First Day Being a Student in China

About a year and a half ago, I saw Maudy Ayunda’s story in her Youtube about her life in Oxford back in 2016. I loved it very much. (It’s long before she’ll know and announced her dilemma over Harvard and Stanford just today). I’m not a fans, but her kind of story of her life, the college library, the time she visited the market, riding the bicycle, were kind of stories that made me dreamt of going abroad for study also, back when I was in high school (beside working).

I had applied for a master scholarship (all deadly went for universities in America) for more than 5 times since I was in the year end of my college. Unlike how Maudy ended up with her submissions, I didn’t pass any. Some applications, my brother noticed. Yet many, they didn’t. Until one day, my brother offered me something. “You could go to China to pursue your dream to study abroad,” he said. “And to learn Chinese”, for sure.

Though it wasn’t a country I dreamt of for living, I, of course, took his offer gratefully. After many asking, researching, and surveying, I made my choice for when and where to go.

Long story short, I landed in Guangzhou, China, right few days before today, 4 years ago.

The day I arrived was closed to the end of winter in the southern part of China. Although we’d been told and prepared for a jacket, the cold still bite me a bit. About 15 of us were led by one teacher from Indonesia who was previously student in the university we were going to attend. So, he guided us all the way once we landed in the airport to the dorm.

First Day Being Student in China

Sun Yat Sen University was the place I chose. After getting many offers from the agency, Sun Yat Sen University (SYSU), is located in Guangzhou, won my heart.

First reason was that many said it has less Indonesians students (sometimes this is a thing you will and need to consider when studying abroad – although some preferred the other way). Second, I was bought with the university brochure where the campus looked very nice and green. Last but not least, SYSU is on the top rank of top 3 universities in southern China. So, I had no doubt. Guangzhou, I chose, for I didn’t want to stay in too metropolitan city like Shanghai (because it’s expensive). Just like my previous reason to choose Surabaya over Jakarta, that’s how I ended up with Guangzhou instead. :)

With my intention to study Chinese, I attended The School of Chinese as a Second Language (SCSL) for one semester. This was an intensive program attended by foreign students who want to learn specifically for Chinese. Not only that China population was 1,37 billion alone that year, portion of foreigners who study in this university were also big. From Monday to Friday, almost 6 hours a day, we learned speaking, writing, and listening to Chinese so reading sometime like this wasn’t a problem 4 years back, until tonight. Any of you could read? I believe there was no secret written here.

First Day Being Student in China

Sun Yat Sen University isn’t located in the suburb area (as I thought of most universities were located). Instead, it’s located in one crowded area not far from the central city. Just accros the campus, lies a trade market where many people from Africa, India, and even Indonesia bought wholesale stuffs especially clothes, and did the delivery just at the same location. One stop shopping, I called. Just like a common campus area, it has also many restaurants nearby and of course McD.

The campus itself, was in one big area. Every building looked so pretty and reminded me of the French building style with a lot of bricks. Trees were everywhere. Many students were walking on the pedestrian because car wasn’t allowed to pass the university area, except for a bicycle. Were you reminded of University of Indonesia? Because it’s pretty much alike.

First Day Being Student in China

My dorm was about 5 minutes walk form the main entrance. While dragging my big orange luggage, I’d imagined how my life would be when the school started (that I couldn’t wait!).

Once we got the dorm and spoke to the receptionist, the teacher led us to the room we’d booked in advance. I got a room with Sherly, a very active girl from Jakarta who was 6-7 years younger than me. For you to know, I was the oldest among the group. That’s why, weeks after, everyone in my Indonesian group called me “jie-jie (姐姐)” or older sister in Chinese. What a title! :)

Our room was in the second floor, only two rooms before the corner room. The building was quite old room and so did the dorm, but for me, it came with a sensible price we paid. This building had total of 4 floors with perhaps 70 rooms. I remembered settling my luggage to my bed after picking up my side, on the left, and Sherly on the right.

First Day Being Student in China

There was a small alley In front of my room where I could stand and saw a small garden lied in the middle of this square building. There were two public kitchen, on the first and third floor. That afternoon, sitting in one of the table, a couple who were reading to a book, perhaps for studying. Next to a security post in front of the building, there’s a small shop where we ended up buying coffee after the class or ice cream on the lunch break in the following days.

Few days later, our teacher told me that there was a traditional market about 15 minutes away from our place. The place was then become our favorite place to go almost every day and night for a good food, cheap bedroom and bathroom stuffs, and of course delicious desserts.

I still can feel the cold on the first day I had when I first stepped down the airport, and so did the happiness on my first week in this country. While digging up the old photos in my desktop to put in the blog, I can’t stop smiling remembering how the picture was taken back then. I have many memorable stories of my living in the most populous country on earth.

First day just started and I knew the moment that this ride would be fun!

First Day Being Student in China


March 2, 2015

Mendukung Indonesia, Tidak di Indonesia

Guangzhou, 18 Mei 2015

Tadinya udah hampir batal mewujudkan niat nonton Piala Sudirman di Dongguan. Cuman, setelah ‘dihasut’ sana-sini, akhirnya berangkat juga, bersama dua teman lainnya. Yang satu memang pecinta bulutangkis, yang satu lagi, kayaknya, baru mencintai bulutangkis. =)

Dongfeng Nissan Sports Center, Dongguan, China

Ternyata, jadi pendukung Indonesia di kandang orang itu nggak gampang. Apalagi, di ‘kandang’ dengan populasi terbanyak di dunia. Cina. Begitulah yang kami rasakan saat menyaksikan pertandingan semifinal antara Indonesia-Cina, 16 Mei lalu.

Sebenarnya kami udah kepikiran kalau keberadaan kami sebagai pendukung Indonesia yang super minoritas mungkin agak-agak berbahaya. Karena itu, waktu beli tiket, kami minta ditempatkan bersama dengan deretan pendukung Indonesia. Dikasih sih. Cuma, celakanya, setelah tiket diterima di tangan, kami baru sadar “manalah mungkin penjual tiket tau dimana tempat duduk pendukung Indonesia. Yang beli kan buanyak”. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Berbekal tiket kelas 2 seharga 300 yuan, kami mendapat tempat duduk di bagian tengah. Bukan tempat strategis untuk melihat ekspresi atlet dari jarak dekat, tapi ya cukup strategis untuk melihat dari samping. Selain itu, strategis juga untuk menguping selentingan komentar-komentar dari pendukung lawan.

Begitu pertandingan dimulai, saya dan dua teman langsung antusias memberikan dukungan untuk Indonesia. Balon tepuk tangan yang dibagikan gratis oleh SPG di depan stadion sudah stand by di tangan. Siap ditepukkan ketika atlet Indonesia masuk ke lapangan.

Bekal Telepati

Pasangan pertama yang masuk adalah Hendra Setiawan – Muhammad Ahsan. Kemunculan pasangan ganda putra andalan Indonesia ini langsung disambut meriah oleh 20an atlet Indonesia yang duduk nun jauh di sana, plus kami bertiga yang duduk nan jauh di sini. Iya, hanya kami aja yang tepuk tangan, dan mungkin setumpuk2 orang yang tersebar di belahan-belahan lain. Tapi kami cuek saja. Toh, kami memang pendukung Indonesia. Beberapa pasang mata mulai keheranan melihat kami yang ‘membelot’ dari mereka.

Saat pertandingan berlangsung, hal yang sama juga terjadi. Setiap kali Indonesia mencetak poin, kami langsung bersorak kegirangan. Sementara, tetangga di kiri kanan menatap sinis (saya duduk di tengah, jadi tidak merasakan langsung tatapan nanar itu). Jika lawan yang mencetak poin, kami pun tak berekspresi kendati ribuan orang itu sedang bersorak sorai. Sesekali, kami sok bertelepati dengan atlet Indonesia di belahan kanan itu. Kalau mereka berteriak “In… Do…Ne…Sia…”, kami langsung menepukkan balon dengan kencang “prok prok… prok prok prok…”. Aslinya sih mungkin tepukan kami juga nggak kedengeran oleh si atlet. Tapi tak apalah. Rasanya ‘menyatu’ kok walaupun dari jauh.

Di kandang orang

Waktu pasangan Hendra-Aksan menaklukkan tim lawan, kami langsung berdiri sembari bertepuk tangan. Ceritanya, standing applause. Alhasil, tetangga pun semakin sebal. Tapi, kami masih cuek saja. Maju terus untuk Indonesia.

Belatrix Keseleo


Pertandingan kedua berlangsung. Kali ini tidak berjalan lama sebab pemain tunggal putri kita, Belatrix Manuputy, mengalami cedera di menit-menit awal. Padahal, Belatrix sudah mengungguli Cina dengan skor 5-3. Bela sempat mencoba main lagi setelah mendapat pertolongan oleh tim medis. Tapi, dari raut wajahnya, sakitnya memang sakit banget. Alhasil, ia tidak bisa melanjutkan pertandingan. Tim lawan pun mendapat ‘hadiah’ 1 poin dari Indonesia. Tidak perlu terlalu dibanggakan sih, walaupun terus terang kami sedikit sedih.

Pertandingan ketiga dibawakan oleh tim tunggal putra, yang diwakili oleh Jonatan Christy. Jonatan ini pemain baru. Lawannya, Chen Long, pemain nomor 1 dunia. Di salah satu portal berita, Chen Long ini salah satu idola Jonatan. Kalau saya jadi Jonatan, saya pasti senang sekali bisa berhadapan dengan idola saya. Tapi, tentu saja, kesenangan ini harus segera dibungkam karena Jonatan punya tanggung jawab menyumbangkan poin untuk Indonesia. Seperti yang sudah diperkirakan dengan hitungan hitam di atas putih, Jonatan harus mengakui keunggulan idolanya. Di sini, pendukung tetangga semakin menjadi-jadi dan berkoar-koar meneriakkan nama pahlawannya. Saya dan teman-teman, mulai diam. Kedudukan 2-1 untuk Cina.

Babak penentu


Pertandingan keempat ini yang menegangkan. Greysia Polii dan Nindya akan menjadi penentu kelangsungan tim merah putih. Kalau mereka menang, maka Indonesia akan menyamakan kedudukan. Masih ada peluang di putaran kelima. Sebaliknya, kalau gagal, maka tetangga langsung menang.

Di sini, pertarungan antar pendukung pun semakin terasa. Apalagi, pasangan ganda putri kita bermain dengan penuh perlawanan. Setiap poin didapat dengan begitu susah dan harus melalui reli-reli panjang. Pendukung tetangga yang kaum pria mulai gemas melihat pertahanan tim kita. Kami tentu saja semakin bersemangat bertepuk tangan. Apalagi, Polii dan Nindya berhasil unggul di babak pertama. Dengan bangga, kami menepukkan balon gratisan itu, sembari disambut tatapan kesal dari tetangga.


Di babak kedua, permainan semakin tegang. Pasalnya, tim lawan mulai terbakar untuk menaklukkan tim kita. Pendukung pun ikut gregetan. Di deretan belakang kami, dua pria dan satu wanita mulai memberikan komentar-komentar atas permainan di lapangan. “Jago juga ya mereka,” ujar perempuan dalam bahasa Mandarin. Kawannya yang pria, dengan penuh semangat meneriakkan “Bunuh… Bunuh…”, mengiringi setiap pukulan smash yang ditembakkan bagi pemain Indonesia. Sayangnya, tim Indonesia tak semudah itu dibunuh. Beberapa kali, Polii dan Nindya menutup percobaan pembunuhan oleh tim lawan dengan perolehan poin. Kalau sudah begitu, si pria akan kecewa. Sempat iya bercelutuk, “Kenapa dibunuh nggak mati-mati sih!”. Kami di bawah cengengesan saja. Sayang, Indonesia kalah di babak kedua.

Babak ketiga sekaligus babak penentu, makin panas. Tim lawan semakin menekan. Tim kita pun sedikit mengendor di babak ketiga. Kami mulai tidak banyak bersuara. Atlet juga begitu. Agaknya kami terbawa hawa siap-siap menerima kekalahan. Di tengah gemuruh pendukung lawan, Indonesia pun harus mengakui keunggulan Cina. Pertarungan ganda putri dimenangkan Cina. Indonesia pun harus puas di semifinal. Pendukung lawan di depan kami yang tadinya duduk adem ayem, akhirnya berdiri sambil joget-joget memunggungi kami. Huh!

Akhirnya, Indonesia harus puas tiba di babak semifinal saja. Apakah kami, trio supporter ini, kecewa? Tentu tidak. Paling tidak, saya sama sekali tidak kecewa.

Berkesan. Banget.


Menjadi pendukung Indonesia di kandang orang memberikan kesan mendalam tentang menjadi Indonesia. Mendengar ketakutan tim lawan atas tim Indonesia, atau melihat kekesalan wajah pendukung karena Indonesia meraih poin, membuat saya semakin bangga pada Indonesia. Siapa bilang tim merah putih jelek? Sehari sebelum semifinal, komentator di televisi lokal bahkan mengaku bahwa tim negaranya harus waspada dengan tim ganda Indonesia. Saya bangga bukan kepalang. (Sekaligus bangga sedikit karena bisa memahami omongan komentator dalam bahasa lokal. =D)

Menjadi pendukung Indonesia di Indonesia pasti lebih berasa. Apalagi bisa bergabung dengan ribuan orang meneriakkan yel-yel untuk atlet atau untuk Indonesia. Namun, ada sensasi yang berbeda saat mendukung Indonesia ketika kita tidak bersama dengan pendukung Indonesia. Minimal, yang terpikirkan di kepala adalah “Bodo lo liat-liat! Udah jauh-jauh gue ke sini buat dukung Indonesia, ya harus dukung dengan semangat!”. Meskipun terkesan cemen, motivasi itu sedikit banyak membuat kami bangga meneriakkan nama Indonesia, meskipun menerima tatapan tidak menyenangkan dari orang-orang. Dan ketika Indonesia meraih poin, di situ perasaan bangga menjadi Indonesia mengalir begitu deras di wajah kami. Kalaupun tak meraih poin, kami pun tidak malu, sebab kami melihat bagaimana atlet itu berjuang untuk mempertahankan poin mereka. Kami tetap bangga.

Rico dan Shelly

Itu Rico, dan Shelly

Yang paling membuat saya senang adalah perjalanan bersama dengan dua teman saya ini, Rico dan Shelly.

Sebelum tiba di stadion, saya tidak punya bayangan, pendukung seperti apakah mereka berdua. Pengetahuan saya tentang mereka hanya dari referensi di kehidupan asrama dan sekolah, tidak di lapangan. Tapi, setelah merasakan kebersamaan mulai dari sesat di stasiun, sesat di kereta, sesat di bus, sesat di jalan, hingga sesat di stadion untuk membeli tiket, saya bisa merasakan bahwa mereka juga cinta Indonesia.

Tampak depan
Tampak depan stadion

Replika Piala

Pintu Masuk
Pintu masuk stadion

Kami semua senang bukan kepalang saat berhasil menemukan penampakan stadion yang megah itu, setelah hampir 2 jam naik turun bus dan wara wiri di jalan. Keduanya juga tampak semangat saat meneriakkan nama Indonesia dari barisan penonton. Keduanya cuek saja walau orang di kiri kanan mereka memberikan gerak gerik atau mimik wajah mencemooh karena tau mereka mendukung Indonesia. Saya senang karena meskipun Indonesia belum berhasil memenangkan pertarungan kali ini, tidak ada penyesalan yang terucap dari mulut mereka karena telah meluangkan waktu dan uang untuk pergi mendukung Indonesia.

Tadinya saya pikir kebanyakan anak muda akan dengan mudahnya menyalahkan atlet atas kekalahan yang terjadi di pertandingan. Tapi, mereka berdua membuat saya tenang karena banyak juga anak muda yang mendukung atlet Indonesia setelah kekalahan mereka, bukan malah menyudutkan. Shelly masih mengidolakan Jonatan. Rico mengakui Indonesia bermain bagus.

Saya bukan atlet, bukan juga pengurus persatuan bulutangkis di wilayah manapun. Saya tidak jago bermain bulutangkis, tidak juga hafal semua nama atlet dunia ataupun Indonesia.

Saya mencintai bulutangkis untuk alasan yang tidak relevan sama sekali dengan olahraga. Bulutangkis membawa saya mengenang keluarga saya, abang-abang saya, teman-teman baik semasa menjadi jurnalis dulu, teman-teman pecinta bulutangkis, dan ayah saya yang menjadi kawan nonton terbaik saya saat musim pertandingan bulutangkis disiarkan di televisi. Karena itu, saat melihat dan bertemu dengan orang lain yang juga mencintai bulutangkis, saya seperti mendapatkan kawan baru. Kawan yang sama-sama dengan polosnya menyukai bulutangkis dan mendukung para atlet, tanpa perlu banyak berkomentar, mengkritik, atau memberikan usul. Kawan yang mencintai bulutangkis, tanpa perlu banyak berkata-kata. Cukup terus mendukung, tanpa mempedulikan apa kata mereka.


Hidup Indonesia!

Hidup Atlet Indonesia!



Baca salah satu ulasan pertandingan finalnya tahun lalu : Link

Belajar Belajar


“Baru kali ini gue belajar, di luar jam kampus”

Begitu ucapan salah satu teman saya di suatu siang yang cerah. Di situasi ideal, kalimat ini tentunya aneh diucapkan oleh seorang mahasiswa atau murid atau siswa. Tugas utama pelajar ya belajar. Kenapa harus aneh ketika belajar?

Hal ini sebenarnya juga saya rasakan di awal kedatangan saya ke Guangzhou. Kegiatan harian saya tidak banyak.

8 pagi – bangun
9 pagi – sekolah
12 siang – makan siang
12 siang – 6 sore – menunggu teman pulang
6 sore – makan malam
7- 12 malam – menunggu jam tidur
12 malam – tidur

Jadwal “menunggu” merupakan kegiatan paling banyak dan sering membuat bingung.

Berhubung saya tidak terbiasa tidur siang, kegiatan ini tentu tidak menjadi pilihan saya untuk menghabiskan waktu menunggu. Di awal kedatangan, jadwal ini sering saya habiskan dengan menonton film yang telah saya simpan di laptop saya. Persediaan yang saya lakukan sejak berada di Indonesia ini agaknya berguna. Setiap saya kehabisan ide untuk berbuat apa, film ini lah yang menjadi tempat pelarian saya.

Selain film, saya juga membawa satu buah buku dari Indonesia, yang saya perkirakan akan saya perlukan setibanya di Guangzhou. Kehadiran buku ini nyatanya juga sangat berguna. Sayang, hanya satu buku An Abundance of Katherine’s yang saya bawa. Karena itu, setelah satu-satunya buku John Green itu habis, saya perlu merogoh uang sekitar 400 ribu setiap bulannya untuk membeli buku di Cina. Tantangan membaca ini belum termasuk kesulitan mencari buku berbahasa Inggris di negara Cina. Bahkan toko buku terbesar di kota tempat saya tinggal pun tidak menyediakan banyak buku berbahasa Inggris. Sebagian besar buku telah diterjemahkan ke huruf Mandarin. Bukan pilihan tepat untuk saya yang baru belajar bahasa ini kurang dari 2 bulan.

Jika buku dan film gagal menolong saya, senjata berikutnya adalah berbincang singkat dengan kawan di Indonesia. Namun, kegiatan ini tentunya tidak menjadi pilihan utama mengingat kesibukan teman-teman saya. Belum lagi, seringkali saya tidak punya topik penting untuk dibicarakan, selain “bosen” atau “biasa, lagi nganggur” atau kalimat-kalimat sejenis.


Satu bulan berkutat dengan hal ini, pada satu hari, saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan baru. Sebenarnya pencerahan ini terjadi ketika saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan beberapa teman saya selama beberapa hari berturut-turut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berkutat dengan ide membunuh waktu, saya berkhayal.

Seandainya saya punya time deposit box, semua ini akan jadi sangat mudah.

Saya tinggal mengumpulkan semua waktu kosong yang saya miliki di sini, untuk dimasukkan ke dalam kotak tersebut.

Sebut saja , saya punya waktu 5 bulan di Cina, atau setara 150 hari.

150 hari x 11 jam ‘menunggu’ = 1.650 jam, atau setara 68 hari .

Artinya, saya punya deposit 68 hari tanpa kegiatan alias LIBUR, yang bisa saya gunakan kapanpun saya inginkan. Indahnya dunia!

Penyimpan waktu ini akan menjadi penyelamat saya ketika saya sudah kembali ke dunia kerja.. Kapanpun saya kekurangan waktu kosong, saya tinggal mengambil jatah waktu libur dari kotak tersebut, dan Hula, liburlah saya!

Khayalan ini memang tidak mungkin menjadi nyata. Tapi, kemunculannya mendatangkan perasaan baru untuk saya. Dari sudut pandang berbeda, saya mulai meyakini bahwa jatah 68 hari libur itu harus saya gunakan dengan baik selama saya berada di sini. Salah satunya dengan, belajar.

Banyak yang mengira bahwa mereka yang keturunan Tionghoa sudah otomatis fasih berbahasa Mandarin. Padahal, tidak demikian adanya. Banyak orang Tionghoa perlu belajar keras untuk berbahasa Mandarin. Sama halnya dengan warga asli Surabaya yang perlu berlatih bertahun-tahun untuk berbahasa Paris, atau warga Melayu asli yang harus disiplin untuk berbahasa Belanda dengan lancar.

Bahasa Mandarin yang dipelajari secara internasional, umumnya terbagi menjadi 3 bagian, yakni : mendengar , berbicara, dan menulis. Layaknya latihan berbahasa pada umumnya, kemampuan mendengar dan berbicara bisa ditingkatkan dengan cepat lewat praktek yang rutin. Ketika berkesempatan untuk menetap di Cina dan berinteraksi dengan penduduk lokal, kedua kegiatan ini menjadi hal yang lumrah dilakukan sehari-hari. Kemampuan keduanya pun bisa meningkat dengan cepat. Namun, perlakuan berbeda diperlukan untuk bagian menulis.

Bagi saya, menulis huruf Mandarin adalah tugas paling susah. Huruf Kanji Mandarin (seperti halnya Jepang, Korea, atau huruf selain alphabet) punya aturan yang cukup menulis. Jumlah goresan, panjang garis, urutan menulis, punya aturan baku yang harus diikuti. Meleset sedikit saja, cara baca dan arti huruf akan berbeda total.

IMG_2501Umumnya, saya harus menghafal sekitar 40 huruf baru untuk satu bab pelajaran, yang dipelajari dalam waktu 3 hari. Di hari keempat, guru akan melakukan tes mendikte untuk mengetas kemampuan kita mengingat huruf-huruf tersebut. Nilai saya untuk ujian ini boleh dibilang cukup. Hanya saja, masalahnya, setelah mempelajari 40 huruf baru di bab ke-2, saya sudah lupa dengan 40 huruf lama yang saya pelajari di bab pertama. Hal demikian terus berulang.

Kembali pada khayalan time deposit box, saya pun menanamkan niat untuk memanfaatkan 68 hari libur saya untuk belajar dengan giat, khususnya dalam rangka mengingat huruf-huruf ini. Setiap hari, saya luangkan waktu setengah hingga satu jam untuk mengulang dua bab pelajaran yang telah dipelajari pertama kali. Saya bukan pelajar teladan yang bisa menatap buku selama 1 jam penuh tanpa distraksi apapun.

Dalam 1 jam jatah belajar, saya menghabiskan kurang lebih 20 menit untuk mengecek telepon genggam saya, dan 5 menit untuk duduk bengong, atau menengadah ke luar jendela untuk menikmati angin sepoi dan kicauan burung, dan 5 menit untuk merebahkan kepala di meja belajar saya karena mengantuk. Dengan kata lain, waktu penuh untuk belajar hanya berkisar di antara 30 menit. Apakah cara belajar ini efektif? Tentu tidak!

Semasa belajar Mandarin di tanah air, karena harus menjalani kursus sembari bekerja, saya hampir tidak pernah belajar untuk ujian dikte. Kalaupun ada, tidak lebih dari 1 jam. Itupun dilakukan sebelum tidur, di atas kasur, satu malam sebelum tes digelar. Hasilnya, 15 menit belajar, lalu tertidur.

Namun, berbeda halnya dengan saat ini dimana saya merasa cukup menikmati proses belajar dengan berbagai selingan tersebut. Palnig tidak, saya tidak merasa terpaksa untuk membuat ratusan goresan dalam rangka melekatkan ratusan huruf Mandarin di otak saya. Lambat laun, saya pun mulai menikmati aktivitas menulis huruf Mandarin. Tidak hanya sekedar menulis, saya mulai menikmati kegiatan ini sebagai bagian dari berkesenian. Menulis huruf Mandarin ibarat melukis. Membuat goresan menjadi garis lurus, miring, garis panjang, pendek, titik, hingga lahirlah sebuah karakter dengan sejuta makna. Sungguh sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.

Sejak hari itu dan seterusnya, saya mulai menikmati kegiatan belajar. 68 hari libur yang saya miliki akan berakhir masa gunanya beberapa bulan lagi. Bonus ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya, sebelum terbuang sia-sia.


Time deposit box ternyata saya bukan sekedar khayalan karena ia telah muncul dalam wujud yang lebih nyata, yaitu kesadaran dalam memanfaatkan waktu menjadi kesempatan berharga yang terlalu sayang untuk dihabiskan dengan berteriak “bosan” atau “biasa lagi nganggur…”.


P1080239Everything is so finite. But don’t you think that’s what makes our times and specific moments so important? – Jessee, Before Sunrise, 1994


Guangzhou, 20 April 2015

Guangzhou, yang Terlalu Singkat

Sekarang Guangzhou lagi panas-panasnya. Cuaca berkisar antara 33-35 derajat celcius (Jakarta sekitar 31-32 derajat). Untuk orang Indonesia kayak kita begini, panasnya Guangzhou sebenarnya nggak seberapa. Cuma yang bikin kurang asyik, panas di sini tidak berangin. Berhubung setiap hari di sini kita pasti jalan kaki, panas matahari ditambah hawa panas tanpa angin lumayan bikin sewot.

Empat bulan lalu, tepatnya bulan Maret, cuaca Guangzhou sungguh berbeda. Suhu waktu itu sekitar 8-10 derajat. Lagi-lagi, untuk orang Indonesia kayak kita begini, menetap di negara dengan iklim begini cukup bikin syok. Di kamar kedinginan, di luar apalagi. Bangun tidur, ke kampus, ke rumah makan, pulang lagi ke asrama, selalu kedinginan. Sempat satu waktu, saya berpikir “Duh kapan bisa keringetan kalau begini terus?”. Ajaibnya, pikiran ini datang waktu saya lagi main bulutangkis bareng teman-teman Indonesia, yang mana saya udah main lebih dari satu jam dan belum juga keringetan.

Terlalu banyak cerita dalam empat bulan ini yang ingin saya simpan di sini. Saking banyaknya, bingung harus mulai dari mana. Yang jelas, terkait dengan kegiatan menulis, cuma sesekali saya bisa bercerita di sini karena situs wordpress yang tidak bisa diakses dengan bebas. Alhasil, saya sering ketak-ketik aja di Word atau notes di handphone, dan tersimpan rapi aja di sana.

Tapi, berhubung kemarin, 29 Juni, adalah hari kelulusan yang menandakan proses sekolah saya resmi berakhir, kayaknya saya kudu bercerita di sini. Mumpung momen dan memorinya masih sangat melekat di ingatan!

Teman Indonesia

Di sini, saya ketemu lagi dengan puluhan teman baru dari Indonesia. Sebagian datang bareng saya bulan Maret lalu, sebagian lagi sudah di sini dari tahun lalu. Usianya macem-macem. Tapi sebagian besar baru lulus kuliah. Yang seumuran, cuma 1 orang (ia bahkan setahun lebih muda!).

Layaknya pertemanan pada umumnya, apalagi dengan teman baru, ada aja konflik-konflik yang terjadi. Konflik kecil aja sih, nggak ada yang sampe musuh-musuhan apalagi baku hantam. Karena itu juga, kalau dikenang-kenang lagi, kayaknya bakal tetap jadi memori yang lucu.

Masing-masing dari kita punya jadwal kelas yang beda. Jadi, ketika sekolah sudah efektif berjalan, kita jarang ngumpul lagi. Apalagi ada yang juga sudah akrab dengan teman kelas masing-masing. Paling kalau berpapasan di pelataran asrama, ada yang ngobrol. Atau yang kamarnya sebelahan, bisa ngobrol sampai jam 2 pagi. Kalau papasan di kampus, ya ngajak makan bareng di kantin. Kalau nggak pas jamnya, ya makan sendiri-sendiri. Kalau lapar tengah malam, ya saling ngajakin ke McD. Oh iya, kalau udah musim ujian, semuanya juga giat belajar! Termasuk dua orang di bawah ini (yang kabarnya waktu kuliah dulu nggak pernah serajin di sini).

IMG_2379Beberapa hari lalu, kita semua ngumpul lagi untuk makan malam. Kalau empat bulan lalu kita kelimpungan pesen makanan karena nggak bisa baca menu, malam itu kita sudah cukup menguasai buku menu. Alhasil, makanan yang dipesan pun sudah tepat, nggak asal nunjuk lagi. Setelah itu, dilanjutkan dengan karaoke bersama sampai jam 4 pagi. Selera lagu pun macem-macem, ada yang lagu Mandarin, ada yang lagu Inggris, ada yang lagu tua, ada pula teman Cina yang nyanyi lagu Mandarin, ada juga yang nyanyi nggak berhenti-berhenti… Haha.

Ah I am so gonna miss all these guys!

Teman kelas

Salah satu keuntungan bersekolah di negara lain adalah kesempatan yang lebih besar untuk bertemu dan berinteraksi dengan teman dari negara lain. Dari asal negaranya, yang mendominasi di kelas saya adalah murid Indonesia dan Korea. Menyusul di posisi berikutnya : Thailand, Rusia, Inggris, Amerika, Jepang, Perancis, Madagaskar,


Ulang tahun teman kelas.

Latar belakang pendidikan juga beragam. Ada yang baru lulus SMA, ada yang baru lulus kuliah, ada yang ikut program pertukaran pelajara, ada yang sudah kerja, ada yang sambil kerja, ada juga yang sambil mengisi waktu sebagai ibu rumah tangga. Dengan keanekaragaman ini, banyak banget cerita yang bisa ditukar kalau kita lagi ngobrol. Berhubung kita ada di kelas Mandarin, kami pun sudah sadar untuk lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, bukan Inggris. Yang bikin seneng, pernah sepersekian detik saya membatin sambil tersenyum karena nggak pernah menyangka juga kalau suatu hari saya bisa ngobrol sampe ketawa-ketawa, dalam bahasa Mandarin. =)

Satu atau dua bulan pertama, kita cuma ketemu di kelas. Tapi 2 bulan terakhir, kita mulai sering ngumpul bareng. Pertama, makan-makan karena ada satu teman Korea yang berhenti sekolah karena sudah diterima kerja. Kemudian menyusul makan-makan lain dengan agenda : ulang tahun, perayaan selesai ujian, atau makan-makan karena pengen makan bareng aja. Satu bulan terakhir, hampir setiap minggu kita makan bareng. Kali ini untuk cobain makanan dari tiap-tiap negara di tempat kita. Karena cukup beragam, kita cuma sempet makan di restoran Korea, Jepang, Thailand, dan tentunya Indonesia. Apa menu favorit restoran Indonesia? Nasi goreng, mie goreng, tahu telor!



Oh yah, saya belum mengenalkan program studi yang saya ambil. Sejak bulan Maret, saya ambil program School of Chinese as a Second Language di Sun Yat Sen University. Pilihan ini saya ambil atas rekomendasi kenalan saya yang juga warga lokal. Menurut yang bersangkutan, kampus ini adalah salah satu yang terbaik di Cina. Waktu itu, berhubung saya tidak punya bayangan sama sekali tentang sekolah di negara ini, saya percaya saja. Dan, sampai hari terakhir kemarin di acara perpisahan, saya sungguh tidak menyesal bisa bersekolah di sini. Kenapa?

Menurut saya pribadi, kualitas mengajar guru di sini sangat oke. Untuk tiga pelajaran; reading, speaking, listening, kami mendapatkan 4 guru, dengan formasi 1 wali kelas dan 3 guru. Pelajaran reading yang paling utama, diajarkan oleh 2 orang guru. Sepertinya saya pernah cerita, kalau dulu saya sungguh tidak tertarik untuk belajar Mandarin. Tapi, dalam 4 bulan ini, saya mulai bisa mengerti kenapa orang suka belajar Mandarin, karena saya juga mulai berada di posisi yang sama. Sebagian besar perubahan ini, terjadi karena guru saya.

Mereka punya cara mengajar yang sangat menarik. Tidak ada guru yang pernah telat barang satu menit pun. Latihan yang diberikan juga bervariasi. Kalau murid-murid tampak lelah dan mengantuk, mereka juga nggak segan nawarin kita main games, tapi tentunya setelah materi pelajaran sudah diberikan. Di penghujung pelajaran, guru selalu mengatakan kalimat yang kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris “Thanks class for your hardwork”. Dan tiap dengar ini, saya jadi adem. Seneng aja rasanya diberikan apresiasi seperti ini, walaupun dalam sepenggal kalimat aja.

IMG_4139Baris paling bawah (kecuali cowok, adalah guru-guru kece yang saya maksudkan).

IMG_4309Cenderamata bikinan sendiri oleh salah satu guru. Buat perpisahan, katanya. =’)


Yang pernah baca beberapa tulisan sebelumnya mungkin sudah bosan melihat saya sering memuji taman dan fasilitas umum di sini. Selain teman-teman, hal lain yang bikin betah di sini adalah lingkungan kampus. Makanya saya sering sempet-sempetin waktu untuk lari pagi/malam, atau jalan-jalan aja untuk foto-foto. Areal kampus juga gede banget, timur, barat, utara, selatan. Ujung ke ujung (yang tentu saja petanya tidak mam saya ingat).

Jadi, nggak heran juga kalau kampus ini jadi salah satu kampus dengan lingkungan dan pemandangan terbaik, seantero Cina. Makanya, tiap weekend (atau bahkan tiap hari), banyak orang luar yang ke kampus untuk sekedar foto-foto.

Dengan ini, tuntas sudah perjalanan saya di negeri tirai bambu. Pepatah “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, kesenangan almarhum Papa melihat saya bisa berhasa Mandarin, pun sudah saya genapkan. Satu semester yang menyusut jadi 4 bulan memang terlalu singkat. Tapi, ya begitulah perjalanan. Selalu ada awal dan akhir, seperti halnya perjalanan di Cina.

Yang jelas, saya nggak tau akan butuh berapa lama untuk nggak kangen dengan kota ini sepulangnya saya ke Indonesia. Karena empat bulan ini meninggalkan terlalu banyak cerita.

Mudah-mudahan, nggak terlalu lama!

IMG_4654Sampai jumpa, Guangzhou!

It’s Time

Some people said hope is the last thing you should do,
Since (most of the time) it works against you.

Yet this time,
I love how hope has brought me here.

IMG_4481Guangzhou, Summer June 2015