First Day in Bangkok

It was one fine morning. After few hours of sleep, I finally got through my first night in Bangkok in peace. Though the flight arrived Bangkok past midnight the night before, I was glad that the room arranged for me was a nice one (clean and white). At least I could save some energy to just put all my luggages aside before unpacking them tomorrow.  

This would be my first day working as an ‘expat’, or that I prefer to call “an overseas worker”. Yes, the kind of life I dreamed of since I watched Sex and The City eleven years ago. Ever since, I’d been wanting to work a ‘proper’ job overseas. It wasn’t like I didn’t appreciate people choice to go abroad and try working at the restaurant or Starbucks. For my wild dream that time, I just thought of working in an office once I finished university, holding a cup of Starbucks on my way to the office every morning, stepped into the elevator where everyone dressed up nicely, and walked in confidence as Ally McBeal’s moment where the Barry White song was playing. So, it had to start from the work in the office.

Now, here I was. Starting that life, today. The day I would remember. The day that started my new life all the way through to this day. 

First Day in Bangkok

The room I got was a 7 floors building. It wasn’t an apartment. People here called it “residence”. In Indonesia, it’s like a premium boarding house you could find in Kuningan area 5 times more expensive than normal rooom. My room was on the second floor just a few rooms after the elevator. This, I’d planned to to just take the stair rather than elevator.

First Day in Bangkok

I woke up early that day. Dressed up as how I usually was in Jakarta; in long pants, shirt, flats, and my tote bag. Only this time, I chose to walk. My friend has told me before that the office was only 1.3 km away form my place, so it was under my walking distance. 

8.45am, I stepped out from the house, greet the security by bowing my back a bit. I wish I could say “good morning” in Thai, but too bad I couldn’t. So, I just smiled. He smiled back at me. “He looked nice,” I thought. Which opinion turned out right, after my last day in this house. 

First Day in Bangkok

The environment around my building was also nice. There were one old apartment next to my building, a small cafe, and 2 (turns out to be a famous) Japanese dining restaurant. Trees were planted along the way. I took about 200 meters to reach the front of the small alley. Next to my alley, there was Starbucks (where I ended up buying 1 cup of coffee only for my whole staying in that house), and Big C – a big supermarket chain in Thailand (that became my first and only stop after late night office hour).

First Day in Bangkok
First Day in Bangkok

I kept on walking. Perhaps it’s because that was a Monday morning, so the traffic was quite jam. Motor, car, taxi (not a taxi like ours, I’ll show you later), were all over the street. Even it was only 1+ km distance, I’ve met 3-4 traffic lights along the street. There were also 3 Seven Eleven shops and small restaurants on the left and right side of the street. This was indeed a crowded area (again, my friend has told me this). A first thing I noticed that made this place was different than Jakarta, people were driving in silence. No horn, no people shouting, only the motorbike who tried to rule the world but cutting left and right – this one made them the same as Jakarta or other cities in our country. 

First Day in Bangkok

After 15 minutes walk, here I was. Arrived at my office located in one tall building, with over 30-sh floors.

First Day in Bangkok

I smiled again. I was so ready to start my first day in Bangkok. Living my dream from real, as an overseas worker. 

19 March 2018

Salah Potong Rambut

Saya paling santai, atau cuek, untuk urusan mencari salon untuk potong rambut. Beda dengan teman-teman yang punya satu salon langganan yang dipercaya untuk memegang kepalanya, saya bisa pergi ke salon mana saja. Yang penting: ada jasa gunting rambut cewek, dan harganya efordebel, tidak berlebihan.

Jaman SMA, saya dan teman saya bisa menyambangi salon di pinggiran kota supaya dapat salon murah. Alhasil, kita dapet salon dengan biaya potong kurang dari 30rb. Pernah juga sesekali ke salon agak mahal, sekitar 75rb (iya jaman itu, di kampung, potong rambut 75rb itu mahal haha). Beberapa kali juga saya minta teman saya yang waktu itu baru mengenyam kursus potong rambut untuk memotong rambut atau sekedar poni saya. Saya sih berani-berani aja, soalnya gratis. Haha.

Hasilnya? Kadang bagus, kadang sesuai ekspektasi, seringkali meleset dari ekspektasi. Tapi, saya ndak menyalahkan salon. Setelah potong rambut, saya dan teman lebih sering menertawakan imajinasi saya yang berharap hasil potongan rambut baru bisa membuat saya terlihat seperti model majalah yang saya jadikan contoh. Padahal, ya kali model rambut di Agnes Monica bisa sama jatuhnya kalau saya yang potong (iya saya beneran pernah potong rambut sambil ngeliatin model rambut Agmon waktu jaman lagu Tak Ada Logika). Haha!

Kebiasaan potong rambut ‘ngasal’ ini terus berlanjut. Waktu kuliah dan kerja, saya pun ndak punya salon langganan. Pernah di Johnny Andrean yang bau samponya khas itu, pernah di Yoppie, pernah di dekat kosan, saon di apartemen, pernah juga ke salon mahal yang sekali potong hampir setengah juta. Tapi ya sekali aja tu saya datang ke yang mahal haha. Sama seperti alasan waktu SMA, saya ndak merasa perlu buang banyak uang untuk potong rambut. Toh kalau panjang, ya hasilnya itu-itu lagi. Cakep abis potong cuma sementara, jadi ndak perlu bayar mahal-mahal. :D.

Sampai di Bangkok pun, saya tetap berantakan dengan urusan salon.

Suatu hari, saya gemes banget dengan panjang rambut saya yang nanggung. Di saat yang sama, saya melihat postingan idola saya bernama Marissa Anita (iya yang presenter TV itu), dengan potongan rambut yang asik banget. Pendek, hitam, segar, sambil ketawa lagi fotonya. Sejak melihat foto itu, saya terus berpikir: saya mau gunting rambut kayak itu! Siapa tau abis itu pas ketawa bisa secakep Marissa Anita. Yah saya juga mikir juga sih: mumpung lagi jauh dari siapa-siapa, apes-apes kalau guntingan saya gagal, saya toh ndak ketemu siapa-siapa di Bangkok. Jadi ndak papa deh.

Sejak hari itu, saya sungguh termotivasi untuk potong rambut. Saya rajin ngeliatin kiri kanan setiap kali menuju dan pulang dari kantor untuk mencari salon. Sesekali browsing juga cari harga potong rambut di Bangkok. Ternyata, potong rambut di sini mahal juga. Paling murah sekitar 150rb+. Buat saya, itu mahal. Huh.

Tibalah satu Minggu ketika saya benar-benar ndak tahan pengen gunting rambut. Eh kebetulan, ada salon nyempil di sudut di kompleks supermarket dekat tempat tinggal saya. Harganya 500 Baht, atau sekitar 250rb. Mahal sih. Cuman namanya pengen ya, ya udah.

Berbekal foto Marissa di HP, dan gerakan tangan menunjuk hape, rambut, hape dan rambut, ibu tukang gunting yang berperawakan sekitar hampir 40 tahun pun menggunting rambut saya.

Setelah selesai, jeng jeng! Apakah rambut saya tampak seperti Marissa? Tentu tidak! Rambut Marissa kayaknya tipis, saya agak tebal (sotoy). Rambut Marissa lurus dan berwarna, saya gelombang dan berwarna cat luntur. Lalu, apakah kalau saya senyum dengan rambut baru, saya tampak seperti Marissa yang tersenyum? Tentu saja tidak! Hahaha.

Intinya, potongan rambut saya KEPENDEKAN. Lebih pendek dari contoh foto Marissa. Saya stress habis potong. Chat teman sana sini. Berharap diberikan secercah kepercayaan diri.

Untungnya, teman-teman kantor saya suportif. Beberapa kaget liat rambut saya yang tetiba pendek. Tetapi, dalam nama suportifitas, mereka pun bilang : ah tapi bagus kok, cocok, gunting di mana? Kamu tampak segar. Sebagai anak yang mudah terpengaruh lingkungan dan pendapat orang, saya pun mulai menerima rambut kependekan saya.

Setelah beberapa minggu, rambut kependekan saya menunjukkan kebaikan. Bentuknya mulai beraturan. Tampak manis. Belah kiri belah kanan, juga tampak asik. Saya ndak kesal lagi. Malah jadi senang dan berterima kasih sama ibu penggunting rambut.

Sampai… sebulan kemudian, tepatnya minggu lalu, saya pengen gunting rambut lagi.

Saya lanjutkan besok ya.


Pengennya begitu…

Jadinya begini…

Bangkok – 160

Sampai tulisan ini dibuat, saya tak henti-hentinya takjub dengan alam yang mempertemukan saya dengan banyak orang baik. Tak hanya itu, banyak hal-hal yang saya rasa kurang baik, tapi kemudian menjadi baik. Ingat: baik, benar itu relatif.

Dulu, saya selalu kagum dan takjub dengan salah satu senior di kantor. Mendengar suaranya di Skype call saja, saya sudah merasa dia keren.  Bahasa Inggrisnya bagus (bukan rekan di Indonesia), pintar, bersahaja, baik, keren deh pokoknya. Kala itu, saya tak berharap akan bertemu dengannya karena kayaknya kerjaan saya dengannya tak nyambung-nyambung amat. Tapi, siapa sangka. Sudah hampir enam bulan ini saya bahkan bekerja dekat dengannya. Aslinya ya memang keren dan sangat baik!

Tinggal di Bangkok pun bukan perkara mudah buat saya. Bayangkan harus bekerja berjam-jam di kantor, lalu pulang ke rumah, istirahat, tidur, bangun, kerja lagi. Begitu setiap hari, sendiri. Tapi, lagi-lagi perkara ini dimudahkan karena rekan kerja saya yang dikirim ke sini juga baik. Anaknya nggak neko-neko, menjalani hidupnya dengan cara yang unik, yang sering membuat saya berpikir: nggak usah tegang-tegang amat. Just live your life the way it is.  Sungguh penyeimbang yang baik untuk otak saya yang mudah dan sering khawatir.

Teman saya pun baik. Banyak yang baik. Ah, semuanya baik dengan caranya masing-masing. Cara yang saya tidak bisa ungkapkan di sini. Kebaikan yang membuat saya bertahan dengan berbagai gejolak yang kerap terjadi di pikiran saya. Mulai dari yang receh, sampai yang serius bener. I SUPER LOVE YOU ALL!

Malam ini, saya khawatir. Terhadap banyak hal yang belum dan akan terjadi. Tapi, mengingat bagaimana selama ini alam berbaik hati kepada saya dengan mengirimkan saya orang dan perjalanan terbaik dalam hidup, rasanya saya tidak perlu takut.

Things will be fine. As how it always be.

Seems like I say this a lot :).

Bangkok – 109

Never had I thought that I will have one chapter in my life written in Bangkok starting last end of March 2018. 

At this very moment, I’m one of the 9,79 million population in Bangkok.  Glad to be here!

To start, people here are very nice and polite. Perhaps you ever witnessed unpleasant experience during your visit here. Me also. However, I have more nice than bad things here when it comes to meeting people, so here comes this post.

Once I went to a night market with my friend. It was a market where the tenant staff will stop by your desk to offer foods and drinks. I then ordered a bottle of beer. I didn’t have any penny left so I gave a money which was closed to the beer price. Let say it was 75 Baht and I gave the guy 100. When he got my money, he tried to say something in Thai, which of course I couldn’t understand. 5 minutes went by, he had not come back. Another 5 minutes, no clue. I forgot his face because it was quite dark. I told my friend, “I’m not sure he’s coming back with the return“.

10 minutes after, they guy came back with my return without taking not any penny.

Oh. I felt so guilty.

Wholehearted Workers

I have a strong sense that Thai people are very genuine when doing something, especially for the service-related. This thought comes a lot when I am in a public place and see how local people are interacting one to another. (This is also why I always love taking a public transportation in another country such as subway, train, bus, tuk tuk, boat, just any kind of vehicles. I love seeing and being around the local people because you could see many surprisingly nice things.)

Last week I took a bus for quite a distance. It was about 10 km from my place, Ekkamai, to Bangkok Chinatown area, Yaowarat Road. This must be weird, but I’m always awed with the bus helpers in Thai public transportation. They are the one who collects your money for the bus ticket. They have this special skills with the steel tube and cutter in the middle to cut the ticket or to fold the money. Some of them could do it very quick (I tried to find that steel tube in Google, but hasn’t found it yet). I feel like watching a show in a mini stage, called bus. 

Back to the the bus story.

It was around 6.30 pm. The bus helper was a mid 40s man wearing glasses and jacket. He was in a full uniform and still looked so tidy at that hour. And so did the driver.

This wasn’t the first time I saw the driver and his helper dressed up so formal in the public bus. Thai bus operates until 7.30 pm. The fact that perhaps driver and helper have worked for over 6-8 hours and keep the look clean impressed me in a way.

Despite from the governmental rule, for me, this show how people here appreciate their jobs and people they meet. High respect to the bus driver, bus helper, parking man, security, shop staffs, for doing his job very thoughtfully to everyone.

Also, if you happened to visit one of the biggest supermarket chain here named Big-C, you’ll find a middle age man or woman greet you on your way in or out while folding their hand in front of their chest, while saying Ka pun ka / khap. Don’t forget to reply them back in a smile.

Kindhearted People

One morning I saw a motorcycle taxi driver (or “ojek” in Bahasa) suddenly stepped down his motorbike during the red light to help a car that was about to turn to a forbidden roadway. Fortunately it was a huge morning traffic so I was able to see how this scene ends.Image result for bangkok motorbike driverSource: Bangkok Post

With still his helmed and vast on,  this driver guided the car slowly, while asking other cars and bikes from other sides to stop.  Once the car found his way, (I thought the motorbike driver would intend to stay closed by the driver side to ask for a money, but he didn’t at all), he stood in the opposite side of the driver so the car could just move right away. After that, he went back to his motorbike. Traffic light turned green, driver rode his bike away, street went back to normal. No crazy horn, no people shouted, no complains.

Again, I’m awed. And felt a second guilty for wrongly judging a personIMG_5347.jpg

This post is dedicated to mark my 109th days in Bangkok.

Minggu 10 Bangkok

Wow lama juga udah nggak nulis. Hampir 2 minggu. Gegaranya sih nonton series Netflix. Tiga yang lagi diputer-puter: Suits, 13 Reasons Why, dan Master of None. So far, yang ketiga yang paling disuka karena ceritanya simple dan bermakna aja gitu. Yang kedua nonton karena penasaran. Cukup bikin depresi sih filmnya, makanya jangan ditonton di malam hari. Yang pertama ditonton ulang lagi (dulu banget udah nonton tapi kepotong karena harus download), tentunya pengen aja gitu liat Meghan jadi artis. :D.

Kegandrungan dengan Neftlix ini lumayan mengalihkan perhatian di malam hari dan di weekend. Tapi selain series, ada juga kok keseruan lain yang belakangan lagi dikerjain yaitu…

Masak

Abis beli electrical pot aka kompor listrik mini, jadi kerajinan bikin ini itu. Tapi karena keterbatasan kamar (tanpa wastafel, tanpa dapur), jadi masaknya ya kudu yang gampang-gampang aja. So far yang udah sempet jadi: omelet jamur, pancake (pake bumbu jadi), nasi goreng, kacang hijau, dan spaghetti. Untuk yang tinggal dikosan, pasti tau kan betapa susahnya masak 4 menu ini. Terlihat mudah, tapi butuh perjuangan dan niat yang besar mulai dari wacana sampai makanannya betul-betul jadi. Seneng juga sih begitu jadi. Meskipun makannya ya buat sendiri2 aja. Niatnya minggu depan bikin kari ayam (pake bumbu instan juga. Palingan tambahin ayam + bihun aja). :D

Ukulele

Beberapa bulan ke Bangkok, beli ukulele. Pertamanya sih gara2 liat temen beli. Jadi pengen juga. Akhirnya, dibawa ke sini ukulelenya. Melihat kepiawaian Monita Tahalea, gue saya pun pengen ikut-ikutan. Tentunya, beda ladang beda bakat. Monita sekali gonjreng udah jadi lagunya, suaranya bagus pun. Saya kudu gonjreng 50 kali baru bisa jadi 1 lagu bagus. Dari ukulele, ketemu juga satu Youtube channel seru yang ngajarin Ukulele basic dengan penjelasan dan lagu yang asik. Namanya Cynthia Lin. Kalau lagi mau belajar ukulele juga, coba mampir aja ini ke Youtube Cynthia Lin. Selain tutoria, dia juga ngebagiin chord lagu yang bisa didownload gratis di pagenya.

Jalan kaki 

Jarak kantor dan tempat tinggal saat ini sekitar 1,3 km. Kalau bangun pagi dan nggak hujan, sebisa mungkin jalan kaki ke kantor. Selain menebus kesalahan makan daging babi tiap hari dan ngemil, jalan kaki ini jadi semacam terapi aja gitu. Dengan apa yang terjadi belakang ini, jadi makin pengen dan suka jalan kaki. Mungkin teori bahwa manfaat olahraga yang mengeluarkan endorfin lewat keringat itu benar adanya. Jika keringat dari jalan kaki 1,3 km juga mengandung endorfin, mungkin in menjelaskan kenapa saya jadi senang jalan kaki. Tepatnya jalan kaki bikin senang sih. Bukan sebaliknya.

Yang sebener-benernya, waktu minggu kedua di sini, pengen cari tempat olahraga massal. Maksudnya yoga, aerobik, senam, zumba, atau apalah itu dance2 seru yang sering diposting selebriti di Instagram. Tapi belum pernah ketemu. Selain bacanya susah karena website dalam bahasa Thailand, di sini mungkin belum tren olahraga seru begituan ya. Adanya senam, fitnes, yoga, yang standard aja. DAN harganya ya alah. Satu sesi yoga bisa 300-400 ribu. =(. Ya sudah deh. Sering-sering aja jalan kaki.

Night market

Hampir tiap Sabtu / Minggu, saya dan teman berkunjung ke night market di Bangkok. Yang udah dikunjungi pastinya juga udah dikunjungi kalian yang ke Bangkok sih. Sebut saja: Chatucak, Rathchada, Khaosan Road, Rodfai. Sudah kan? :D. Yang terakhir itu yang seru sih. Rodfai Night Market. Tempatnya otentik dan nyeni banget. Ada beberapa toko besar yang jual barang antik, kerajinan kulit, ada museum juga. Tentunya jajanan dan baju-baju murah yang nggak usah dibilang lagi. Sejauh ini, rasanya udah ke banyak tempat sih (walaupun belum). Karena udah ada yang seru, jadi belum hunting ke yang baru lagi. Mungkin harus genap semua night market di Bangkok ya sebelum pulang. Biar SAH.

NAH, itu kira-kira cerita tentang ngapain aja di sini. Beberapa keinginan lain yang ingin dilakukan di sini antara lain:

  • Bikin cerita mini seputar kota ini (mumpun di sini)
  • Mampir ke pantai
  • Mampir ke tempat gaul anak Bangkok, biar jadi kayak lost in translation gitu
  • Terakhir, GUNTING rambut. Mumpung di sini kan ya. Nggak ketemu siapa-siapa. Kalau nggak cocok, ada waktu untuk menunggunya panjang. Doakan yang terakhir ini nggak membawa petaka!

Eh, selamat Senin ya besok! (Oh yah, kita nggak libur Lebaran di sini, karena memang Lebaran nggak jadi libur nasional di sini.) 

IMG_6137
When you’re suddenly into Julia Robert after watching Pretty Woman.