Lee Kuan Yew (quoted from Generation Passport)

The Australian in Myanmar said to me, “You know Singapore used to look like Yangon, but Lee Kuan Yew cleaned it up.”

This is interesting.  Because both Yangon and Singapore were British colonies until roughly after WWII, when the British fled Asia.  Yangon, a beautiful city, is filled with beggars and a very poor population scattered in decaying colonial buildings, while Singapore is one of the wealthiest and modern countries in the world.  Why did two similar cities take  two such divergent paths in the last 50 years? – 

**

I knew this man when people start saying that soon-to-be-Jakarta’s governor, Basuki Tjahaja Purnama – Ahok, as a “Lee Kuan Yew” from Indonesia.
I knew this man is being criticized as a dictator or a tyrant.
Yet, many people also consider him as a savior and a hero.
But, until yesterday, I had no idea why people keep on talking about this man.

Then, I found this article posted on Facebook this morning.

http://generationpassport.com/2013/07/13/lee-kuan-yew-the-funniest-asian-man-to-ever-have-lived-on-planet-earth/

**

Despite all the pros and cons, at least now I know why people adore and admire him.

And together with all the Indonesians, this article has brought me another faith and hope for the new leader of Indonesia, to lead our country to the better future.

“I am often accused of interfering in the private lives of citizens. Yes, if I did not, had I not done that, we wouldn’t be here today. And I say without the slightest remorse, that we wouldn’t be here, we would not have made economic progress, if we had not intervene on very personal matters – who your neighbour is, how you live, the noise you make, how you spit, or what language you use. We decide what is right. Never mind what people think.” – Lee Kuan Yew, Straits Times, Apr 20 1987.

Belajar di Mana Saja

Berpegang pada semangat seperti yang tertera di judul tulisan ini, gue dan Andy membuat blog baru yang memuat apa yang sedang kami pelajari saat ini. 

Bahasa Mandarin.

Tujuannya, menggabungkan kegemaran menulis dan keinginan memajukan kemampuan berbahasa Mandarin, dengan cara paling menyenangkan. Nge-blog.

Nah, supaya keberadaannya bisa membangkitkan semangat menulis, blog ini kami beri nama…

http://dumplingsandbubbletea.wordpress.com

Andy nulis pakai karakter Taiwan.
Gue nulis pakai karakter sederhana (yang banyak gue contek dari kamus online karena masih nggak hafal).

Yang sedang belajar bahasa Mandarin, silakan mampir.
Lumayan buat hiburan di sela-sela tab Facebook atau Twitter yang sedang kamu baca. 

Kalau gagal paham, copy aja tulisannya ke translate.google.com. =)

谢谢!
(baca : xie xie; arti = terima kasih) 

Cerita kuli tinta

Jadi begini. Dari sekian banyak tulisan tidak penting yang saya tulis di sini, tampaknya sudah waktunya saya hadir dengan tulisan yang (mudah-mudahan) agak penting. Kali ini, seputar pekerjaan yang sudah saya tekuni sejak April 2011 lalu. :) 

Terus terang, saya tidak pernah membayangkan akan bekerja di bidang ini. Sebut saja, sejak SD atau SMP lalu. Ya, walaupun masa SMP saya pernah dihiasi dengan hip hip hura di belakang meja siaran, tapi tetap saja, menjalani profesi mengejar orang kesana-kemari, tak pernah terbersit di pikiran. 

Memang, saya sudah mengidolakan beberapa nama, seperti Rosiana Silalahi, Desi Anwar, Helmi Johannes, dan penyiar berita kawakan di masa SD saya dulu. Setiap melihat mereka tampil membawakan berita, saya sering berpikir, “Kenapa orang ini pintar sekali? Bisa cas cis cus begitu lancar dan sangat keren di TV?”. 

Saya tidak pernah tahu perjalanan mereka hingga bisa nongol di TV, sampai saya SMA. Di berbagai kegiatan vihara, saya baru menemukan cerita, bahwa orang-orang yang muncul di tivi itu mengawali karirnya dengan menjadi seorang reporter. Ada pula yang bahkan memulai dengan membantu hal-hal tidak penting di kantor, seperti mem-fotokopi dokumen, gulung kabel, dsb. Ini cerita betulan.

Memasuki masa kuliah, keinginan untuk berkarya di bidang ini semakin besar. Namun, masih dengan jalur menjadi seorang penyiar televisi seperti beberapa nama yang saya sebutkan tadi. Tapi, berhubung sempat punya pengalaman di radio, saya pun mencoba peruntungan di beberapa stasiun radio di Surabaya. Hasilnya? Nihil. Mungkin bukan rejeki saya, sebut saja begitu, biar agak lapang dada. Hehe. 

Nah, setelah pindah ke Jakarta, tahun 2008 lalu, keinginan untuk kembali ke televisi muncul lagi. Entah kenapa. Mungkin karena saya dipertemukan lagi dengan presenter kawakan masa itu, seperti Putra Nababan, Andini Effendi, atau Farhan (bukan penyiar berita, tapi dia penyiar di televisi. Okelah. Hehe). Mungkin juga karena labil, saya menggebu-gebu lagi ingin jadi seorang penyiar televisi.

Tahun 2010, saya mendapat kesempatan magang di salah satu stasiun televisi favorit. Satu bulan aja sih. Untuk saya, pekerjaan waktu itu sama sekali tidak ada di benak seorang yang kasmaran ingin jadi penyiar televisi. Tugas saya hanya menelepon ke sana kemari, fotokopi dokumen (ya), paling pol, mencatat waktu/timecode untuk penggalan gambar di kaset yang akan diolah menjadi video. Meski begitu, bayang-bayang magang di stasiun itu, sedikit membuat saya bangga. Apalagi, kalau bisa bertemu idola. Lewat di samping mereka seperempat detik saja bangganya udah nggak ketulungan. Hehe. 

Singkat kata, April 2011 lalu, saya betul-betul bekerja. Kali ini, tidak di bidang radio, tidak juga televisi, melainkan media cetak. Pernah terbayang kerja di koran? Tidak sama sekali. Dulu saya punya teman yang kerja di koran. Tapi membayangkan saya menulis untuk media cetak, sama sekali tidak pernah terpikirkan. 

8 November. Berarti, sudah 1 tahun lebih 7 bulan saya kerja di sini. Dari kadar kesenangan, saya bisa bilang saya 80% senang bekerja di sini. Kenapa? Mari saya jabarkan. :) 

1. Banyak orang hebat. Hebat tak berarti artis. Untuk saya, berbincang dengan mereka (si muda-muda) yang menang di kejuaraan internasional, membela lingkungan hingga diculik perusahaan, atau meninggalkan tawaran pekerjaan dengan gaji menjanjikan demi membantu masyarakat golongan bawah, adalah lebih dari HEBAT. Orang-orang ini yang membuat saya selalu pulang dengan hati puas, walau badan sudah hampir rontok karena menempuh perjalanan sekian lama untuk menjangkau mereka. :) 

2. Akses. Harus diakui, bekerja dengan label ini kerap diuntungkan. Saya tidak suka sih memanfaatkan ini untuk hal-hal tidak penting. Betul. Meski ada beberapa teman yang selalu menyarankan, saya tetap merasa segan (walau kadang godaan memanfaatkan status itu juga besar). Pemanfaatan saya yang terakhir cuma saat saya salah melintas di jalur cepat daerah Sudirman, usai menunaikan tugas liputan. Karena tak disengaja, saya yang panik bercampur takut ditilang pun membela diri dengan alasan pekerjaan. Hasilnya, pak polisi membebaskan saya. :) 

3. Jalan-jalan. Ada teman saya yang sangat keberatan jika tugas ke luar kota kami disebut ‘jalan-jalan’. Apalagi kalau ada yang pesen oleh-oleh. “Kami kerja, bukan liburan”, begitu kira-kira pembelaannya. Haha. Kalau untuk saya, tugas ke luar kota lebih baik dinikmati sebagai jalan-jalan, daripada kerja. Otak pasti sadar dia dituntut untuk bekerja. Namun, hati yang diatur untuk merasakan ini sebagai jalan-jalan, pasti akan menjalani ‘tugas’ itu dengan lebih enteng. Paling tidak begitu untuk saya. Beberapa hari di luar kota, dengan tuntutan untuk menyelesaikan tugas, ditambah keriaan bertemu tempat dan lingkungan baru, selalu membawa penyegaran yang luar biasa. :). Sebut saja, saya sudah sempat jalan-jalan ke Bandung, Ternate, Aceh, Bali, Yogyakarta, dan Pekanbaru. Karena gratis, boleh dong kita syukuri. :) 

4. Tahan banting. Percaya dengan yang ini? Saya, ya. Setelah saya amati, mereka yang bekerja di bidang ini sangat tahan banting. Baik secara fisik dan mental. Bayangkan saya, teman saya harus rela menunggu 6 jam demi bertemu seorang pejabat. Tugas paling membosankan yang mau tidak mau harus dikerjakan. Kebetulan, saya sempat merasakan beberapa waktu lalu. Tidak sampai 6 jam sih. Tapi tekanan batin mengejar pejabat yang sedang bermasalah itu, sungguh-sangat-menguras-energi. Kalau fisik, tidak usah disangsikan lagi. Liputan 12 hari di luar kota bisa langsung dilanjutkan dengan 3 hari di kota lain. Iya sih dibayar, tapi pengorbanan meninggalkan rumah, keluaga, atau pacar, bukan hal mudah, bukan? :). 

5. Pintar dan dewasa. Saya tidak tahu apakah faktor satu ini berkaitan dengan bidang yang kami tempuh atau tidak. Tapi 90% teman-teman seprofesi yang saya temui selama bekerja, sangatlah pintar. Meskipun gaya mereka acak-acakan, tapi otaknya luar biasa. Bisa jadi, ini karena tuntutan untuk selalu update informasi terkini. Tapi menemukan lawan bicara yang sangat menambah wawasan selalu menyenangkan untuk saya. Sebut saja beberapa teman saya yang datang dari jurusan sastra Rusia, s2 psikolog, penulis apik, lulusan sosiolog, pecinta musik, olahraga, hingga pecinta filsafat. Usia boleh muda, tapi pola pikir, mereka boleh diadu. Walau kerap dibuat bingung, tetap senang rasanya dikelilingi orang-orang seperti mereka. :) 

6. Senang. Ini inti semuanya. Meski pekerjaan kami tidak terbatas oleh waktu (sering teman lain iri karena saya bisa bekerja pukul 11 siang, tanpa mereka ketahui saya bisa liputan sampai pukul 2 pagi), kami sangat suka bersenang-senang. Sejauh survey saya selama ini, kegiatan yang paling diidolakan usai membanting tulang, adalah KAROKE, yang kemudian menimbulkan pertanyaan “siapa sih yang nggak suka karokean?”. Ahaha. Saya yakin ada yang jawab ‘SAYA’. Tapi ya begitu. Setiap kali berkumpul, kami selalu tertawa. Terakhir, setelah menuntaskan liputan hingga dini hari itu, kami bercengkerama di warung padang hingga pukul 4 pagi. Kalau tidak ada bunyi geseran pintu tanda warung akan ditutup, rasanya kami tidak akan beranjak dari tempat itu. 

Begitu kira-kira gambaran pekerjaan saya satu setengah tahun terakhir. Kalau ditanya, sampai kapan saya ingin bertahan di pekerjaan ini, saya tidak bisa menjawab. Tapi agaknya, selagi gaji saya masih cukup untuk makan, beli sepatu lucu dan murah, serta karoke, mungkin saya akan terus bertahan di sini. 

Setelah liputan tinju yang selesai dini hari itu (lagi-lagi), saya yang mengunggah foto lapangan tinju ke halaman Path, mendapat komentar dari salah satu teman, 

“Pernahkah kamu membayangkan akan hadir di tempat itu?” 

Pertanyaan sederhana, yang membuat saya berpikir panjang. Ya, saya memang tidak pernah suka olahraga tinju, (yang menurut hemat saya bukan olahraga, melainkan adu jotos. Hehe.) Namun, pertanyaan teman saya itu sangat menggelitik hati saya, yang memang tidak pernah berpikir untuk menyaksikan pertandingan tinju secara langsung. 

Dan, bertahan di pekerjaan ini, saya yakin, bisa membawa saya menjalani lebih banyak cerita baru yang tidak pernah saya pikirkan. Mungkin pula, suatu hari saya akan dibawa untuk singgah ke tempat atau sudut bumi, yang tidak pernah saya ketahui keberadaannya. :) 

 

Salam, 

Kuli tinta,
Dari balik kubikel

Do you count the efforts?

I still find thing is so difficult in a new job I had this recent month.
Beside all the ‘don’t understand’ and ‘confuse’ things that happened almost everytime I did the job,
I still got some others troubles to deal with.

I don’t know if it is okay for me to do a complain or not.
But, to have your several works are not used as they’re supposed to, it’s just a hurt.
I spent few hours in front of PC, searched for information here and there, asked everyone I can,
This still had nothing to do with all the emotional and pressure I had everytime I did it.
And finally, it’s paid with a ZERO result.
Can you feel what I feel, people?
Nothing can hit you more than what you did was not appreciated in every kind of ways.

Oh, yes. I am sad.
But, I still try to believe that everything’s happened for a reason (superb cliche).
And by the un-accepted work of mine, it’s going to mean something.
Maybe my work is not good enough.
Maybe my work is not proper enough to be sent to public.
Maybe I had not do my best to accomplish the task.
Maybe I am not suitable for this kind of….
Hmmm, let’s skip the last one.

One day, I used to put myself as a student who are doing assignments.
Once it’s accomplished, I get ten.
If I failed, be ready for nothing.
I try to bear in mind, if that is how I should figure what I am doing right now.

I almost broke down (again) today,
Seeing all my efforts was just flown away as it was nothing.
But, seeing that all the good things must come from one or two fucked up things, 
I’ll try to take it all lightly. 

I hope I could. 
Or, at least, I hope all the positive though I’d mentioned before, could be last, 
or the one, or two, or four months later. 
Forever is better. 
Because that’s how lifes will rule you, isn’t it? 
Amen.

Lose and hope

when you have to lose someone you love,
release him.
let’s send prayer and hope,
because a moment at some other place,
a better life must’ve waiting for him out there.

deep condolence for Yuli’s family. God will take care of him, buddy. *hug*