Sampai Jumpa Lagi

Bulan ini, saya merayakan banyak momen penting.

Satu, 3 tahun perjalanan saya dengan kantor sekarang.
Dua, saya merayakan ulang tahun pertama saya dengan kepala 3 akhir pekan ini.
Sehari setelahnya, saya akan menutup 3 tahun perjalanan saya di kantor ini.

Apa rasanya? Waw. Nano-nano, kalau kata penyiar radio. Manis, pedes, pahit, kalau dipikir malam-malam sebelum tidur, mules.

Tiga

Tiga tahun bertahan di kantor ini jadi rekor yang baik untuk saya. Saya masih inget banget ketidaktahuan yang dialami saat pertama bergabung. Kemudian, diberi tugas dadakan. Tak disangka, dengan serangkaian cerita naik turun, saya bisa menggenapi perjalanan saya hingga 3 tahun lamanya dengan beberapa pencapaian yang cukup menyenangkan.

Bagian ulang tahun masuk kepala tiga nggak gimana-gimana juga. Kalau ada yang berpikiran umur begitu harus sudah menikah karena a b c d, saya haturkan terima kasih atas pandangannya. Tapi, menikah itu soal waktu dan momentum. Kalau memang belum waktunya, tidak bisa dipaksa. Kalau sudah waktunya, tak usah kalian paksa pun jadi sendiri. Nikah mah gampang atuh. Lanjutinnya yang susah. Jadi, sekali lagi, untuk yang bilang bahwa kodratnya wanita adalah nikah atau di dapur, harap tonton pidato Meghan Markle tentang bagaimana seharusnya kamu berpikir tentang wanita. :).

Bagian akhir cerita di kantor ini setelah tiga tahun berjalan adalah jawaranya. Minggu lalu, saya berkumpul dengan teman-teman satu tim. Ada yang sudah setim bareng-bareng dari 3 tahun lalu, 2 tahun lalu, 1,5 tahun lalu, 1 tahun lalu, 3 bulan lalu, sampai 2 minggu lalu.

Dan, tentang inilah tulisan ini bermula…

Baik

Sebagai orang yang sangat peduli dengan kata orang, mendengar pendapat orang tentang apa yang mereka pikirkan tentang apa yang saya kerjakan selalu sangat berkesan. Baik yang buruk, maupun yang baik. Dan di malam-malam ngumpul kami, saya dibikin terbang dengan apa yang saya dengar dari mereka yang bekerja dengan saya.

“Kak Vinny seperti kakak, seperti ibu, baik, terbaik, sabar….” dan masih banyak lagi.

Selama acara dan usai acara, saya terus memikirkan apa yang teman-teman ini katakan. Yang indah-indah tentu bikin senang. Kalaupun ada pernyataan dibuat karena malam itu malamnya saya (jadi yang jelek-jeleknya nggak terungkap :D), saya tidak menyangka kalau apa yang saya lakukan sangat bisa diterima dengan baik. Apalagi bisa dianggap jadi teman dekat atau keluarga. Semakin dipikir, saya semakin sadar bahwa saya bisa seperti itu karena mereka semua. Kalau mereka nyebelin, nggak mungkin juga saya bisa tetap baik.

Kalian percaya teori “universe conspires“? Atau “3 teman terdekat kamu adalah kamu”? Entah benar entah tidak, tapi saya cukup percaya. Mungkin saya bukan teman terdekat mereka. Tapi frekuensi kerja yang panjang dari Senin sampai Jumat sebenarnya tanpa sadar membuat kami layaknya teman dekat.

Dari kedekatan yang tidak direncanakan ini, saya belajar menghadapi beragam tipe orang yang tak pernah saya jumpai sebelumnya. Apakah ada orang seperti mereka di luar kantor saya? TENTU. Jadi, kalau lain kali saya ketemu orang seperti mereka tempat baru saya, apakah saya bisa menghadapi mereka? YA IYA. Paling enggak, saya sudah punya referensi karena proses saya bekerja dengan mereka. Jadi, siapa yang harus berterima kasih? Saya.

Awal

Perjalanan itu soal belajar. Belajar memulai, belajar menjalani, belajar mengakhiri, belajar berpisah. Dari kalian, saya belajar itu semua. Bagian berpisah, akan terjadi seminggu lagi. Apakah saya sedih? Iya. Tapi, berpisah juga belajar. Saya harus belajar bahwa berpisah itu bukan akhir. Setelah berpisah, saya akan belajar memulai kembali.

Seperti saya yang akan belajar memulai kembali kehidupan baru tanpa kalian, belajar menjalani pekerjaan baru dengan orang-orang yang tidak seusia atau selucu dan segaul kalian, seperti itu juga kalian akan belajar untuk memulai hari tanpa ketemu saya di kantor dan menjalani pekerjaan kalian tanpa saya yang mengingatkan, atau saya yang baik pada kalian.

Terus jadikan besok lebih baik dari hari ini. Nanti kita jumpa lagi di hari lain dengan cerita perjalanan baru kita semua. Sekali lagi, terima kasih terbesar kepada kalian yang muncul di foto ini, kamu yang mendokumentasikan, dan sebagian dari kalian yang tidak bisa hadir. Sayang terbesar untuk kalian.

:’)

Farewell.jpeg

19 Maret 2018

Starting a new path in life at the edge of 29 can be good and bad things. This depends on who you are and what goals you’d like to achieve in life.

29 sudah terlalu tua… 

I’m living in a society where people take 29 as a VERY mature age (alias tua bingits!). Lingkungan ini melihat dua sembilan bukan sebuah angka yang harus dilalui dengan penuh ‘hura-hura’ (baca: mengejar karir, menjalani hobi, mengambil kuliah S2, dan sejenisnya). Apa yang patut dilakukan mereka yang berusia demikian? Settling down, tapaki tahap “selesai” dengan urusan karir, lupakan segala yang bersifat untuk kesenangan semata dan fokuskan kehidupan pada… jodoh.

29-lah waktunya berbuat!

Di saat yang sama, saya juga berada di lingkungan yang dengan penuh keyakinan bahwa inilah waktu paling tepat untuk melakukan segalanya. Satu tahun sebelum 30. Satu tahun sebelum semuanya menjadi semakin serius dan berat. Satu tahun sebelum menapaki kepala tiga. Usia matang-matangnya seseorang dengan karir. Usia untuk menentukan mana jodoh yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilepas.

29 versi saya

Adalah: waktunya untuk memanfaatkan segala waktu, kesempatan, keinginan, semangat, dan tenaga dengan maksimal. Iyes, lebih baik detik-detik menuju 30 ini diukir dengan sesuatu yang akan bernilai untuk saya. Sekalipun babak belur sana sini, versi saya menyebut fase ini harus dijalani dengan sungguh sangat baik.

Atas nama itu, saya pun tiba-tiba udah nggak di Jakarta aja. Tadi sore dalam perjalanan pulang dari kantor, tiba-tiba saya dan teman berucap, “Eh udah di Bangkok aja nih kita!” 

Banyak ucapan doa, selamat, turut bahagia, hingga kaget, yang datang dari teman-teman sekitar. Ada juga yang bereaksi biasa saya karena merasa “29 sudah terlalu tua untuk urusan begituan. Mendingan yang pasti-pasti aja.”

Untuk mereka yang memberikan guyuran doa dan kangen pada saya, saya senang sekali. Semua lontaran dan respon yang kalian berikan menjadi asupan energi positif setiap kali saya memikirkan daftar demi daftar hal yang perlu diselesaikan selama masa tugas ini. Sekaligus juga asupan energi untuk menetralisir kenegatifan yang muncul juga akibat hal ini.

Untuk yang terlalu kangen dan berharap saya tidak kemana-mana, maaf. 29 adalah waktu untuk berbuat. Waktu dimana fisik dan mental saya berada dalam kondisi paling prima. Waktu dimana segala sesuatu wajib dilakukan dengan baik agar tidak meninggalkan sesal di masa depan. Waktu untuk memilih apa yang bisa saya lakukan dan perbuat untuk hidup saya, tanpa merugikan siapa-siapa.  Waktu untuk bertindak sedikit melewati pakem yang ada, demi mengukir 29 yang lebih baik.

IMG_4752.jpg
Bangkok, 20 Maret 2018

Bangkok, we’re going to nail you!