkin tidak, atau belum.

Makanya, saya siap-siap dulu dengan nulis ini.

Supaya tetap inget. :)