Tak Disangka

Alkisah kadang hidup ini nggak ketebak. Seringkali nggak tertebak, tepatnya.

Kadang hal yang kamu pikir baik ternyata tidak berakhir baik. Begitu pula sebaliknya. Hal yang kamu pikir musibah, mungkin suatu hari menjadi berkah.

Apa yang terjadi satu bulan terakhir ini adalah salah satu momen “alkisah” itu terjadi.

Siapa sangka semua yang berawal baik kemudian berakhir sangat tidak baik.

Tapi, mengenang kembali kata-kata salah seorang teman:

Nggak usah dipikirin yang jeleknya. Ambil aja baik-baiknya untuk bekal langkah berikutnya.

Betul juga.

Seburuk-buruknya kejadian, pasti ada baik yang bisa dipetik. Tak gampang, tapi bisa.

Besarkan porsi yang baik itu supaya ia mengikis yang tak baik.

Sama kayak obat. Pahit tapi menyembuhkan.

Jadi, saya mau berenang dan nonton saja!

Fine morning

Sampai Jumpa Lagi

Bulan ini, saya merayakan banyak momen penting.

Satu, 3 tahun perjalanan saya dengan kantor sekarang.
Dua, saya merayakan ulang tahun pertama saya dengan kepala 3 akhir pekan ini.
Sehari setelahnya, saya akan menutup 3 tahun perjalanan saya di kantor ini.

Apa rasanya? Waw. Nano-nano, kalau kata penyiar radio. Manis, pedes, pahit, kalau dipikir malam-malam sebelum tidur, mules.

Tiga

Tiga tahun bertahan di kantor ini jadi rekor yang baik untuk saya. Saya masih inget banget ketidaktahuan yang dialami saat pertama bergabung. Kemudian, diberi tugas dadakan. Tak disangka, dengan serangkaian cerita naik turun, saya bisa menggenapi perjalanan saya hingga 3 tahun lamanya dengan beberapa pencapaian yang cukup menyenangkan.

Bagian ulang tahun masuk kepala tiga nggak gimana-gimana juga. Kalau ada yang berpikiran umur begitu harus sudah menikah karena a b c d, saya haturkan terima kasih atas pandangannya. Tapi, menikah itu soal waktu dan momentum. Kalau memang belum waktunya, tidak bisa dipaksa. Kalau sudah waktunya, tak usah kalian paksa pun jadi sendiri. Nikah mah gampang atuh. Lanjutinnya yang susah. Jadi, sekali lagi, untuk yang bilang bahwa kodratnya wanita adalah nikah atau di dapur, harap tonton pidato Meghan Markle tentang bagaimana seharusnya kamu berpikir tentang wanita. :).

Bagian akhir cerita di kantor ini setelah tiga tahun berjalan adalah jawaranya. Minggu lalu, saya berkumpul dengan teman-teman satu tim. Ada yang sudah setim bareng-bareng dari 3 tahun lalu, 2 tahun lalu, 1,5 tahun lalu, 1 tahun lalu, 3 bulan lalu, sampai 2 minggu lalu.

Dan, tentang inilah tulisan ini bermula…

Baik

Sebagai orang yang sangat peduli dengan kata orang, mendengar pendapat orang tentang apa yang mereka pikirkan tentang apa yang saya kerjakan selalu sangat berkesan. Baik yang buruk, maupun yang baik. Dan di malam-malam ngumpul kami, saya dibikin terbang dengan apa yang saya dengar dari mereka yang bekerja dengan saya.

“Kak Vinny seperti kakak, seperti ibu, baik, terbaik, sabar….” dan masih banyak lagi.

Selama acara dan usai acara, saya terus memikirkan apa yang teman-teman ini katakan. Yang indah-indah tentu bikin senang. Kalaupun ada pernyataan dibuat karena malam itu malamnya saya (jadi yang jelek-jeleknya nggak terungkap :D), saya tidak menyangka kalau apa yang saya lakukan sangat bisa diterima dengan baik. Apalagi bisa dianggap jadi teman dekat atau keluarga. Semakin dipikir, saya semakin sadar bahwa saya bisa seperti itu karena mereka semua. Kalau mereka nyebelin, nggak mungkin juga saya bisa tetap baik.

Kalian percaya teori “universe conspires“? Atau “3 teman terdekat kamu adalah kamu”? Entah benar entah tidak, tapi saya cukup percaya. Mungkin saya bukan teman terdekat mereka. Tapi frekuensi kerja yang panjang dari Senin sampai Jumat sebenarnya tanpa sadar membuat kami layaknya teman dekat.

Dari kedekatan yang tidak direncanakan ini, saya belajar menghadapi beragam tipe orang yang tak pernah saya jumpai sebelumnya. Apakah ada orang seperti mereka di luar kantor saya? TENTU. Jadi, kalau lain kali saya ketemu orang seperti mereka tempat baru saya, apakah saya bisa menghadapi mereka? YA IYA. Paling enggak, saya sudah punya referensi karena proses saya bekerja dengan mereka. Jadi, siapa yang harus berterima kasih? Saya.

Awal

Perjalanan itu soal belajar. Belajar memulai, belajar menjalani, belajar mengakhiri, belajar berpisah. Dari kalian, saya belajar itu semua. Bagian berpisah, akan terjadi seminggu lagi. Apakah saya sedih? Iya. Tapi, berpisah juga belajar. Saya harus belajar bahwa berpisah itu bukan akhir. Setelah berpisah, saya akan belajar memulai kembali.

Seperti saya yang akan belajar memulai kembali kehidupan baru tanpa kalian, belajar menjalani pekerjaan baru dengan orang-orang yang tidak seusia atau selucu dan segaul kalian, seperti itu juga kalian akan belajar untuk memulai hari tanpa ketemu saya di kantor dan menjalani pekerjaan kalian tanpa saya yang mengingatkan, atau saya yang baik pada kalian.

Terus jadikan besok lebih baik dari hari ini. Nanti kita jumpa lagi di hari lain dengan cerita perjalanan baru kita semua. Sekali lagi, terima kasih terbesar kepada kalian yang muncul di foto ini, kamu yang mendokumentasikan, dan sebagian dari kalian yang tidak bisa hadir. Sayang terbesar untuk kalian.

:’)

Farewell.jpeg

Bangkok – 109

Never had I thought that I will have one chapter in my life written in Bangkok starting last end of March 2018. 

At this very moment, I’m one of the 9,79 million population in Bangkok.  Glad to be here!

To start, people here are very nice and polite. Perhaps you ever witnessed unpleasant experience during your visit here. Me also. However, I have more nice than bad things here when it comes to meeting people, so here comes this post.

Once I went to a night market with my friend. It was a market where the tenant staff will stop by your desk to offer foods and drinks. I then ordered a bottle of beer. I didn’t have any penny left so I gave a money which was closed to the beer price. Let say it was 75 Baht and I gave the guy 100. When he got my money, he tried to say something in Thai, which of course I couldn’t understand. 5 minutes went by, he had not come back. Another 5 minutes, no clue. I forgot his face because it was quite dark. I told my friend, “I’m not sure he’s coming back with the return“.

10 minutes after, they guy came back with my return without taking not any penny.

Oh. I felt so guilty.

Wholehearted Workers

I have a strong sense that Thai people are very genuine when doing something, especially for the service-related. This thought comes a lot when I am in a public place and see how local people are interacting one to another. (This is also why I always love taking a public transportation in another country such as subway, train, bus, tuk tuk, boat, just any kind of vehicles. I love seeing and being around the local people because you could see many surprisingly nice things.)

Last week I took a bus for quite a distance. It was about 10 km from my place, Ekkamai, to Bangkok Chinatown area, Yaowarat Road. This must be weird, but I’m always awed with the bus helpers in Thai public transportation. They are the one who collects your money for the bus ticket. They have this special skills with the steel tube and cutter in the middle to cut the ticket or to fold the money. Some of them could do it very quick (I tried to find that steel tube in Google, but hasn’t found it yet). I feel like watching a show in a mini stage, called bus. 

Back to the the bus story.

It was around 6.30 pm. The bus helper was a mid 40s man wearing glasses and jacket. He was in a full uniform and still looked so tidy at that hour. And so did the driver.

This wasn’t the first time I saw the driver and his helper dressed up so formal in the public bus. Thai bus operates until 7.30 pm. The fact that perhaps driver and helper have worked for over 6-8 hours and keep the look clean impressed me in a way.

Despite from the governmental rule, for me, this show how people here appreciate their jobs and people they meet. High respect to the bus driver, bus helper, parking man, security, shop staffs, for doing his job very thoughtfully to everyone.

Also, if you happened to visit one of the biggest supermarket chain here named Big-C, you’ll find a middle age man or woman greet you on your way in or out while folding their hand in front of their chest, while saying Ka pun ka / khap. Don’t forget to reply them back in a smile.

Kindhearted People

One morning I saw a motorcycle taxi driver (or “ojek” in Bahasa) suddenly stepped down his motorbike during the red light to help a car that was about to turn to a forbidden roadway. Fortunately it was a huge morning traffic so I was able to see how this scene ends.Image result for bangkok motorbike driverSource: Bangkok Post

With still his helmed and vast on,  this driver guided the car slowly, while asking other cars and bikes from other sides to stop.  Once the car found his way, (I thought the motorbike driver would intend to stay closed by the driver side to ask for a money, but he didn’t at all), he stood in the opposite side of the driver so the car could just move right away. After that, he went back to his motorbike. Traffic light turned green, driver rode his bike away, street went back to normal. No crazy horn, no people shouted, no complains.

Again, I’m awed. And felt a second guilty for wrongly judging a personIMG_5347.jpg

This post is dedicated to mark my 109th days in Bangkok.

Because We Are So Tiny

After living in a very diverse place for a while, few things come clear to me recently…

  • Our world is super BIG and we’re just this tiny little micro piece that flies around the air.
  • Again, because our world is super BIG, you can’t say yourself as the one who know everything because those references you had in mind are smaller than the smallest dot you’ve seen. Thus, you’re just not that… knowing everything.
  • Bule isn’t always that cool.
  • And Asian isn’t always that clumsy. :).
  • Women equality is truly exist thus we (women) worth the same respect as what men get.
  • Some guys think that they are super handsome so they have this gigantic confidence to call every woman passes by.
  • Asia is one of the most favorite places in the world for those real travellers. I know you know why…
  • Walking alone, not talking to anyone, but just listening and seeing people, are such a precious moment when you are in a crowded place.
  • Many people around us are struggling so effing hard to survive. So, respect what you have and be respectful to others. Always.
  • Universe do conspire to what you have, who you meet, where you go, and really just every second you have in life. My most basic live rule applies well: be nice and you’ll get the nice one.
  • Ever feel like you have the worst life in this entire earth? Take a deep breath. Somehow, some people, or many people out there are feeling the same thing you do and good news is… they survive. And so will you.
  • Whenever you feel angry, bite yourself hard. Don’t scold or shout. Other’s life are messing up too. Solve yours. Give them space to solve theirs.
  • Time is precious. Live it right. So right.
  • You see people beside you listening to their headset, playing around their phone, reading a book? Then you’re wondering if they are happy? You know what. They are thinking a lot while doing what you’re seeing. They are just like you, like me. They have their own life they’re worried of, caring a lot and they’re doing way to escape that for a moment. Or yeah maybe you’re right. They’re just enjoying their Instagram feed, the new book somebody just gave them, or the Coldplay music.
  • So, don’t judge.

Have a great week ahead!

IMG_5140
Bangkok, 1 April 2018

19 Maret 2018

Starting a new path in life at the edge of 29 can be good and bad things. This depends on who you are and what goals you’d like to achieve in life.

29 sudah terlalu tua… 

I’m living in a society where people take 29 as a VERY mature age (alias tua bingits!). Lingkungan ini melihat dua sembilan bukan sebuah angka yang harus dilalui dengan penuh ‘hura-hura’ (baca: mengejar karir, menjalani hobi, mengambil kuliah S2, dan sejenisnya). Apa yang patut dilakukan mereka yang berusia demikian? Settling down, tapaki tahap “selesai” dengan urusan karir, lupakan segala yang bersifat untuk kesenangan semata dan fokuskan kehidupan pada… jodoh.

29-lah waktunya berbuat!

Di saat yang sama, saya juga berada di lingkungan yang dengan penuh keyakinan bahwa inilah waktu paling tepat untuk melakukan segalanya. Satu tahun sebelum 30. Satu tahun sebelum semuanya menjadi semakin serius dan berat. Satu tahun sebelum menapaki kepala tiga. Usia matang-matangnya seseorang dengan karir. Usia untuk menentukan mana jodoh yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilepas.

29 versi saya

Adalah: waktunya untuk memanfaatkan segala waktu, kesempatan, keinginan, semangat, dan tenaga dengan maksimal. Iyes, lebih baik detik-detik menuju 30 ini diukir dengan sesuatu yang akan bernilai untuk saya. Sekalipun babak belur sana sini, versi saya menyebut fase ini harus dijalani dengan sungguh sangat baik.

Atas nama itu, saya pun tiba-tiba udah nggak di Jakarta aja. Tadi sore dalam perjalanan pulang dari kantor, tiba-tiba saya dan teman berucap, “Eh udah di Bangkok aja nih kita!” 

Banyak ucapan doa, selamat, turut bahagia, hingga kaget, yang datang dari teman-teman sekitar. Ada juga yang bereaksi biasa saya karena merasa “29 sudah terlalu tua untuk urusan begituan. Mendingan yang pasti-pasti aja.”

Untuk mereka yang memberikan guyuran doa dan kangen pada saya, saya senang sekali. Semua lontaran dan respon yang kalian berikan menjadi asupan energi positif setiap kali saya memikirkan daftar demi daftar hal yang perlu diselesaikan selama masa tugas ini. Sekaligus juga asupan energi untuk menetralisir kenegatifan yang muncul juga akibat hal ini.

Untuk yang terlalu kangen dan berharap saya tidak kemana-mana, maaf. 29 adalah waktu untuk berbuat. Waktu dimana fisik dan mental saya berada dalam kondisi paling prima. Waktu dimana segala sesuatu wajib dilakukan dengan baik agar tidak meninggalkan sesal di masa depan. Waktu untuk memilih apa yang bisa saya lakukan dan perbuat untuk hidup saya, tanpa merugikan siapa-siapa.  Waktu untuk bertindak sedikit melewati pakem yang ada, demi mengukir 29 yang lebih baik.

IMG_4752.jpg
Bangkok, 20 Maret 2018

Bangkok, we’re going to nail you!