Semoga Tercapai

May all your dreams come true.
May all your wishes come true. 
Semoga tercapai semua yang dicita-citakan. 

Ini mungkin jadi kalimat wajib tiap kali kita ngucapin selamat ulang tahun ke teman-teman kita.

Tapi, kalau dipikir-pikir, dan dihayati sedikit…

Kalimat ini sebenarnya bermakna banget. Ya nggak sih?

Terlepas dari seberapa tulusnya ucapan itu terucap dari yang ngucapin, sepenggal kalimat ini adalah ucapan yang sangat bernilai. Paling tidak, untuk saya, hari ini. =)

Bagaimana orang mendoakan agar mimpi kita bisa tercapai,
Bagaimana orang memikirkan bahwa kita adalah orang dengan penuh khayalan dan cita-cita, dan berharap agar kita terus semangat untuk meraihnya,
Bagaimana orang mengenal kita dengan segala pikiran dan pengharapan kita, dan (lagi) ikut berikrar agar harapan kita bisa terwujud,
Bagaimana orang menaruh perhatian pada kita, dan memanggil kebahagiaan untuk datang pada kita,
Paling tidak untuk hari paling berbahagia kita,
Hari ulang tahun kita.

Jadi, untuk yang sudah berucap atau dengan tulus berdoa,

Terima kasih.

Sebesar keyakinan saya pada alam semesta yang menangkap pikiran kita lebih cepat dari kekuatan cahaya,
Dan keyakinan bahwa ucapan adalah doa,
Maka saya pun percaya bahwa “Semoga tercapai” akan menjadi doa dari setiap kalian yang mengatakannya,
Dan penyemangat ketika harus bertemu kerikil kecil di masa mendatang.

Terima kasih. =’)

Dubidu on Cake

Quality Time Effect

According to Wikipedia, Quality Time means…

Time spent in giving another person one’s undivided attention in order to strengthen a relationship, especially with reference to working parents and their child or children.

I rarely have a time spent for this quality time. First, it’s because of the non-stop activities from day to noon, 7 days a week. I’m not saying that I’m a busy buddy who spends her entire days doing business or the humanitarian works. But, to have a whole day full of activities is sort of weakening your body and mind. So, to spend some other times even for going somewhere to have a chit chat with friends is not that preferable. 

Having a me-time in the room, reading, watching some series, or listening to some good music, or just laying on the bed, checking your Path, and stuffs, are way better choices for having your few hours left before sleeping time rather than others. I still manage to meet friends though. But, only a few of them are considered a quality time. 

Second, having a friend who has a same frequency is just as hard as looking for a right partner to spend your life with. I confirm it’s true. I have one or two friends here who stay at quite the same frequency as I do. But, there are times that it seems like a thing works differently between us. I’m not saying that you ought to have to a friend who always say ‘yes’ to you, or never arguing you. No. Some things are just different in our way of thoughts, so I might have it hard to share my particular issues to them. Thus, the only thing I can do is just to keep things stay in my mind until an unpredictable time. Yet, they are still the best friends to laugh, and share during this one last year.  They’ve let me meet many new friends which I never have till my high school time. At least, now I have many people to say ‘hi’ to when I go to the mall or have a lunch in a restaurant. 

The urge to have this precious quality time drove me to have a holiday with my friends last week. Three days in Bali, and 2 days in Jakarta were such a golden moment. I can’t tell you how happy I was to meet them all. All the patience to keep things in my own head for months and months was paid off in my last trip. 

We talked about so many things. About the happiness, the college life, the confusion, the doubt, the dream, the plan towards our future. We did the crazy things, took pictures, grabbed some beers and cheap wine and got ourselves drunk. We talked about the mess we meet at works, at the office, at the new place we live. We talked for 6 hours non-stop at our most favorite coffee shop. We spent the night talking in the bedroom with the lights off, like there was no tomorrow (and suddenly blanked out for a second since we both were too sleepy but too afraid to fall asleep as we still had tons of things to shared). We talked about how we are actually progressing by now (compared to our life few years ago), about how we should pay a gratitude for what he have at our present life.

We talked about the life we have.

We talked a lot and we were not exhausted at all. In fact, we’re dying to have more as the memory then was very hard to be forgotten. (as what Andy has concisely written in I don’t want to move on from this‘).  

We talked about how we missed each other and how we waited for the time to have our quality time back. 

 At the moment, I know that I already have those who have the same frequency as me, and it’s a bless to find it in them. 

IMG_12923982186853

IMAG0503

IMAG0513

IMAG0516

With Indah, Andreas, Hervinny and Diana at Liberica Coffee

So, what’s the effect after having a quality time?  

First, I know that I have to thank to my life. At least, I am given a money, time, and opportunity to spend time with my friends, though it’s only once a year. 

Second, I have to work hard and earn more so that I can spend another time, somewhere, to meet them up and have more quality times to spend.
 

Till we meet again!

Menangis atau Terharu?

Menurut hemat saya…

– Menangis itu air mata yang muncul karena perasaan yang meluap-luap, (tapi menurut saya sih cenderung sedih atau susah).
– Terharu itu air mata yang muncul karena seseorang menghadapi sebuah peristiwa yang besar (cenderung membahagiakan). 

Jumat, 6 Juni 2014, teman baik saya, Lauren, menikah dengan laki-laki yang sudah dia pacari, hampir, 10 tahun. Ya, sejak SMA keduanya sudah merajut kasih. Tiap jam istirahat, sementara saya dan teman-teman berlari secepat kuda menuju kantin agar bisa mendapatkan bakso, Ren dan pacarnya adem ayem aja di dalam kelas. Sementara salah satu dari kami sedih (jaman dulu belum ada ‘galau’) karena urusan cowok-cowokan, Ren hanya menanggapi kami dengan tanggapan datar-datar saja. Hubungan yang pasang surut juga mereka alami. Namun mereka bertahan, hingga hari ini.

Masa SMA adalah jaman saya mulai merasakan jadi anak remaja itu seru. Saat itulah saya bisa bawa motor sendiri ke sekolah, dan merasa begitu anggun mengenakan seragam SMA putih-putih (seragam sekolah) dengan potongan rok yang bukan lagi ngembang-ngembang melainkan span ala gadis kantor.  Keberanian untuk bolos, sedikit nyontek, juga baru saya dapatkan di kala SMA. Dan kesenangan terbesar tentu karena mendapatkan teman akrab layaknya teman-temannya Cinta di film AADC (Ada Apa Dengan Cinta?).

IMG01541-20120919-2041Pengganti Cinta dan kawan-kawan, versi AADP (Ada Apa di Pontianak). 

Lulus SMA tahun 2006, kami semua berpisah. Sisca ke Jogja, Maria kembali ke kampung halamannya di Sintang yang harus ditempuh lewat 10 jam perjalanan darat dari Pontianak, saya ke Surabaya, dan Lauren di Pontianak. Perjumpaan dengan personil komplit yang terakhir, ya perpisahan tahun 2006 itu. Sisanya, terpisah-pisah. Saya bertemu Sisca di Surabaya, saya bertemu Lauren di Jakarta, Maria bertemu Lauren di Pontianak, kami bertiga bertemu di Pontianak tanpa Sisca. Sering kami membuat janji untuk bertemu kembali, di Bali. Namun tentu tak wujud terjadi.

Pertemuan komplit itu baru terjadi ketika salah satu dari kami… menikah.

Beberapa hari lalu, Sisca pulang ke Pontianak, Maria datang ke Pontianak. Kami berkumpul kembali hari ini, di hari besar Lauren! Saya, Sisca, dan Maria, mampir ke acara kumpul keluarga Lauren di restoran. Harusnya dia tidak tahu Sisca akan hadir. Namun, instingnya terlalu kuat untuk melewatkan tipuan kami bahwa salah satu tidak bisa hadir. Kejutan kami tidak terlalu mengejutkan. Setelah acara makan-makan, kami pun foto-foto. Satu per satu anggota keluarga pamit pulang, termasuk ayah dan ibu Lauren.

Di sinilah drama terjadi.

Ayah dan ibu Lauren melangkahkan kaki menuju untuk menyalami kedua mempelai, kemudian berhenti saat menyalami anak pertamanya. Semacam salam perpisahan karena mulai hari ini Lauren akan resmi ‘keluar’ dari rumah dan ‘masuk’ ke rumah suaminya. Sang ibu tampak berpesan ini itu kepada sang putri. Kami bertiga berdiri sekitar 2 meter dari tempat mereka bersalaman. Melihat adegan itu, tanpa perlu mendengar apa yang dibicarakan, satu per satu dari kami mulai bereaksi. Reaksi paling besar terjadi di saya.

Sebenarnya saat melihat adegan itu saya sudah berkaca-kaca, dan langsung pura-pura sibuk dengan handphone. Tapi saya gagal. Sesaat setelah ayah dan ibu Lauren pulang (saya melihat raut wajah ibu dan ayahnya yang tampak menahan sedih namun berusaha kuat untuk tersenyum), saya menoleh ke Lauren. Ternyata si pengantin wanita sudah sibuk menghapus air mata di balik bouquet cantik yang dipegang. Saya pun ikut menghapus air mata. Dengan tambahan air yang mulai mengucur di hidung. Saya banjir air mata. “Ah kau nih tak berubah dari SMA,” begitu saja tanggapan si pengantin wanita.

Saya memang orang yang mudah menangis. Apalagi kalau dipancing. Melihat adegan Ren dan ibunya, saya bisa merasakan bagaimana beratnya si ibu melepaskan Lauren yang selama ini selalu bersama dirinya sejak kecil. Saya bisa merasakan betapa sedihnya Lauren yang harus meninggalkan keluarganya, untuk masuk ke keluarga baru. Keduanya sedih untuk berpisah.

Air mata saya juga mengucur karena kesedihan melihat salah satu teman saya ‘pergi’. Pergi untuk menjadi seorang perempuan yang sesungguhnya, meninggalkan status ‘remaja’, beralih menjadi seorang ‘istri’. Saya sedih membayangkan mungkin saya tidak akan bisa lagi seenak perut menelepon Lauren jam 12 siang untuk makan nasi uduk atau es krim di pinggir jalan. Saya sedih membayangkan tidak akan bisa curhat seenak hati lagi kepada teman yang selalu siap mendengarkan dan memberikan saran dengan cuek namun mengena. Saya sedih karena mulai hari ini, teman terbaik saya akan ‘berubah’. Dia sudah menjadi menantu dari keluarga baru, dan istri seorang pria, bukan lagi remaja yang bisa hura-hura sesukanya (macam saya).

Namun, air mata untuk itu tentu tidak boleh bertahan lama. Jadi, setelah adegan tisu-tisuan dan foto bersama, saya menyingkirkan keegoisan saya yang merasa kehilangan. Saya harus membesarkan hati untuk berbahagia. Saya ingin air mata saya muncul karena terharu. Ini pasti hari yang sangat Lauren tunggu, kendati dia selalu berkata tidak merasakan deg-deg-an untuk hari ini. Lauren pasti sudah siap untuk mengganti status barunya dari ‘pacar’ menjadi ‘istri’, ‘anak’ menjadi ‘menantu’, dan ‘remaja’ menjadi ‘dewasa’. Lauren pasti bahagia, jadi saya wajib merasakan hal yang sama juga.

Lauren, aku sungguh mendoakanmu agar semakin bahagia dengan kehidupan baru. Semoga langgeng dan bahagia lahir batin bersama Indra. Lain kali kalau nggak sempet ketemu buat curhat, akan ku email kau. Kalau mau makan es krim atau nasi uduk, aku akan telepon sehari sebelumnya. Siang hari, bukan malam hari, supaya tidak mengganggu ‘tidurmu’. Have a great life, Ren! Love youuuu! 

IMG-20140606-WA002“I was rooting to not losing my best friend. But that’s selfish.
No matter where you go, I’m in your corner and will always be.” 

Robin Scherbatsky to Lily Adrin, for not wanting her moving to Italy. (HIMYM season 9 episode “Bass Player Wanted”)

Ayo ke Sini!

Keindahan negara Inggris telah banyak menyihir orang-orang di sekeliling saya. Saya ingat betul ketika salah satu teman dengan penuh semangat berkata, ‘Vinny! Gue pengen ke Inggris!’. Alasan mereka pun beraneka ragam. Mulai dari ingin melihat Big Ben, berfoto di depan Oxford University, atau mengunjungi stadion klub bola favoritnya. Karena mimpi yang belum juga terwujud, ada juga yang tergila-gila menitip sovenir bendera Inggris kepada siapapun yang berrkunjung ke sana.

Nah, di antara mereka yang masih bermimpi, salah satu teman saya yang berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menginjakkan kaki di kota London adalah Christine Franciska, yang akrab disapa Itin. Itin adalah teman saya semasa bekerja di media.

Bulan Juli 2013 lalu, Itin menghabiskan waktu selama 3 minggu di London untuk mengikuti pelatihan jurnalisme bersama salah satu media nasional Inggris.

Selama di sana, saya dan Itin sesekali saling berkirim pesan singkat. Saya yang suka berkhayal ini, punya kebiasaan meminta teman saya untuk memotret keadaan di sekelilingnya, khususnya ketika mereka sedang berada di tempat yang memiliki ‘arti’ untuk saya. Melihat foto mereka untuk sepersekian detik selalu berhasil membawa saya berpindah tempat ke apa yang sedang saya tatap.

Misalnya, saya pernah meminta teman saya memotret taksi kuning para New Yorkers yang sesungguhnya saat ia sedang mengunjungi Manhattan, Amerika Serikat, salah satu kota impian yang ingin saya kunjungi.

Manhattan-20120208-00398Pernah saya tuliskan di sini

Di kesempatan lain, saya juga meminta teman saya untuk memotret tempat nongkrong saya dan kawan-kawan semasa bekerja sebagai peliput berita olahraga, Gelora Bung Karno, Jakarta.

20140514_170315 (1)

 Terima kasih banyak, Gadi!

Nah, Itin juga mendapatkan titipan serupa.  “Tin, fotoin gue Big Ben!”, pesan saya sebelum ia bertolak ke Inggris. “Fotoin pemandangan sekitar tempat tinggal lo, taman-taman yang lo lewatin, juga boleh kok”, pesan berikutnya yang saya susulkan kepada Itin. Hari demi hari menanti, namun tak satupun foto yang kunjung datang.

Sampai pada satu hari, Itin menghubungi saya dan memberikan kabar bahwa jadwalnya di sana terbilang padat. Pelatihan dari pagi, siang, hingga malam. Setiap hari ia harus berjalan kaki dari apartemen ke kantor tempat pelatihan dilaksanakan. Belum lagi, proses adaptasi yang tidak mudah. Apalagi, ketika rasa sepi dan homesick mulai menyerang karena menyadari tidak ada kerabat dekat di sana, kecuali satu rekannya yang juga mengikuti pelatihan dari Indonesia.

Menerima pesan tersebut, saya pun maklum-maklum saja. Masa’ iya orang lagi sibuk dipaksa ngambil foto? Teman macam apa saya. Sejak itu, saya tidak lagi ‘menagih’ foto Big Ben kepada Itin.

***

Tidak terasa, masa pelatihan Itin hampir berakhir. Beberapa hari sebelum bertolak ke Indonesia, diawali dengan permintaan maaf karena baru bisa berkabar karena kesibukan yang luar biasa, sebuah pesan dari Itin masuk ke telepon genggam saya.

TOWER BRIDGEPernah ditulis di sini

Menerima gambar dan pesan yang Itin tulis, saya langsung tersenyum sumringah. Hati saya seketika berada di atas level rata-rata sebuah perasaan bahagia. Melihat nama ‘Vinny’ di sana, sesuatu, yang tidak bisa saya jelaskan bagaimana bentuknya, membawa tubuh ini menggantikan posisi kertas yang Itin pegang.

Sejak hari itu, saya menyelipkan mimpi berikutnya yang akan saya kejar. Suatu hari nanti, yang akan berdiri di atas Sungai Thames, di hadapan Tower Bridge, bukan lagi kertas dengan coretan nama saya, melainkan saya sendiri.

Dan tulisan ini menjadi cerita penutup mengapa saya ingin ke Inggris.  As this is my last post for #InggrisGratis, hopefully we’ll make it right, Tin! :)

Mini Yellow Taxi

I am a typical person who has this pleasure seeing picture people specially captured (actually mostly was by request), at a place which means so much to me.

This one was one of them, taken by Putri, back when she went to Manhattan, United States, represented her college for Model United Nation conference. It was February 9th 2012.

Manhattan-20120208-00398

 

Manhattan-20120208-00425

 The mini taxi that always there wherever I stay. Thanks a bunch, Put! :)