Menghargai Perbedaan, Sudah?

Dari dulu, sikap ini didengung-dengungkan ke kita yang tinggal di Indonesia. Pesannya, ini wajib diamalkan dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Tapi, udah dijalanin belum? Sejauh mana sudah kita jalankan, 20 tahun setelah kalimat ini pertama kali kita dengar? Iya, kalau kita seumuran. 

Waktu SD, guru PPKN saya yang mengenalkan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, “berbeda-beda tapi tetap satu juga”. Ribuan suku bangsa Indonesia hanya bisa bersatu dengan filsafat ini, kata beliau.

Memasuki tingkat SMP dan SMA, kita mulai didorong untuk mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika. Pergaulan semakin luas. Bentuk manusia yang ditemui semakin beragam. Bhinneka Tunggal Ika sangat penting, sebab ia adalah landasan agar bangsa yang terdiri dari ribuan suku ini, dapat tetap kokoh dan kuat. Demikian kata Pak Guru, dan ahli-ahli di televisi.

Di masa kuliah dan bekerja, kepiawaian menghargai perbedaan diuji ke ranah yang lebih luas. Senior harus menghormati junior yang beda, bawahan harus menghormati atasan yang beda. Intinya, semua orang punya hak dan kewajiban yang wajib dihargai dan dikerjakan, apapun kemasannya. Memasuki level ini, bagi beberapa dari mereka yang betul-betul menjalankan, “Ika” menjelma menjadi “Cinta” (mencintai yang berbeda?).

Untuk orang kayak saya yang lahir, tumbuh dan besar di lingkungan yang banyak orang sebut sebagai kaum ‘minoritas’ (yang mana nggak saya sukai sebutannya), sikap bersatu dalam perbedaan masih jadi sesuatu yang (kadang) mengganjal. Merasa bahwa orang yang berbeda secara warna kulit, rambut, bahasa, adalah sama dengan kami, bukan hal yang mudah dilaksanakan. Entah itu karena cerita masa lalu yang dialami sendiri oleh mereka yang lebih tua, atau mungkin dari ajaran yang didengar dari orang-orang dekat sedari kecil, ada saja hal yang membuat rasa satu dalam kebhinneka-an, susah dijalankan.

Untuk orang kayak saya yang entah gimana ceritanya dari kecil malah justru sangat sering nyemplung dengan orang beda ras, suku, dan agama, saya sering menghadapi keadaan penuh dilema. Perbedaan yang saya rasa tidak perlu dipermasalahkan, kemudian dimasalahkan. Kesamaan yang bisa saja melahirkan perbedaan, kemudian dikatakan “yang penting sama”. Siapa yang benar? Abu-abu.

Lingkungan terkecil saya punya hubungan hitam putih dengan kebhinneka-an. Putih karena banyak dari bagian kami yang menyatu dalam perbedaan. Hitam karena sebagian lainnya juga menolak perbedaan, bahkan mereka yang sebenarnya juga telah menyatu dalam perbedaan.

Ingin rasanya mengubah, tapi tidak mudah.

Akhirnya, saya memilih untuk mencoba memahami.

Beberapa bulan ini, tinggal di kota baru yang punya tradisi dan budaya sangat berat pada salah satu kepercayaan di tanah air, membuat saya sedikit memahami keengganan dari mereka yang “sama” dengan saya, terhadap janji Bhinneka Tunggal Ika yang ditanamkan guru SD saya. Keinginan untuk menjadi “satu” sering terusik karena kenyataan kurang menyenangkan, yang membuat pikiran dan hati kembali merasa “Mereka memang beda. Kita memang beda“.

Lagi-lagi, ingin rasanya mengubah dan membuat perubahan. Dari mana? Saya belum tahu. Kalau kamu ada ide, saya ingin ikut serta mewujudkan mimpi ini.

Yang jelas, sepertinya kunci untuk bisa menjalankan Bhinneka Tunggal Ika dengan seutuhnya adalah dengan merasa bahwa saya adalah satu dengan bangsa ini. Bukan minoritas, bukan mayoritas. Gampang? Enggak. Susah.

Dalam satu bincang sore dengan kawan, ia bergumam “How beautiful this world must be, if all just respect each other”. Ungkapan yang terucap saat harapan kami mulai redup membahas apakah perubahan akan terjadi.

Kalaupun mimpi itu belum bisa saya wujudkan, mudah-mudahan mereka yang umurnya 20-30 tahun lebih muda dari saya, kelak bisa hidup dengan lega dari pagi menjelang ganti hari, karena lapisan perbedaan semakin menipis, konflik karena perbedaan semakin berkurang, dan menjadi berbeda itu tidak apa-apa.

Berita disampaikan sebagai berita. Orang jahat disiarkan sebagai orang dengan perilaku jahat. Bukan karena bentuk rambut, warna kulit, gaya berpakaian, pilihan orientasi seksual, dan lain-lain. Demikian juga kabar baik tentang orang baik.

Sebab urusan benar dan salah, tidak ada urusannya dengan “kamu kaum apa?”.

Perjalanan ke Nusa Penida

Sebelum ke Nusa Penida, saya nggak survey sama sekali tentang lokasi Penida. Apa aja yang ada di sana, gimana perjalanannya, naik apa ke sana, semua info tentang Nusa Penida, saya nggak punya. :D. Jadi, untuk kalian yang juga kayak saya, mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit berguna.


Tadinya saya mikir Nusa Penida itu ya kayak Gili aja. Nyampe-nyampe, langsung pantai. Kesana kemari, tinggal jalan kaki. Nggak kebayang sama sekali kalau setiap pantai di Nusa Penida harus dijangkau setelah naik turun jalanan di gunung. Jadi, keseruan pun bermula dari sini. Haha.

Keberangkatan saya kali ini bersama genk dari trip Bali. Keke dan Indah. Setibanya di pelabuhan Nusa Penida, kami dijemput oleh Bli Wayan, tim dari @wonderful_nusapenida. Begitu tiba di mobil, masnya langsung menyebutkan beberapa lokasi yang akan kami datangi. Di antaranya:

  • Crystal Beach
  • Angel Billabong
  • Kelingking Beach
  • Broken Beach

Ya udah. Kita he-eh he-eh aja. Masuk mobil, duduk, jalan.

Dan, dimulailah perjalanan ke luar pelabuhan yang ternyata menempuh jalanan-jalanan di gunung (mengingatkan saya pada track bus menuju Sarawak dari Pontianak). Serunya, naik turunnya jalanan nggak berhenti-berhenti dari setiap lokasi. Lebih dari satu jam perjalanan kami tempuh dengan naik turun gunung ke lokasi pertama. 90% jalanan udah mulus. Sisanya, masih bebatuan.

Lokasi pertama, aman.

Cyrstal Beach

Dari Crystal Beach, kami melanjutkan perjalanan ke Angel Billabong. Di sini, kehebohan dimulai. Perut saya memberontak waktu kami melanjutkan perjalanan naik gunung. Dengan kondisi perut kosong, saya pun tak berdaya. Confirm deh saya mabok. Haha! Keke yang duduk di belakang pun sigap memijat2 saya. Minyak kayu putih, kantong plastik pun jadi penyelamat. Duh Pin! Haha.

Setibanya di Angel Billabong, saya bilang ke mas Wayan: “Mas, kalau sampai pantainya ini ndak bagus…. hmmm”. 

Dan rupanyaaa!

Bagus banget pemirsa Angel Billabong ini. Dengan lansekap berkonsep jurang, kami harus berjalan beberapa puluh meter ke bawah. Di bawah, ketemulah kami dengan “kolam” di antara dua bebatuan tinggi, yang bersebelahan langsung dengan pantai. Kalau di hotel ada yang namanya infinity pool, wah kalau ini, infinity sea kali ya. Cakep banget!

Saya pun ndak kuasa ndak turun. Tadinya malu-malu mau berenang, karena ndak bisa berenang. Tapi karena udah nggak tahan, akhirnya turun juga berenang bareng Indah. Foto duduk di kiri bawah adalah wajah setelah berendam! TER-bahagia!

Berikutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Kelingking Beach untuk ngejar sunset. Sebagai warga Indonesia yang nggak sering-sering amat jalan-jalan, menurut gue Penida ini cakep banget. Si Kelingking Beach ini juga. Kalau kuat, bisa turun ke bawah pantai. Keke sempat mencoba turun (fotonya di bawah). Tapi apa daya, karena perlengkapan yang kurang mumpuni (yang hanya pakai sendal jepit), Keke nggak sempat turun sampai bawah. Saya dan Indah sih mejeng aja di atas. Ujung2nya, semua liat dari atas aja sambil foto2. Liat juga dong aksi masnya fotoin kita sambil manjat-manjat pohon. :D.

Sunset di Kelingking Beach.

Hari kedua berjalan pendek. Soalnya kami ngambil boat jam 1 siang untuk balik ke Sanur.

  • Rumah Pohon Molenteng
  • Atuh Cliff

Lokasi utama yang didatangin adalah Rumah Pohon Molenteng. Sama seperti hari pertama, medannya naik turun dan memabukkan (saya). Setibanya di lokasi, siap-siap juga kudu naik turun tangga sekitar 1,5 km untuk tiba di titik rumah pohon.

Tapi, keindahan pemandangan dari rumah pohon meluluhkan segalanya. Saking bagusnya, ada aja nih pengunjung yang niat jalan sampai ke tepi di luar batas yang ditentukan sudah dilarang demi berfoto. Jangan ditiru.

Selain foto di Rumah Pohon, ada juga spot foto di bawah dua batu berbentuk segitiga yang bisa dijadikan tempat foto.

Intermezo, yang pertama itu foto villa yang kami tinggali. Namanya Amari Villa. Lokasinya agak jauh dari pusat kota, sekitar 50 menit. Tapi, bagus dan indah pemandangannya (selalu). Kalau duduk di dekat kolam pagi-pagi, yang kedengeran cuma suara burung, angin, pemandangan sawah, dan sayup-sayup suara pompa air.

Dengan berakhirnya foto di Rumah Pohon dan Atuh Cliff, berakhir pula perjalanan kami di Nusa Penida.

Kesimpulan:

Untuk kamu yang mampir ke Bali dan ingin melipir ke daerah sekitarnya, Nusa Penida ini sangat bisa jadi tempat tujuan. Kalau pergi, bisa siapkan beberapa hal ini:

  • Harga masuk toilet = 5 ribu / orang. Jadi, kalau mampir warung, sebisa mungkin numpang toilet aja biar nggak perlu bayar.
  • Mengingat medannya yang masih pegunungan dan banyak naik turun tangga, usahakan pakai sepatu. Sendal jepitnya ditenteng aja kalau udah nyampe pantai. Kalau pakai sendal jepit kayak kami kemarin, mobilisasi tubuh agak terbatas.
  • Kalau suka berenang, sekalian pakai baju renang biar nggak susah gonta ganti baju.
  • Demi keamanan bersama, baiknya sewa mobil + supir dari orang lokal aja. Kalau naik motor, duh, curam jalanannya.
  • Untuk trip 2 hari, 1 malam kemarin, kami ambil paket tur dari Wonderful Nusa Penida, yang udah include: boat Sanur – Nusa Penida – Sanur, driver + mobil, 1 x lunch, villa 1 malam + breakfast 3 orang (cakep dan bersih vilanya), plus tiket masuk semua spot yang didatangin. Kami bertiga puas banget sih, termasuk dengan Mas Wayan yang sangat kooperatif dan “menyatu” dengan candaan kami. Haha. Kamu kunjungin aja ya Instagramnya. 
  • Stock makanan / antimo,  kantong plastik, kalau yang daya tubuhnya lemah kek saya. Salonpas, minyak angin, dan kawan-kawannya juga boleh disiapkan. Haha. Tapi yang kali ini, kemabukan saya sangat terbayarkan kok dengan pemandangannya yang super indah!

Until next time Nusa Penida! 

Referensi Nusa Penida lainnya yang bisa kamu baca:

Ubud, Nusa Penida, Seminyak dan Sekitarnya

Selamat datang di trip pertama pasca berakhirnya pekerjaan terakhir.

Begitu duduk di pesawat untuk penerbangan ke Bali tanggal 29 Oktober pagi, yang terpikirkan hanya: “Wohoo! This is my first time traveling with no laptop for the past 3 years!” 

Menyambung kenikmatan ini, saya juga bisa menghabiskan liburan tanpa kebingungan mengecek email tiap pagi, apalagi kerja di hari Sabtu dan Minggu pagi.

S U R G A! 

Untuk mendokumentasikan perjalanan kami, kayaknya media paling bagus di blog aja. Sebab, postingan di Instagram kudu milah milih dan crop sana sini. Maksimal foto per pos pun cuma 10 foto, dengan ukuran yang kudu serupa dalam satu postingan. Dengan jumlah total foto di HP saya sejumlah 500++, sungguh ini kegiatan yang cukup… peer.

Belum lagi ngedit warna. Mengingat saya kurang telaten memilih dan mengedit, foto-foto di sini pun disajikan tanpa atau dengan editan sekenanya. (Ada nggak sih platform untuk bulky edit foto dengan satu settingan warna / auto color gitu? Mau rekomendasinya dong kalau ada. Haha)

Ok. Biar seru (plus nggak perlu nulis terlalu banyak – haha), saya rangkum tiap tempat dalam tiga kata yang menggambarkan perjalanan kami. Kayaknya ada lokasi yang ingin saya tulis terpisah sih, yakni Nusa Penida. Tapi untuk sementara, demikian dulu gambar-gambarnya!

Semua perjalanan ini dilakukan selama 7 hari 6 malam. Cukup banget untuk liburan lega dan tenang…

Ubud

Firefly Eco Lodge

  • Menantang
  • Nyamuk
  • Sawah

Hubud Coworking Space

  • Tenang
  • Kerja
  • Zen

Nusa Penida

  • BAGUS banget!
  • Mabok
  • Manjat

Seminyak dan sekitarnya 

  • Mantai
  • Ngumpul
  • Pesta

Minggu Tenang

Hasil akhir kepada Bapak Ahok tiba-tiba membawa kesedihan kepada banyak orang. Bahkan, Ibu saya yang tidak pernah mengikuti berita tiba-tiba bilang bahwa dia menangis setelah mengetahui apa yang terjadi pada Ahok. Padahal, kalau dipikir-pikir, sedekat apa kita dengan Bapak? Kerabat? Teman sekolah? Teman main?

Tapi, ialah Ahok. Sosok yang berhasil membuat banyak masyarakat menyukai, mencintai, mengagumi, hingga membenci, untuk alasan yang tidak cukup kuat untuk membuat kita ‘baper’. sedemikian jauh.

Emosi saya campur aduk semenjak Pilkada. Mulai dari semangat berapi-api untuk menonton debat 1, 2, hingga setengah berhasrat menonton debat terakhir. Dari rasa takut karena melihat tank dan puluhan pasukan berseragam hijau tiba-tiba siaga di dekat tempat tinggal saya saat terjadi demo 121, 212, 313, sampai ilfeel dengan isu demo 414 dan seterusnya yang semakin tidak jelas tujuannya. Dari deg-degan melihat 1, 2, 3, hingga kaget kerena tiba-tiba sudah sidang ke-19, lalu terdiam di sidang terakhir.

Namun, dari semua kejadian itu, ada satu yang selalu terjadi.

Bapak Ahok selalu ada. Dengan konsisten, Bapak tetap berkampanye selama masa pemilihan. Di luar waktu kampanye, Bapak tetap melakukan tugasnya sebagai Gubernur; menemui warga yang mengantri di Balai Kota, memantau proyek yang sedang dilakukan Pemda, rapat, dan seterusnya. Di tengah ketakutan warga karena demo yang berkali-kali dengan isu dan hoax yang membanjiri, Bapak tetap bekerja. (Kalau saya jadi Bapak atau keluarganya, saya akan takut setengah mati dan memilih untuk diam di rumah).  Di tengah kesibukannya untuk melayani warga, Bapak tetap mengikuti sidang berjam-jam, tanpa absen satu kali pun.

Apakah Pak Ahok tidak pernah bete, pusing, capek, demam, atau darah tinggi saat menghadapi hari-hari di atas? Tentu saja iya. Tapi, lagi-lagi. Ialah Ahok. Sosok yang menunjukkan betapa dedikasi itu selalu harus konsisten dan maksimal, apalagi untuk apa yang kamu kerjakan atau diamanatkan kepadamu, dan untuk apa yang kamu rasa benar dan membawa manfaat untuk banyak orang.

Tidak perlu lagi saya rincikan apa perubahan baik yang telah Ia bawa untuk ibukota. Bahkan, super Uber yang tidak saya kenal pun dengan bangga menceritakan kebahagiannya atas perubahan di Jakarta, yang baru ia lihat setelah dari Medan berpuluh-puluh tahun lalu.

Alasan ini yang mungkin membuat kita baper berlebihan kepada Pak Ahok, dan mencapai puncaknya pada tanggal 9 Mei.

Emosi yang dirasakan hari itu sungguh berlebihan, apalagi setelah melihat satu demi satu berita mengalir di grup chat, berita online, atau televisi. Respon yang kemudian melahirkan aksi damai di Jakarta, hingga kota-kota lainnya. Seperti beberapa teman, saya juga sempat tidak ingin mengikuti berita seharian pada Selasa kemarin. Belum lagi, kalau foto yang ditampilkan adalah foto Bapak, atau Ibu Vero dengan baju putihnya dan anak sulung Pak Ahok, saat tiba di LP Cipinang.

Perut saya bahkan tidak enak saat kata “LP” nongol di sini.

Indonesia Bukan Ahok

Muncul salah satu tulisan ini kemarin di Facebook saya. Judul yang membuat saya muak seketika.

Masih ingat kalian dengan berbagai pesan moral yang diajarkan oleh orang tua, guru, atau paman kita baik di rumah atau di sekolah? Tentang bagaimana harus menghargai orang yang lebih tua, selalu bersikap jujur, saling hormat menghormati, lapang dada, tolong menolong, dan segala macam sifat baik yang harus diamalkan kita sebagai seorang manusia?

Oleh Bapak Ahok, sikap ini diamalkan. Untuk orang yang mengaguminya, moral itu ditularkan atau diniatkan untuk ditiru. Konsistensi Ahok terhadap tugas, tanggung jawab, hingga jadwal sidang, mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap demikian dimanapun juga, dalam kondisi seberat apapun juga. Meskipun tiba tepat waktu tidaklah mudah, tapi ingat, Ahok melakukan itu. Kita yang mengaguminya, wajib melakukan hal yang sama.

Keberanian Bapak Ahok untuk memperjuangkan apa yang ia rasa benar, jauh mengajarkan lebih banyak hal. Tak terhitung lagi betapa seringnya saya atau mungkin kamu ingin mundur, putus asa,  untuk alasan yang mungkin tidak sepantasnya membuat saya sedemikian jatuhnya. Masalah itu selalu ada selama kita hidup. Tapi, bagaimana kita melihat dan menghadapinya, itu yang paling penting. Pak Ahok menginspirasi saya untuk lebih berani.

Pengorbanan. Bagi saya, ini hal terbesar yang beliau lakukan. Pengorbanan untuk menahan diri, menjaga setiap perkataan, hingga menjadi sosok yang baru (bisa bayangkan gimana jadinya kalau kamu yang biasanya tidak bisa diam, tiba-tiba dipaksa untuk menjadi pendiam?). Untuk alasan yang lebih besar, beliau melakukan ini.

Belum lagi, pengorbanannya untuk keluarga agar dapat terus bekerja untuk kita semua. Kampanye pagi malam, membetulkan kebobrokan yang ada selama berbulan-bulan, dan masih banyak lagi. Untuk siapa hal itu dilakukan? Untuk saya, kamu, warga Jakarta, agar bisa tinggal dengan lebih happy, mudah, dan nyaman. Apakah Bapak Ahok tidak mengorbankan banyak waktunya dengan keluarga agar segala rencananya untuk ibu kota bisa terus berjalan? Belajar dari beliau, mungkin sudah waktunya kita memikirkan hal yang sama untuk sesuatu yang lebih besar.

Oh yah. Suatu hari saya diajak melintasi rumah Pak Ahok. Apa yang saya temukan? Bendera merah putih yang berdiri tegak di halaman rumah. Ingat kapan terakhir bendera berdiri di rumah kamu? Rumah saya pun baru sibuk memasang bendera, 2-3 hari sebelum 17 Agustus, setelah diingatkan oleh Pak RT. Itu pun berdiri kurang dari seminggu sebelum diturunkan kembali. Saya ingat betul, hari saya melintasi rumah Pak Ahok bahkan jauh dari bulan Agustus. Apa ada peraturan bahwa pejabat / PNS wajib memasang bendera di rumah mereka? 

Indonesia memang bukan Ahok. Atau sebaliknya. Namun, jika suatu hari kita semua bisa memiliki hati sebaik dan setulus Bapak Ahok, Indonesia bisa jadi tempat terbaik di dunia untuk siapapun. Sayangnya, melatih diri untuk memiliki hati baik dan tulus tidak semudah itu. Tapi, tak ada salahnya berusaha.

Minggu Tenang

Kebaperan saya dan teman-teman masih terus berlanjut hingga hari ini. Tapi, hari ini juga saya menemukan sudut berbeda yang bisa saya jadikan acuan supaya porsi kesedihan ini berkurang.

Atas semua yang dialami, mungkin peristiwa ini terjadi untuk memberikan Pak Ahok sedikit ruang untuk bernafas dari apa yang ia hadapi berbulan-bulan. Kita bisa boleh capek, sedih, marah, bingung, atas apa yang terjadi. Tapi, saya yakin apa yang kita rasakan tidak lebih dari 1/12 dari apa yang Pak Ahok rasakan. Jadi, cukupkan itu di sana. Pikirkan bahwa dengan segala kesulitannya, momentum ini bisa jadi waktu untuk Bapak agar bisa beristirahat sejenak.

Pak, semoga doa saya dan kami semua didengar oleh kekuatan alam semesta dan Tuhan yang kami yakini. Doa agar Bapak dan keluarga tetap sehat. Kami mungkin berduka karena tiba-tiba harus hidup ‘sendiri’ tanpa sosok Ayah yang selama ini telah menjadikan rumah kami lebih nyaman untuk ditinggali. Tapi, seperti yang Bapak sering katakan, kesedihan kami tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci maki siapapun, atau lembaga apapun, apalagi membenci bangsa ini. Seperti kata Bapak, kami harus tetap percaya bahwa perubahan baik akan terjadi. 

Pak, semoga ini minggu tenang bagi Bapak setelah serangkaian peristiwa yang terjadi. Semoga ini tidak berlangsung lama sehingga Bapak bisa kembali berkumpul dengan keluarga yang Bapak cintai. Semoga kekuatan manusia yang berusaha melakukan sesuatu untuk Bapak, juga bisa melengkapi kekuatan Tuhan yang dipanjatkan oleh sebegitu banyaknya orang untuk Bapak. Sehat selalu, Pak Ahok. 

**

Di satu sisi, saya bersyukur bisa menjadi bagian dari sejarah pergerakan bangsa ini. Hanya saja, semoga sejarah ini bisa ditutup dengan indah sehingga saya bisa meninggalkan cerita seoptimis perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang berakhir bahagia, kepada anak cucu saya. Semoga 10 atau 20 tahun ke depan, peristiwa ini sungguh menjadi sejarah. Bukan lagi bertahan menjadi sebuah peristiwa yang masih terjadi.

Satu lagi. Jika ini bagian dari konspirasi politik, semoga penguasa yang tak puas dengan kekuasaannya atau ingin melipatgandakannya menjadi 100 kali lipat bisa melakukan cara yang lebih pintar untuk mewujudkan keinginannya. Cara yang tak lagi mengorbankan orang, tapi cara yang lebih elegan, bermartabat, dan berkeTuhanan.

hope